56 Tahun Gerakan Pramuka, Salah Satu Organisasi Kepemudaan Tertua di Dunia

Tahukah Anda bahwa hari ini, 14 Agustus 2017 adalah hari Gerakan Pramuka Indonesia ke 56.

Ya, mungkin sebagian dari kita sudah melupakannya, namun dengan hari ini kita menjadi ingat kembali bahwa dulu kita pernah menjadi golongan Siaga, Penggalang, Penegak atau Pandega.

Scouting atau di Indonesia kita kenal dengan istilah Kepramukaan, dikembangkan oleh Lord Baden Powell sebagai cara membina kaum muda di Inggris yang terlibat dalam kekerasan dan tindak kejahatan.

Lord Baden Powell menerapkan scouting secara intensif kepada 21 pemuda dengan berkemah di Pulau Brownsea selama 8 hari pada 1907. Keberhasilan Baden Powell sebelum dan sesudah perkemahan di Brownsea ditulis dalam buku yang berjudul Scouting for Boy. Buku ini diterbitkan 24 Januari 1908.

Melalui buku inilah kepanduan berkembang di dunia.

 

Tema dan Logo Hari Pramuka 2017.

Keberadaan organisasi Kepramukaan di Indonesia bisa diendus dari sejak 1923, ditandai dengan didirikannya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung oleh Belanda. Pada tahun yang sama, di Jakarta didirikan juga Jong Indonesische Organisatie (JIPO).

Kedua organisasi inilah yang menjadi cikal bakal kepanduan atau kepramukaan di Indonesia. Keduanya dilebur oleh Belanda dan membentuk Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie di Bandung pada tahun 1926.

Pasca kemerdekaan Indonesia, Kongres I dilaksanakan pada 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia.

Pandu-pandu muda Indonesia pun terlibat dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Mereka pun ada yang gugur, seperti Soeprapto, ditembak Belanda pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Ia gugur sebagai Pandu.

Pandu juga dilarang Belanda di sejumlah daerah. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Kongres II dilaksanakan oleh Pandu Rakyat Indonesia di Yogyakarta pada 20-22 Januari 1950.

Pada kurun 1950-1960, organisasi kepanduan di Indonesia tumbuh semakin banyak jumlah dan ragamnya, bahkan di antaranya berafiliasi dengan partai politik.

Kondisi ini dinilai tidak efektif dalam mendukung pembangunan dan pendidikan generasi muda sesuai cita-cita luhur Lord Baden Powell.

Memperhatikan keadaan ini dan atas dorongan tokoh kepanduan saat itu dan bertolak dari ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960, Presiden Soekarno selaku mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 memberikan amanat kepada pimpinan Pandu di Istana Merdeka.

Soekarno merasa berkewajiban melaksanakan amanat MPRS untuk lebih mengefektifkan organisasi kepanduan sebagai satu komponen bangsa yang potensial dalam pembangunan bangsa dan negara.

Karena itu, Soekarno membubarkan organisasi kepanduan di Indonesia dan meleburnya ke dalam suatu organisasi gerakan pendidikan kepanduan tunggal bernama Gerakan Pramuka. Organisasi baru ini diberi tugas melaksanakan pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda Indonesia.

Kata Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana, yang berarti Jiwa Muda yang Suka Berkarya.

Gerakan Pramuka dengan lambang Tunas Kelapa dibentuk dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961.

Meskipun Gearakan Pramuka sudah ditetapkan dengan Keppres, namun secara resmi Gerakan Pramuka baru diperkenalkan kepada masyarakat pada 14 Agustus 1961 dalam sebuah acara apel besar dan defile di depan Presiden di Jakarta. Sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka ikut dalam acara ini.

Sesaat sebelum defile, Presiden Soekarno menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961. Panji diterima oleh Ketua Kwartir Nasional Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Sejak itulah 14 Agustus dijadikan sebagai Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka.

Perkembangan Gerakan Pramuka mengalami pasang surut dan pada kurun waktu tertentu kurang dirasakan pentingnya oleh kaum muda, akibatnya pewarisan nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Pancasila dalam pembentukan kepribadian kaum muda yang merupakan inti dari pendidikan kepramukaan tidak optimal.

Menyadari hal itu maka pada peringatan HUT Gerakan Pramuka ke-45 Tahun 2006, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka.

Pada 26 Oktober 2010, DPR RI mengabsahkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Berdasarkan UU ini, Pramuka bukan lagi satu-satunya organisasi yang boleh menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Organisasi profesi juga diperbolehkan menyelenggarakan kegiatan kepramukaan.

Keanggotaan Pramuka terdiri dari beberapa golongan sesuai usia.

Pramuka Siaga berusia dari 7-10 tahun, Pramuka Penggalang dengan usia 11-15 tahun, Pramuka Penegak dengan usia 16-20 tahun, dan Pramuka Pandega dengan usia 21-25 tahun.

Kelompok anggota yang lain yaitu Pembina Pramuka, andalan Pramuka, Korps Pelatih Pramuka, Pamong Saka Pramuka, Staf Kwartir, dan Majelis Pembimbing.

Salah seorang tokoh Pramuka yaitu H. Mutahar, menciptakan Hyme Pramuka bagi Gerakan Pramuka.

Lagu ini diciptakan pejuang kelahiran Semarang, 9 Agustus 1916 ini pada tahun 1964.

Sejak itulah, Hymne Pramuka menjadi lagu yang selalu dinyanyikan dalam upacara yang dilaksanakan Gerakan Pramuka.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: