Jiwa Patriot Pangeran Harry, Putra Mahkota yang Peduli Prajurit Cacat Karena Perang

0

Dunia menyaksikan pernikahan agung Henry Charles Albert David alias Pangeran Harry dengan wanita pilihannya Meghan Markle, Sabtu (19/5/2018).

Di mata publik dan media, Pangeran Harry memang sosok spesial. Untuk wanita pendampingnya, pun ia memilih seorang artis asal Amerika. Tidak hanya itu, Markle adalah orang pertama dari keturunan Afrika-Amerika yang menikahi keluarga kerajaan.

Harry memang menonjol. Tidak hanya untuk eksploitasi sosialnya yang terus diburu media Inggris, tetapi juga karier militernya yang cukup panjang. Inilah caranya untuk melayani negaranya, dan salah satu cara untuk menghindari incaran publik.

“Hanya sedikit orang di dalam helikopter, sehingga tidak ada yang bisa mengikuti kami,” candanya di akhir penugasan tempur empat bulannya di Afghanistan pada 2013. Hal itu diungkap Harry menyikapi ulah media yang dialaminya.

Harry memang menjadi penerbang heli serang AH-64 Apache. Kesenangannya menerbangkan helikopter disampaikannya kepada kakaknya, ayah, dan pamannya, yang semuanya belajar menerbangkan helikopter militer.

Menjadi anggota militer tidak diharuskan bagi anggota keluarga Kerjaaan Inggris. Namun keinginan untuk keluar dari sorotan media menjadi alasan kuat Pangeran Harry menjadi tentara.

Tepat sebelum penugasan keduanya ke Afghanistan pada 2012, foto-foto telanjang Pangeran Harry di Vegas muncul di media.

“Ayah (Pangeran Charles) selalu mengingatkan tentang siapa saya,” katanya kepada Guardian di Afghanistan.

Namun dengan menjadi tentara, Harry merasa begitu bebbas. “Sangat mudah melupakan siapa saya ketika saya di tentara. Semua orang memakai seragam yang sama dan melakukan hal yang sama. Saya bergaul dengan baik dengan para prajurit dan saya menikmatinya. Sesederhana itu,” akunya.

Pada April 2006 setelah menyelesaikan pendidikan militer di Sandhurst, diumumkan bahwa unitnya Household Cavalry’s Blues and Royals diberangkatkan ke Irak. Sontak, semua media Inggris memperdebatkan kebijaksanaan mengirim sosok yang begitu istimewa ke garis depan.

Pasalnya, tidak ada anggota kerajaan Inggris yang bertugas di medan tempur sejak pamannya, Pangeran Andrew dikirim ke Perang Falklands. Harry bersikukuh bahwa jika unitnya dikirim, ia ingin berada di sana bersama rekannya.

Meskipun Jenderal Angkatan Darat Inggris setuju penugasan Harry, keputusan itu akhirnya dibatalkan.

Alasannya, militer takut Harry akan menjadi target serangan. Tidak hanya Pangeran Harry, kehadirannya juga dikhawatirkan akan meningkatkan risiko lebih tinggi bagi prajurit lainnya.

Apalagi beredar laporan, Osama bin Laden menaruh perhatian khusus atas kehadiran Harry di Irak.

Perwira Household Cavalry pada saat itu menjelaskan, tugas Harry adalah sebagai JTAC (Joint Terminal Attack Controller) untuk mengoordinasikan serangan udara.

Beberapa tahun kemudian, wartawan Telegraph John Bingham menulis telah melihat Harry di tempat tugasnya.

Harry menonton di televisi saat seorang pria berlari untuk berlindung dari serangan jet tempur. Sebulan kemudian, Harry menembakkan senapan mesin kaliber .50 ke posisi Taliban untuk pertama kalinya.

Jenderal AD Inggris memberikan Pangeran Harry posisi baru sebagai kopilot sekaligus gunner heli serang Apache. Posisi ini, menurut para jenderal, lebih tidak berisiko daripada sang pangeran harus bertempur di darat seperti sebelumnya.

Oktober 2008, diumumukan rencana Harry untuk menjadi penerbang helikopter. Harry meraih status combat ready pada Mei 2010.

Pada April 2011, Harry mendapat kenaikan pangkat menjadi kapten. Lalu pada September 2012, ia dikirim ke Camp Bastion di selatan Afghanistan bersama 662 Squadron, 3 Regiment Army Air Corps untuk masa penugasan 20 minggu.

Di akhir karier militernya ia diperbantukan kepada Australian Defence Force. Masa kedinasan Harry di AD Inggris berakhir tahun 2015.

Sebagai prajurit, Pangeran Harry juga memperoleh sejumlah bintang jasa.

Pada 2002, ia memperoleh Queen’s Golden Jubilee Medal yang diberikan kepada prajurit yang berdinas aktif pada 6 Februari 2002 selama lima tahun.

Pada 2008, diberikan Afghanistan Operational Service Medal untuk penugasannya di garis depan (frontline) di Provinsi Helmand.

Lalu pada 2012, memperoleh Queen’s Diamond Jubilee Medal. Medali ini diberikan kepada semua prajurit dalam peringatan 60 tahun sang nenek Ratu Elizabeth memegang tahta.

Meski sudah pensiun dari dinas aktif, perhatiannya kepada prajurit tidak berhenti. Ia melihat banyak prajurit pulang dalam kondisi terluka parah dan cacat.

Di benak Harry juga tak hilang bayangan anak-anak yang tercabik-cabik perang, prajurit yang dihantam bom, dan perjuangan hidup mereka di meja operasi karena terluka hebat. Semmua dilihatnya dalam penugasan pertama di Afghanistan (2007-08) dan penugasan kedua (2012-13).

Pengalaman di medan perang itu mengubah kepribadian Harry. Ia tidak bisa meninggalkan begitu saja prajurit yang cacat.

Karena itu di tahun 2013, Harry menggagas Invictus Games, yaitu lomba semacam Paralimpic yang diikuti oleh prajurit yang cacat karena perang.

Pertandingan pertama berlangsung di London pada 2014 dan dihadiri David Cameron, Pangeran Charles, dan Pangeran William. Sydney, Australia akan menjadi tuan rumah tahun 2018, dan 17 negara dijadwalkan berpartisipasi.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply