Demi Jasmerah, KSAU Kembali Cek Restorasi Cureng

Usai melantik Gubernur Akademi Angkatan Udara yang baru, Sabtu (12/8/2017), di Mako AAU, Yogyakarta, KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengajak para purnawirawan TNI AU yang tergabung ke dalam Paguyuban Purnawirawan TNI AU (PPAU) berkeliling Lanud Adi Sucipto.

Bolehlah disebut sebagai sikap penghormatan kepada para seniornya, tur kecil itu dimulai dari Mako AAU. Hadi yang memilih satu bus dengan para seniornya, didampingi oleh Komandan Lanud Adi Sucipto Marsma TNI Novyan Samyoga dan beberapa perwira tinggi TNI AU.

KSAU saat meninjau bunker. Foto: beny adrian

Tempat pertama yang dikunjungi adalah bunker peninggalan Belanda. Tidak hanya melihat dari luar, Hadi juga mengajak para seniornya masuk ke dalam. Di lingkungan Lanud Adi Sucipto memang terdapat sejumlah bunker yang digunakan tentara Belanda pada masa pendudukannya.

Memang tidak semua bunker dalam kondisi terawat. Beberapa dibiarkan saja karena memang bukan menjadi tempat tujuan wisata, seperti halnya Museum Pusat Dirgantara Mandala di dekatnya.

Bunker-bunker ini dengan mudah bisa dikenali jika Anda berkesempatan berkeliling Lanud. Karena di mulut lubangnya dibuat rumahan kecil sebagai penanda, yang beberapa di antaranya membentuk mulut ikan hiu.

Dari sini, KSAU mengajak rombongan PPAU meninjau restorasi pesawat Cureng (Yokosuka K5Y1) yang tengah berlansung di Skadron Teknik 043. Hanggar Skatek 043 tempat Cureng diperbaiki, berhadap-hadapan dengan shelter pesawat latih KT-1B Wongbee yang menjadi andalan tim aerobatik Jupiter TNI AU.

KSAU mengajak anggota PPAU melihat proses restorasi Cureng. Foto: beny adrian

Saat memasuki hanggar Skatek 043, Hadi terlihat surprise dengan kemajuan pengerjaan restorasi pesawat Cureng. “Cepat juga ya kerjanya,” kata Hadi spontan begitu melihat Cureng.

Beberapa saat yang lalu, dua hari sebelum peringatan Hari Bhakti TNI AU yang jatuh pada 29 Juli 2017, KSAU juga meninjau pekerjaan restorasi. Sehingga melihat kondisi hari itu, Hadi bisa langsung menyaksikan perbedaan kondisi pesawat dengan tanggal 27 Juli.

“Inilah pesawat bersejarah bagi TNI AU, menandai awal perjuangan kita dan tekad berjuang sampai mati,” ujar KSAU kepada rombongan.

Hadi pun menceritakan sekilas kepada rombongan PPAU alasan pemindahan Cureng dari Museum Satria Mandala di Jakarta ke Museum Pusat Dirgantara Mandala di Yogyakarta.

Baca: Besar Jasanya, TNI AU Akan Muliakan Monumen Cureng Sebagai Bukti Perjuangan

Menurut Hadi, pesawat Cureng ini harus mendapat perlakuan khusus karena merupakan pesawat pertama yang digunakan TNI AU pada masa awal kemerdekaan. Mulai dari penerbangan pertama dengan tanda Merah Putih, flypast saat airshow pertama di Yogya, terbang cross country ke beberapa wilayah hingga pengeboman tangsi Belanda di Jawa Tengah.

“Seorang kepala staf itu selalu meninggalkan sesuatu, KSAU nanti juga akan membuat sejarah, meninggalkan sesuatu yang hebat,” ucap Marsda (Pur) Imam Wahyudi kepada Hadi usai menerima penjelasan.

Baca: Hari Bakti TNI AU ke 70, Bukti Warisan Pendahulu yang Terus Abadi

Rombongan lalu berkeliling memutari pesawat Cureng yang sudah “ditelanjangi”. Beberapa bagian pesawat terlihat sudah direstorasi dan dicat ulang. Seperti kain terpal di sayap, sudah dipasang kembali. Begitu pun mesin-mesin, dibongkar, dibersihkan dan dicat ulang.

Anggota PPAU mendapat penjelasan dari KSAU latar belakang restorasi Cureng. Foto: beny adrian

Sembilan silinder mesin radial Cureng dijejer dalam kondisi bersih. Begitupun bagian lainnya seperti pipa-pipa exhaust dan bagian kanopi, sudah siap dipasang kembali.

Hadi terlihat senang dengan kemajuan pengerjaan yang begitu cepat dan rapi. “Semoga cepat selesai dan bisa segera kita pasang di Museum,” ujarnya singkat. “Ini namanya Jasmerah,” celetuk Hadi lagi sambil senyum.

Jasmerah adalah ungkapan yang pernah dilontarkan Presiden Soekarno, yang berarti “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”.

 

Teks: beny adrian

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: