Peluang Masih Terbuka, IAMSA Gandeng AAT untuk Penyediaan Fasilitas Pemeliharaan Pesawat

Semakin banyaknya jumlah pesawat yang dioperasikan maskapai penerbangan nasional dan regional, ternyata tidak diikuti oleh tumbuhnya industri perawatan dan pemeliharaan pesawat di dalam negeri.

Padahal selama 2018 saja, dari 1 miliar dolar AS dana yang dikucurkan operator untuk pemeliharaan pesawat, hanya 30 persen yang diserap pelaku industri perawatan dan pemeliharaan pesawat nasional.

Selebihnya yaitu 70 persen, dibawa operator ke fasilitas MRO (Maintenance Repair and Overhaul) di luar negeri.

Hal itu diungkap Ketua Umum IAMSA (Indonesia Aircraft Maintenance Service Association) Rowin Hardjoprakoso Mangkoesoebroto saat mengukuhkan kerjasama IAMSA dengan PT Asia Aero Technology (AAT) di sekretariat IAMSA di komplek Universitas Suryadarma, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (11/3/2019).

IAMSA merupakan asosiasi MRO (Maintenance Repair and Overhaul), yakni asosiasi pemeliharaan dan perbaikan pesawat serta komponennya yang saat ini beranggotakan 30 perusahaan MRO di Indonesia.

Sedangkan AAT adalah perusahaan swasta nasional yang berkonsentrasi di bidang general aviation terutama dalam hal mengelola general aviation di sebuah bandara. AAT berkantor pusat di Lapangan Terbang (Laptera) Wiladatika, Cibubur.

Lewat kerja sama (MoU) ini, AAT diberi kepercayaan dalam hal penyediaan fasilitas pemeliharaan pesawat untuk semua anggota IAMSA di seluruh Indonesia. Yaitu berupa fasilitas hangar.

Menurut Rowin yang merupakan CEO dari PT Merpati Maintenance Facility (MMF), bicara pemeliharaan pesawat tidak terlepas dari ketersediaan hangar. Ia mengakui jumlah hangar yang tersedia di dalam negeri masih sangat kurang.

Ditambahkannya, guna meningkatkan daya serap industri MRO dalam negeri dari 30 persen menjadi 70 persen, setidaknya dibutuhkan empat aspek. Yaitu tersedianya fasilitas hangar, workshop, tools, dan skill.

“Bagaimana kita mau kompetitif jika fasilitas saja tidak maksimal,” ujarnya.

Industri MRO Indonesia juga harus lebih banyak mencari peluang baru. Dicontohkan Rowin peluang yang dilirik MMF dalam pameran Indo Defence tahun kemarin.

Ia ceritakan peluang perawatan pesawat MD family dari sebuah negara Afrika, yang biasanya mengirim pesawatnya ke Perancis. “Saya bilang, kita mampu melakukannya, dan tentu secara man hours, dengan kita akan jauh lebih murah,” urainya.

Untuk itu Rowin kembali mengimbau adanya pihak-pihak termasuk pemerintah, yang mau membangun aerospace park sebagai kawasan perawatan pesawat terpadu.

Dengan adanya perawatan pesawat terintegrasi, asosiasi jasa penyedia layanan perawatan pesawat meyakini bisa meminimalkan jumlah belanja perawatan pesawat ke luar negeri.

Sekadar informasi, aerospace park adalah peluang bisnis yang sudah lebih dulu dilirik negara tetangga. Seperti Seletar Aerospace Park (SAP) di Singapura dan Malaysia International Aerospace Center (MIAC).

“Ini peluang yang bisa diambil oleh AAT, mulai dari mendesain, membangun, dan mengoperasikannya,” urai Rowin sambil melirik CEO AAT Bagas Adhadirgha.

Teks: beny adrian

Tags

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: