Tanggapi Langsung Permintaan Warga, Panglima TNI Perintahkan Penerbangan ke Krayan Minggu Depan

Masih dari rangkaian kunjungan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ke wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Kalimantan Utara (Kaltara), Desa Long Bawan di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, menjadi destinasi terakhir Panglima TNI dan Ibu Nanny Hadi Tjahjanto selaku Ketua Umum Dharma Pertiwi.

Ikut bersama Panglima TNI adalah Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan ibu, KSAD Jenderal Mulyono serta para asisten Panglima TNI dan Kapolri.

Sehari sebelumnya, Panglima TNI mengunjungi Pulau Sebatik yang terbelah menjadi dua atas nama Indonesia dan Malaysia. Di Sebatik, Panglima TNI mengunjungi pos polisi, pos AL, dan Patok 3 di pinggir sungai kecil yang memisahkan kedua negara.

Seperti halnya wilayah pegunungan, tidak mudah mencapai Desa Long Bawan. Kecamatan Krayan terletak di bagian barat Kabupaten Nunukan dan berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Sebagian besar penduduknya adalah warga pedalaman Kalimantan yaitu Suku Dayak Lundayeh.

Karena itu, Bandara Yuvai Semaring menjadi satu-satunya pintu masuk dan keluar paling cepat ke Krayan. Bandara yang terletak di Desa Long Bawan ini memiliki panjang landasan 1.300 meter, masih menyisakan 300 meter lagi untuk diperpanjang.

Panglima TNI dan Ibu Nanny didampingi ketua adat besar Dayak Lundayeh. Foto: beny adrian

Bagi TNI AU, Long Bawan meninggalkan kenangan pahit dari masa lalu. Sebuah pesawat C-130 Hercules T-1306 yang membawa prajurit RPKAD di bawah komandan Kapten Inf Kentot Harseno dalam Operasi Dwikora, tertembak pasukan sendiri dari bawah.

Hercules yang diterbangkan Mayor Pnb Soehardjo dan Kapten Pnb Erwin Santoso itu jatuh dan terbakar habis. Namun semua penumpang selamat karena sebagian sempat terjun dari pesawat.

Curhat warga Krayan

Setelah bermalam di Tarakan, pagi hari Kamis (29/3/2018), Panglima TNI dan rombongan bersiap menuju Krayan. Lima unit helikopter disiapkan untuk membawa rombongan ke tujuan. Yaitu satu unit EC725 Caracal, AS-330 Puma, Bell-412, Mi-17, dan sebuah AS365 Dauphin.

Heli pun terbang melintasi perbukitan hijau, yang dari atas terlihat hanya hutan lebat dengan pepohonan rapat. Begitu mendarat di Bandara Yuvai Semaring dengan ketinggian 1.500 kaki dari permukaan laut, angin dingin pegunungan langsung menerpa wajah. Segar sekali.

“Seperti di Swiss,” celetuk Marsekal Hadi begitu memandang ke sekitarnya. Penyambutan warga sangat luar biasa, mengingat jarang sekali pejabat nasional berkunjung ke Krayan.

Krayan terdiri dari lima daerah yaitu Krayan Hilir, Krayan Hulu, Krayan Tengah, Krayan Barat, dan Krayan Darat. Dari ketua adat besar Dayak Lundayeh, Panglima TNI, Kapolri, dan KSAD menerima gelar adat kehormatan.

Panglima TNI menerima gelar Pun Reneb Baweh, Kapolri menerima gelar Pun Balang Sangit, dan KSAD menerima gelar Pun Kuir Apad. Semua gelar ini melambangkan ketangguhan, kekuatan, kearifan, dan kegigihan dari seorang pemimpin dalam mempertahankan wilayahnya.

Panglima TNI memberikan bingkisan kepada anggota Polri di Krayan. Foto: beny adrian

Dalam sambutannya saat menerima Panglima TNI, kepala adat besar Suku Dayak Lundayeh di Krayan menyampaikan aspirasi masyarakat yang menginginkan percepatan pembangunan untuk membuka keterisolasian Krayan.

Kepala adat besar Dayak Lundayeh ini meminta bantuan Panglima TNI untuk bisa menerbangkan pesawat ke Krayan. “Sudah lima kali tender, tidak ada maskapai yang berminat terbang ke Krayan,” ujarnya.

Aspirasi senada disampaikan Camat Krayan Helmi Pudaaslikar. Menurutnya, pembangunan bandara harus menjadi prioritas untuk mempercepat pembangunan di Krayan. “Walaupun kondisinya masih perlu peningkatan terutama di landasan pacu agar dapat didarati pesawat seperti ATR 72,” urainya.

Untuk itu Helmi berharap Panglima TNI berkenan mengerahkan alutsista pesawat untuk membantu pengangkutan barang dan orang dari dan ke Krayan.

Apalagi pada April mendatang, Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) akan mengirim 50 praja Institut Pemerintahan Dalam negeri (IPDN) untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Krayan.

“Sampai saat ini kami masih mengupayakan transportasi pengangkutan mereka, kami mohon dapat dibantu alutsista TNI mengangkut praja IPDN ke sini,” harap Helmi.

Terkait tranportasi udara ini, Pemerintah Daerah sudah menyiapkan subsidi kepada maskapai yang menerima tender. mylesat.com sempat melihat papan nama Susi Air terpampang di dinding bagian belakang ruang tunggu bandara.

Selain mengharapkan segeranya dibuka rute penerbangan dari Tarakan atau Nunukan ke Krayan, ketua adat ini juga berharap jalan darat yang menghubungkan Krayan dengan Kabupaten Malinau sepanjang 200 kilometer segera dirampungkan.

Tak lupa kepala adat menyampaikan keinginannya untuk melihat putra-putri Krayan menjadi perwira TNI atau Polri.

“Tolong bantuannya merekrut putra-putri kami jika ada penerimaan taruna Akademi TNI dan Akpol. Tolong diadakan bimbingan dan pembinaan kepada putra putri kami supaya persiapan mereka cukup,” pintanya yang juga mengharapkan kedatangan Presiden Jokowi di Krayan.

Terkait banyaknya aspirasi warga yang disampaikan saat itu, Panglima TNI berjanji akan mencoba berkoordinasi dengan kementerian terkait. Menanggapi tingginya animo warga untuk menjadi perwira TNI dan Polri, Marsekal Hadi malah menyampaikan bahwa kesempatan itu terbuka luas, apalagi Camat Krayan adalah putra daerah yang lulusan IPDN.

Foto bersama Panglima TNI, Kapolri, KSAD dengan aparat TNI-Polri dan Wakil Gubernur Kaltara. Foto: beny adrian

“Ini satu contoh, Pak Camat sudah mampu mengenyam pendidikan di IPDN yang juga berat seperti Akademi TNI dan Akpol. Jadi saya yakin pemuda dan pemudi Krayan bisa diterima di Akademi, dengan syarat harus sehat jasmani dan rohani,” jelas Hadi.

Hadi tak lupa berpesan kepada pemuda pemudi untuk menjaga kesehatan, mengingat Krayan berada di daerah ketinggian yang memiliki kelembapan tinggi. “Paru-paru harus dijaga, jangan begadang dan naik motor malam hari,” ucapnya.

Panglima TNI malah langsung menyampaikan bahwa nanti Pangdam akan memberikan bimbingan kepada pemuda yang berminat menjadi anggota TNI dan Polri.

Begitu juga soal transportasi udara, Panglima TNI memberikan jawaban saat itu juga kepada seluruh warga yang hadir. “Minggu depan sudah mulai ada pesawat TNI masuk ke Krayan,” kata Panglima TNI mantap yang disambut ungkapan khas warga Dayak Lundayeh dengan meneriakkan wuuiiii secara bersama-sama.

“Nanti kami dukung transportasi dari Nunukan atau Tarakan ke Krayan menggunakan alutsista TNI. Namun saya minta sembako yang dikirim harus dari pemerintah ke pemerintah agar harga terjaga,” tambah Panglima.

Untuk merealisasikan penerbangan ke Krayan ini, Panglima TNI menjelaskan kepada warga bahwa harus ada studi kelayakan demi keselamatan penerbangan. Karena, kata Hadi, harus dipastikan bahwa landasan dan fasilitas pendukung yang ada siap menerima pergerakan pesawat.

“Saya bisa kerahkan CN235 atau bahkan Hercules jika memang memungkinkan,” tegas Hadi lagi.

Panglima sempat mengutip rencana penambahan satu Korem di Krayan untuk mengimbangi pembentukan Polda Kaltara. Hadi berharap penambahan Korem ini akan bisa memacu pertumbuhan ekonomi di Krayan.

Dalam sambutannya, Hadi berupaya membangun kepercayaan diri warga Krayan dalam membangun daerahnya. Meski wilayahnya di pegunungan dan sulit dijangkau, namun Krayan sudah memiliki modal besar untuk berkembang yang belum tentu dimiliki wilayah lainnya yaitu lapangan terbang.

Panglima TNI dan Kapolri beserta ibu, menyicipi kuliner khas Krayan. Foto: beny adrian

“Mari kita jaga bersama bandara ini dan akan saya ramaikan dulu dengan aset TNI dan setelah itu semoga mendatangkan pihak lain untuk terbang ke sini,” kata Marsekal Hadi.

Kepada seluruh warga Krayan yang hadir, Panglima TNI mengungkapkan rasa bangganya melihat begitu kuatnya rasa ke-Indonesia-an di Krayan.

Dalam kunjungannya yang harus dipersingkat mengingat cuaca mulai berubah, Panglima TNI dan Ibu Nanny Hadi Tjahjanto tak lupa memberikan bingkisan dan uang kodal kepada anggota TNI dan Polri yang berdinas di perbatasan.

Saat menjumpai anggota TNI dan Polri, Hadi berusaha menyapa satu per satu para prajurit TNI dan Polri sambil tak lupa menanyakan istri dan anak-anak mereka.

Kepada prajurit yang bertugas di daerah perbatasan, Hadi kembali menyampaikan bahwa pemerintah memberikan perhatian besar kepada prajurit melalui tunjangan perbatasan.

“Tunjangan daerah perbatasan itu besarnya 75 persen jika daerahnya berpenduduk, namun akan diterima 100 persen jika tidak ada penduduknya,” papar Marsekal Hadi.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: