Kolonel (Pur) PGO Noordraven, Bomber Indo yang Memilih Bergabung dengan AURI

Terlibat dalam lebih 20 misi selama Perang Pasifik, memberikan kesan yang mendalam kepada Kolonel (Pur) Petrus Getrudus Otto Noordraven. Noordraven menuturkan kisah perangnya beberapa tahun lalu.

Pagi baru saja berlalu ketika lusinan pembom B-25J Mitchell mulai meninggalkan pangkalan militer di Truscot di Australia. Armada B-25 terdiri dari 10 pesawat Skadron 18 Netherlands East Indies (NEI) dan Skadron 2 Royal Australia Air Force (RAAF).

Terlihat pula 10 pembom B-24 Liberator dari Skadron 21 RAAF. Pagi itu mereka ditugaskan menenggelamkan konvoi kapal perang Jepang yang diketahui memasuki perairan Kupang.

Informasi diperoleh dari hasil patroli dua pesawat Mosquito dari Photographic Reconnaissance Flight ke 87 RAAF di wilayah Kupang pada 5 April 1945. Laporan diperkuat oleh penglihatan awak PBY-5 Catalina Skadron 43 RAAF yang memergoki konvoi di Kupang.

Berdasarkan informasi dari dua pesawat itulah, sebuah armada kecil Jepang ini diketahui sudah memasuki wilayah laut Kupang. Untuk alasan inilah armada pengebom dikerahkan pagi itu, 6 April, untuk menghentikan konvoi yang dipimpin kapal penjelajah Isuzu.

“Kami di Darwin ketika datang perintah untuk segera pindah ke Truscott,” kata Noordraven. Kapal-kapal Jepang ini dideteksi Sekutu masuk ke wilayah Kupang pada jam dua tengah malam. Mereka terdiri dari kapal penjelajah Isuzu berbobot 5.700 ton, dua penyapu ranjau, dan sebuah kapal perusak (destroyer) ringan.

Menurut informasi, esok paginya iring-iringan kapal Jepang ini akan mencapai Pulau Roti. “Untuk itulah, siang itu kami bergerak ke Truscot guna mempersiapkan serangan esok paginya,” jelas Noordraven lagi.

Armada pembom NEI dipimpin Kapten J.G. Renaud, penerbang senior di kalangan NEI. Setelah semua mengudara, mereka membuat formasi masing-masing terdiri dari empat pesawat. “Saya berada pada posisi slot, di grup Renaud,” aku Noordraven.

Cuaca tidak terlalu bersahabat dengan pembentukan awan cumulonimbus di rute yang mereka lewati. Namun sekali-sekali tirai awan itu memecah. Kesempatan sekilas ini digunakan para penerbang untuk melihat ke bawah.

Mereka terbang pada ketinggian 10.000 kaki dengan kecepatan berkisar 200 IAS. Setelah mengambil arah pada koordinat 09.15 Selatan dan 120.40 Timur, Kapten Renaud memberitahu bahwa musuh sudah terlihat.

Sesuai prosedur pemboman, semua penerbang yang berada pada posisi buntut (slot) harus segera menyingkir ke bagian terluar dari wing man kiri atau kanan dengan ketinggian sedikit di atas formasi. Formasi ini dilakukan untuk mencegah kecelakaan dan menghindari bom menghantam pesawat teman sendiri.

Pesawat leader membuat zig-zag untuk memberi kesempatan kepada pembidik (bomb sight) menemukan jantung sasaran. Sedetik kemudian, ruang palka bom leader menganga. Kapten Renaud langsung melakukan bombing run selama 15 detik. Tindakan sang komandan segera diikuti pesawat-pesawat lainnya dengan memuntahkan bom-bom ke konvoi kapal Jepang.

“Kami melakukan carpet bombing dengan V Formation. Satu pesawat bawa delapan bom dan dua (B-25) full strafe,” ujar Noordraven. Walau Isuzu terlihat mengepulkan asap dan oleng, kapal itu tidak kehilangan kendali. Anjungan dan bagian tengahnya terlihat hancur dan terbakar.

Namun demikian, jelas sudah Isuzu mengalami kehancuran. Selama masa perang, Noordraven mengaku menjalankan sekitar 24-26 raid mission. “Kebanyakan shipping attack atau merusak jembatan,” ujarnya.

1 2 3 4Next page

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: