MYLESAT.COM – “Saya sampai sekarang belum lihat orang yang profesionalismenya, dedikasinya, militansinya, pengetahuannya, dan semangatnya seperti beliau. Bagi saya Dento itu teknisi sejati. Teknisi bagus itu iramanya sejalan dan sehati dengan operasi.”
Kutipan Marsekal (Purn) Yuyu Sutisna (hal. 149) yang menjabat sebagai KSAU semasa itu, sudah cukup mewakili penjelasan sosok Marsda TNI Dento Priyono.
Marsekal Yuyu tahu pasti seperti apa karakter temannya ini. Sama-sama alumni AAU 86, Yuyu sudah merasakan sepak terjang Dento semasa kedinasan sejak sama-sama berdinas di Lanud Iswahjudi, Madiun (hal. 101).
Buku yang baru saja terbit dan bisa diperoleh di Toko Buku Gramedia ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Buku “Marsda TNI Dento Priyono Perwira Teknik Dengan Sejuta Inovasi terdiri dari 284 halaman plus 12 halaman pembuka.
Diakui Marsda Dento kepada saya sebagai penulis, niatnya tulus untuk menerbitkan buku dengan harapan bisa dijadikan motivasi dan pembelajaran bagi generasi muda. “Khususnya anggota teknik TNI AU, semoga bisa dijadikan motivasi,” ujar Dento.
Banyak sekali informasi bisa ditemukan di dalam buku yang dibanderol seharga Rp 69.000 ini. Sejak dari masa kecilnya di Desa Mojolegi, Boyolali, Dento sudah menunjukkan semangat pantang menyerah. Kerja keras, gigih, dan penuh motivasi, menjadi bekal yang diwariskan orang tuanya yang berjualan kerupuk rambak.
Letda Tek Dento mengawali kariernya sebagai perwira teknik di Skadron Udara 12, Lanud Pekabaru, Riau. Saat itu Skadron 12 mengoperasikan pesawat A-4 Skyhawk.
Namun jika kembali ke masa-masa pendidikan di AAU, seharusnya Dento masuk ke dalam kelompok penerbang. Namun sebuah kecelakaan menimpa Sermadatar Dento Priyono yang berboncengan dengan temannya Sermadatar Fachru Zaini (hal. 27).
Dento tidak menyesali kecelakaan itu. Sebaliknya dia malah bersyukur. Karena masa pemulihan tiga bulan membuatnya tidak bisa mengikuti pendidikan.
“Saya tidak menyesal tidak jadi penerbang, yang penting saya tidak dikeluarkan saja sebagai taruna sudah senang karena posisi dari Tingkat 3 menuju 4 itu sangat kritis,” ungkap Dento (hal. 29).
Tekanan yang begitu hebat dialami Dento selama di Skadron 12. Setiap hari bersama anggota Teknik lainnya harus berjibaku menyiapkan pesawat A-4 Skyhawk agar bisa dipakai besok paginya.
Setiap hari seperti itu, ngoprek pesawat sampai malam, berkali-kali selama bertahun-tahun. Seloroh anggotanya, kalaulah ada wing lembur, Dento adalah orang yang paling utama menerimanya.
Namun dari tempaan yang begitu keras dan berat di Skadron 12, sebaliknya disyukuri Dento. Diakuinya, kalaulah tidak di Skadron 12 mungkin ia tidak akan terbentuk seperti sekarang.
Perjalanan kariernya sebagai perwira teknik sangatlah lengkap. Semua jabatan teknik mulai dari tingkat skadron hingga Depohar, pernah dipegang Dento. “Tanya Dento, jabatan apa yang dia tidak pegang selama di TNI AU, dan itu dibarengi pribadinya yang kuat,” kata Yuyu (hal. 194).
Puncak karier Dento adalah berhasil menjadi Komandan Koharmatau (2018-2020). Jabatan idaman setiap perwira teknik TNI AU.
Sebelum menjadi Dankoharmatau, Dento dipercaya menjadi Kadisaero. Saat itulah ia mendapat kepercayaan yang begitu besar dari KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Yaitu memindahkan pesawat A-4 Skyhawk TT-0438 dari Makassar ke Museum Satria Mandala, Jakarta.
“Saya lakukan perintah Pak Hadi untuk memindahkan pesawat A-4 Skyhawk ke Jakarta sampai akhirnya total memindahkan dan merestorasi 31 pesawat ke museum dan tempat-tempat lainnya,” ungkap Marsda TNI Dento Priyono (hal. 195).
Pekerjaan memindahkan dan merestorasi pesawat ini dikerjakan Dento hingga menjadi Dankoharmatau.
Pekerjaan memindahkan pesawat ini sempat viral di media sosisal. Tepatnya saat memindahkan pesawat C-30B Hercules dari Bandung ke Yogyakarta. Pada akhirnya, proses ini menambah koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala melonjak pesat.
Dari semula 43 koleksi, sekarang sudah mencapai 60 pesawat dengan yang terakhirnya datangnya pesawat N250 (hal. 230).
Sangat banyak keberhasilan dicapai Dento yang semuanya dilaksanakan atas perintah atasannya. Yaitu Marsekal Hadi Tjahjanto dan Marsekal Yuyu Stuisna, yang sama-sama alumni AAU 86. Dengan dedikasi luar biasa ditopang inovasi dan kreativitas yang tinggi, Dento tidak pernah mengeluh menerima begitu banyak perintah dari KSAU.
“Semua bisa dilakukan asal kita mau, tidak ada yang tidak bisa,” ujar Dento suatu hari.
Termasuk keberhasilan Dento dan tim teknisi TNI AU yang hampir saja menghidupkan kembali pesawat K5Y1 Churen. Baling-baling sudah di-balancing, mesin sudah diperbaiki.
“Sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan rupiah, meski keluar uang tapi ada nilai sebagai orang teknik mampu menghidupkan pesawat tua,” aku Dento (hal. 217).
Terima kasih TNI Angkatan Udara yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkarya. Memberikan apa yang saya punyai secara khusus untuk TNI AU dan Bangsa Indonesia secara lebih luas. Rasanya saat ini hanya ada perasaan plong, karena saya akan meninggalkan almamater dengan satu kata: kebanggaan! (hal. xi).
Saat ini Marsda TNI Dento Priyono menjabat sebagai Asisten Logistik Panglima TNI.