Panglima TNI Beri Perhatian Soal Heli Serbu Fennec Hingga Medevac

Saat mengunjungi booth PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dalam perhelatan Singapore Airshow 2018 di Changi Exhibition Centre, Singapura, Kamis (8/2/2018) sore, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto bertemu dengan Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro dan jajaran direksi di antaranya Direktur Niaga Irzal Rinaldi dan Ludovic sebagai perwakilan Airbus Helicopter.

Banyak hal dibicarakan Panglima TNI yang didampingi Kapuspen TNI Mayjen TNI Sabrar Fadhilah dan Asisten Perencanaan Umum (Asrenum) Panglima TNI Laksda TNI Agung Prasetiawan.

Panglima TNI sangat menyadari bahwa keberadaan PTDI sangatlah penting dalam memenuhi kebutuhan pesawat dan helikopter bagi TNI.

Hal itupun sesuai dengan amanat undang-undang yang mewajibkan TNI untuk memenuhi kebutuhan alutsistanya dari dalam negeri, sejauh itu bisa dipenuhi.

Toh, selama ini TNI sudah melakukannya dengan mengoperasikan pesawat dan helicopter dari PTDI. Mulai dari Casa NC-212, CN-235, helicopter NBO-105 dan NBell-412 dalam berbagai varian.

Panglima TNI membahas kebutuhan pesawat dan helikopter untuk TNI. Foto: beny adrian

Pun dalam kaitan alutsista yang tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri, TNI yang mendatangkannya dari luar negeri, tetap menggandeng PTDI untuk alih teknologi. Terakir ini adalah dalam pembelian enam helikopter AS550 Fennec buatan Airbus Helicopter.

Dua dari enam helikopter ini adalah versi bersenjata alias heli serbu, yaitu AS550-C3 (single engine) yang ditempatkan di Skadron 12/ Serbu Pusat Penerbangan TNI AD di Waytuba, Lampung.

Helikopter dipersenjatai dengan peluncur roket FZ219 dan senapan mesin FN Herstal kaliber 12,7mm.

TNI AD sendiri memesan 12 Fennec dalam tiga varian yaitu AS550-C3 bermesin tunggal, AS555AP twin engine, dan satu unit AS350B3 Ecureuil. Menurut direksi PTDI dalam pertemuan itu, dua di antara Fennec ini sudah dipersenjatai dan dioperasikan oleh Puspenerbad.

Namun ditegaskan Panglima TNI bahwa sampai saat ini Puspenerbad belum pernah melaksanakan latihan penembakan menggunakan heli ini.

“Tapi prajurit saya belum nembak kan, itu yang mereka perlukan. Bagaimana bisa mereka mengoperasikannya jika belum pernah menembakkan,” ujar Hadi tegas.

Untuk itu Hadi meminta PTDI dan Asrenum bisa merealisasikannya secepat mungkin bagi Penerbad untuk melaksanakan latihan penembakan. Hadi juga menegaskan bahwa jika spesifikasi yang diminta adalah Heli Serbu, ya harus dipersenjatai.

“Jangan sampai heli serbu tapi akhirnya malah digunakan untuk angkut pasukan tok,” kata Hadi.

Dalam pertemuan itu juga dibahas dua jenis Fennec yang dioperasikan Puspenerbad saat ini, yaitu versi mesin tunggal dan dua mesin.

Berdasarkan aspirasi yang ditangkap Panglima TNI dari pengguna dan dibenarkan oleh PTDI, Puspenerbad membutuhkan heli bermesin tunggal yang dinilai memiliki kelincahan lebih tinggi dalam bermanuver.

Dalam hal ini tentu Puspenerbad sudah merasakan kelincahan NBO-105 yang puluhan tahun malang melintang mendukung operasi Puspenerbad. Panglima TNI meminta hal ini untuk diperhatikan.

Single engine itu memiliki agility (kelincahan) yang tinggi, sehingga bisa bermanuver di antara lekukan bukit, Penerbad butuh itu,” jelas Marsekal Hadi.

Hal lain yang mengemuka dalam pertemuan singkat namun padat itu adalah, Panglima TNI sangat concern dengan keselamatan pasukan di lapangan. Jika ada prajurit di lapangan mengalami sakit, luka tembak atau kondisi force majeur lainnya yang butuh evakuasi segera, harus bisa dilaksanakan.

Untuk itu Panglima TNI menyampaikan harapannya agar TNI memiliki helikopter Medevac (medical evacuation) yang ideal dan dedikasi penuh. Yaitu memiliki kelengkapan untuk melaksanakan misi evakuasi medis, sehingga jika ada prajurit terluka, jelas Hadi, bisa segera dievakuasi.

“Coba dibicarakan, heli yang cocok apa,” ujar Hadi yang meminta jika dimungkinkan, pengadaan heli Medevac ini bisa diberikan prioritas.

Untuk pengoperasiannya, Hadi meminta fleksibel saja disesuaikan dengan skadron yang sudah ada di TNI, yaitu siapa yang sudah berpengalaman dan terbiasa mengoperasikan jenis heli dimaksud.

Dari penelusuran mylesat.com di sejumlah situs, didapati sejumlah helikopter yang digunakan luas di kalangan sipil untuk keperluan medevac. Yaitu Bell-206, Bell-407, Bell-412, dan Bell-429. Juga ada AS350, BK117, EC130, EC145, AW109 dan 149 serta Sikorsky S-76.

Dirut PTDI Elfien Goentoro juga melaporkan bahwa selama di airshow ini, sudah ada sejumlah permintaan terhadap pesawat N219 Nurtanio.

Setidaknya tiga pesawat akan dipesan oleh pemerintah daerah yaitu dari Kalimantan Utara, Aceh, dan Papua. “Beberapa negara juga tertarik dan akan melakukan pertemuan untuk kelanjutannya,” jelas Elfien.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: