MYLESAT.COM – Bolehkah pesawat tempur sehebat F-16 Fighting Falcon dimiliki swasta? Ternyata boleh, buktinya perusahaan penerbangan swasta Top Aces dikabarkan membeli jet tempur F-16 bekas pakai Israel.
Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, 29 F-16. Jumlah yang melebihi pesawat sejenis yang pernah dibeli TNI AU beberapa tahun lalu.
Top Aces adalah perusahaan internasional yang mengoperasikan armada pesawat tempur untuk keperluan latihan. Jasa mereka disewa oleh sejumlah negara.
Beberapa portal berita melaporkan bahwa kesepakatan membeli 29 jet yang telah digunakan Angkatan Udara Israel itu sudah disetujui oleh Departemen Luar Negeri AS dan pemerintah Israel sendiri.
Pejabat Top Aces mengonfirmasi bahwa perusahaannya akan membeli penempur generasi ke-4 dan telah menerima persetujuan untuk memperoleh dan mengimpor hingga 29 F-16 dari negara yang dirahasiakan.
“F-16 benar-benar merupakan platform kami untuk masa depan yang terus tumbuh, terutama untuk latihan tingkat lanjut,” kata Paul Bouchard, presiden dan pejabat eksekutif Top Aces.
Bouchard menyinggung besarnya populasi F-16 di seluruh dunia dan ketersediaan suku cadang yang banyak. Sehingga sangat mendukung secara bisnis untuk ke depannya.
F-16 juga disebutkannya menjadi pesawat yang paling banyak dipilih untuk dijadikan “musuh”. Tentu karena kemampuannya yang luar biasa.
Jika kesepakatan dengan Israel dikonfirmasi, 29 F-16 akan memperkuat armada Top Aces yang sudah dioperasikan selama ini. Terdiri dari Dornier Alpha Jet, Douglas A-4N Skyhawk, dan Bombardier Learjet 35A. Nantinya pesawat F-16 ini akan ditempatkan di F-16 Center of Excellence di dekat kantor pusat perusahaan AS di Mesa, Arizona.
Top Aces merupakan perusahaan swasta yang memberikan paket pelatihan kepada personel angkatan udara dan pelatihan dukungan armada.
Penting juga untuk dicatat bahwa Israel telah mencoba menjual 12 jet tempur F-16 Barak ke Kroasia. Namun sejauh ini kesepakatan itu diveto oleh Amerika.
Keberatan Washington adalah meminta Israel untuk mencopot beberapa bagian pesawat yang sudah ditingkatkan kemampuannya.
Sementara pihak Kroasia sejatinya memang mengincar sistem elektronik dan radar canggih yang terpasang di F-16 Israel. Sebaliknya Kroasia tidak berminat dengan tawaran F-16 dari AS atau Yunani.
Di website resminya, Top Aces menjelaskan bahwa perusahaannya telah mencatat rekor keselamatan tinggi dalam memberikan jasa pelatihan perang udara kepada negara klien.
Catatan keselamatannya tak tertandingi, didukung tim yang hebat, dan pelatihan operasional 80.000 jam lebih di industri iin.
Top Aces adalah perusahaan swasta yang menyediakan program perang udara dalam posisi aggressor (musuh) untuk angkatan udara Kanada dan Jerman.
Untuk mendukung profil perusahaan, perusahaan mempekerjakan tim yang terdiri dari lebih 270 personel yang sangat terampil.
Diakui memiliki lebih dari 40 penerbang tempur berpengalaman dari Kanada, Jerman, dan Amerika Serikat.
Sebanyak 80% di antaranya adalah lulusan Top Gun Fighter Weapons School yang sangat bergengsi.
Top Aces memberikan jasa pertempuran udara, terdiri dari Air-to-Air, Air-to-Ground, Naval & Air Defence, serta Test & Evaluation Special Missions.
KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo pernah mengungkapkan keinginannya untuk mengirim penerbang TNI AU mengikuti kursus FWIC (Fighter Weapons Instructor Course) di luar negeri.
Sepertinya Top Aces bisa dijadikan salah satu referensi.