Hankam

Lama Tidak Dilatihkan, TNI Akan Terjunkan Pasukan PPRC di Timika, Morotai, dan Selaru

Saat memimpin alih Kodal PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) TNI dari Divisi Infanteri I Kostrad kepada Divif II Kostrad di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang (23/2/2018), Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto kala itu meminta TNI AU untuk menyiapkan 14 pesawat C-130 Hercules guna mendukung latihan PPRC di bulan Mei 2018.

Maka mendekati hari H, kesiapan yang diminta Panglima TNI pun sudah mendekati harapan. Beberapa waktu lalu mylesat.com sempat menanyakan kesiapan Hercules kepada Komandan Koharmatau TNI AU Marsda TNI Dento Priyono.

Baca: Alih Kodal PPRC, Panglima TNI Siapkan 14 Hercules untuk Latihan Besar di Selaru

Ia mengatakan bahwa TNI AU siap mendukung permintaan Panglima TNI dengan menyiapkan pesawat sesuai yang dinginkan. “Mudah-mudahan bisa nyiapin 16, karena ada cadangan,” ujarnya.

Terkait rencana latihan PPRC TNI ini, Panglima TNI membuka gladi posko latihan PPRC TNI di Markas Divif II Kostrad di Malang, Jawa Timur, Senin (30/4/2018).

Latihan PPRC TNI kali ini dilaksanakan di tiga trouble spot yaitu di Timika, Morotai, dan Selaru. Selaru sendiri berada di Maluku Tenggara Bara.

Sekaligus usai memberikan taklimat kepada para perwira pelaku, pengendali, dan pengawas latihan, Marsekal Hadi meninjau posko Satgas.

Baca: Siap Gelar Latihan Skala Besar, PPRC TNI Laksanakan Briefing Pelaku

Dalam peninjauannya, Panglima TNI mendapat laporan kesiapan semua unsur yang akan terlibat dalam latihan.

Panglima TNI memberikan taklimat kepada pelaku latihan PPRC TNI. Foto: beny adrian/myesat.com

“Ini latihan di tiga trouble spot, yang selama sekian tahun baru sekarang kita lakukan lagi, sehingga segala permasalahan mulai dari saat persiapan, pelaksanaan, dan pengakhiran tentu ada. Nanti akan menjadi evaluasi agar tidak terulang dalam latihan tahun 2019,” urai Marsekal Hadi kepada awak media di Madivif II Kostrad.

Dalam taklimatnya kepada para perwira, Panglima TNI mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai tingkat kerawanan sangat tinggi.

Untuk itu, kata Hadi, Indonesia memerlukan daya yang tangguh dalam menghadapi setiap ancaman, baik yang berasal dari luar maupun dalam negeri.

Guna mewujudkan hal tersebut, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun kekuatan TNI sebagai komponen pertahanan yang tangguh.

“PPRC TNI sebagai salah satu satuan operasional TNI, memiliki tugas sebagai penindak awal, oleh karenanya dalam pelaksanaan latihan ini saya ingin melihat secara riil sampai sejauh mana PPRC TNI mampu melaksanakan tugas dihadapkan kepada skenario tiga trouble spot secara bersamaan,” tutur Panglima lagi.

Hasil latihan ini juga akan dijadikan bahan kajian untuk mengevaluasi segala kekurangan yang ditemui di lapangan. Baik untuk kemajuan latihan berikutnya maupun untuk menyempurnakan organisasi PPRC TNI.

Skenario latihan PRPC TNI kali ini mengasumsikan situasi perang di wilayah Maluku dan Papua akibat invasi negara Sonora yang didukung kelompok separatis bersenjata.

Karena itu presiden selaku panglima tertinggi angkatan perang, menyatakan keadaan darurat perang. TNI diperintahkan untuk menghancurkan Sonora yang berusaha merebut sebagian wilayah NKRI.

Pasukan di lapangan dan intelijen TNI juga telah mengendus pergerakan satu divisi Sonora. Namun divisi ini sudah mendapat tekanan dari komponen gabungan TNI unsur Kohanudnas, Koarmatim, dan Koopsau.

Sebagai upaya membendung gerak maju musuh, saat ini diasumsikan tengah berlangsung perang darat yang digelar oleh Koops TNI yaitu 16 Pattimura dan 17 Cendrawasih. Kedua komando teritorial ini bertugas menghambat gerak maju musuh sekaligus melokalisir.

Sonora dilaporkan juga tengah menggalang kekuatan dari simpatisan dan separatis dengan kekuatan satu resimen infanteri minus.

Dengan bantuan simpatisan ini, Sonora melebarkan palagannya di tiga tempat yaitu Morotai, Timika, dan Selaru. Namun melalui bombardir serangan udara dan laut, Sonora yang sudah terdesak relatif hanya mengandalkan gerakan pasukan darat.

Guna menghindari situasi di darat berkembang lebih buruk, Panglima TNI akhirnya memutuskan menerjunkan pasukan pemukul terkuatnya yaitu PPRC.

Kepada komandan PPRC, Panglima TNI memerintahkan penindakan secara cepat untuk menghancurkan musuh. PPRC hanya diberi waktu paling lama tujuh hari untuk menekan dan  menghancurkan musuh di Morotai, Timika, dan Selaru.

Sesuai konsepnya yang ringan dan cepat (light infantry), pasukan PPRC dikirim guna memberikan shock wave secara cepat sehingga memberikan efek strategis. Sementara itu, Komando Gabungan TNI menyiapkan eselon susulan berupa kekuatan yang jauh lebih besar.

Ada dua jenis operasi yang akan dilakukan oleh PPRC TNI. Merebut pangkalan udara di Morotai dan Timika, serta merebut tumpuan udara di Selaru.

Untuk latihan ini, Kostrad menurunkan Brigif 18 Kostrad beserta kekuatan pendukung lainnya dengan kisaran satuan setingkat divisi.

Sementara Paskhas akan menerjunkan dua Batalyon Komando, satu Baterai Hanud, dan satu Detasemen Matra. Kekuatan ini setingkat satu Wing Paskhas.

Panglima TNI juga memberikan penekanan kepada pelaku untuk menguji kemampuan interoperability antar satuan dalam operasi.

Sementara pasukan PPRC akan memberikan shock wave mematikan, elemen operasi lainnya baik di udara dan di laut (Kohanudnas, Armada, Koopsau) terus menjamin keunggulan penguasan medan masing-masing.

“Komando utama berada pada Panglima TNI dan komando operasional sepenuhnya pada komandan PPRC. Hari H dan Jam J ditentukan kemudian,” tegas Marsekal Hadi kepada seluruh pelaku di posko latihan.

Andai ada AWACS

Kepada seluruh pelaku, Panglima TNI meminta latihan dilaksanakan se-riil mungkin.

Pemilihan daerah penerjunan dan pelaksanaan penerjunan menjelang subuh di tempat yang jauh dan minim infrastruktur, juga dimaksudkan agar prajurit TNI merasakan latihan dalam situasi yang mendekati kenyataan.

“Wilayah kita sangat luas sehingga kita harus melatih pasukan apabila melaksanakan operasi penerjunan dari Hercules dengan kemungkinan melaksanakan penerbangan di atas empat jam,” ucap Hadi.

“Kalau kita latihan di tempat yang sudah tersedia semuanya, kita tidak akan terlatih,” kata Hadi.

Membaca kisah prajurit Kopassandha saat diterjunkan dalam Operasi Seroja di Dili, 7 Desember 1975, kondisinya memang memprihatinkan.

Dalam kondisi lelah, kurang tidur, minus asupan gizi dan rasa khawatir memasuki medan pertempuran, telah menimbulkan situasi dilematis saat itu. Meski penerjunan tetap dilaksanakan, namun kondisi prajurit sudah tidak maksimal.

Situasi itulah yang menjadi perhatian Panglima TNI, agar kondisi fisik dan mental prajurit tetap terjaga saat melaksanakan operasi. Tak kurang dari Kepala Pusat Kesehatan TNI Mayjen TNI Ben Yura Rimba, diminta Hadi untuk betul-betul memperhatikan hal ini.

“Tolong dokter perhatikan betul prajurit saya, bagaimana makanan dan kondisi mereka di lapangan,” kata Hadi.

Hadi juga sangat menyadari keterbatasan di lapangan yang pasti terjadi. Mulai dari kesiapan pangkalan udara, titik kumpul pasukan (marshailing area), komunikasi, dan sebagainya, yang menurutnya harus menjadi kajian untuk memenuhi latihan PPRC.

“Saya akan sampaikan kepada bapak presiden bahwa TNI akan melaksanakan latihan dengan tiga trouble spot, sehingga pemerintah tahu kebutuhan kita terutama masalah anggaran,” urai  Marsekal Hadi.

Saat meninjau posko latihan, Panglima TNI sempat melakukan video conference dengan pelaku yang berada di Timika, KRI Banjarmasin, Selaru, Morotai, dan Lanud El Tari di Kupang.

Dalam dialog santai dan ringan bersama prajurit melalui jaringan satelit itu, Panglima TNI tidak hanya menanyakan kesiapan jaringan komunikasi di lokasi tapi juga menanyakan hal-hal sederhana.

“Sudah mandi belum,” tanya Hadi yang dijawab spontan oleh prajurit di Selaru, “Siap, belum ijin.”

Memang air menjaidi persoalan di Selaru. Namun berdasarkan laporan prajurit ini, TNI sudah memasang pompa air untuk meningkatkan debit air karena jumlah pasukan yang datang terus bertambah.

Dari ketiga posko lapangan yang dihubungi Panglima TNI, semua mengaku belum menemukan kendala berarti di lapangan.

Posko latihan PPRC TNI sudah menerapkan manajemen jejaring komunikasi berbasis satelit dibantu BTS. Sehingga dari posko ini, pengendali latihan bisa langsung menghubungi pasukan di lapangan dengan menggunakan radio genggam (handy talkie).

Seandainya kita punya pesawat AWACS untuk latihan PPRC ini, tentu sangat bagus ya. AWACS bisa mengendalikan latihan dari udara baik ke kapal, darat, dan pesawat,” ujar Marsekal Hadi menyampaikan harapannya.

“Kita bisa menunjukkan performa terbaik jika mengetahui permasalahan. Prajurit akan profesional jika dilatih secara bertahap, bertingkat, dan berlanjut,” kata Hadi.

 

Teks: beny adrian

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close