MYLESAT.COM – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyetujui kemungkinan Penjualan Militer Asing (FMS) kepada Jepang untuk pesawat E-2D Advanced Hawkeye (AHE) Airborne Early Warning and Control (AEW&C). Nilainya diperkirakan menembus angka 1,381 miliar dolar AS.
Terkait persetujuan itu termasuk peralatan pendukung pesawat, modifikasi, suku cadang dan perbaikan, peralatan pendukung, publikasi dan dokumentasi teknis, perangkat lunak, alat pelindung diri, pelatihan personel dan peralatan pelatihan, jaminan feri, serta elemen logistik dan dukungan program terkait lainnya.
Penjualan yang diusulkan itu akan meningkatkan kemampuan Jepang untuk secara efektif menyediakan pertahanan dengan menggunakan kemampuan AEW&C. Jepang akan menggunakan pesawat E-2D AHE untuk memberikan kesadaran situasional AEW&C atas aktivitas udara dan laut di kawasan Pasifik dan untuk menambah armada AEW&C E-2C Hawkeye yang sudah ada.
Jepang tidak akan kesulitan untuk menyerap peralatan ini ke dalam angkatan bersenjatanya. Kontraktor utamanya adalah Northrop Grumman Corporation Aerospace Systems, Melbourne, FL.
Berikut daftar permintaan pembelian dari Pemerintah Jepang:
- Hingga lima pesawat E-2D.
- 12 mesin T56-A-427A (10 terpasang, 2 suku cadang).
- 6 Multifunction Information Distribution System Joint Tactical Radio System Terminals (5 terpasang, 1 cadangan).
- 5 Radar APY-9 (terpasang).
- 5 Integrated Navigation Control and Display Systems AN/AYK-27 (terpasang).
- 12 LN-251 LN-251 Embedded Global Positioning Systems/Inertial Navigation Systems dengan Embedded Airborne Selective Availability Anti-Spoofing Module atau M-Code Receiver (10 terpasang, 2 cadangan).
- 6 ALQ-217 Electronic Support Measures Systems (5 terpasang dan 1 cadangan).
Northrop Grumman E-2 Hawkeye adalah pesawat peringatan dini udara taktis (AEW) buatan AS yang mampu beroperasi di segala cuaca. Pesawat twin-turboprop ini dirancang dan dikembangkan pada akhir 1950-an dan awal 1960-an oleh Grumman Aircraft Company untuk Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai pengganti E-1 Tracer bermesin piston.
Versi utama keempat dari Hawkeye adalah E-2D, pertama terbang pada 2007. Versi E-2 terbaru adalah E-2D Advanced Hawkeye yang dilengkapi perangkat avionik yang sama sekali baru. Termasuk radar AN/APY-9, perangkat radio, komputer misi, komunikasi satelit terintegrasi, sistem manajemen penerbangan, mesin T56-A-427A, kokpit kaca, dan pengisian bahan bakar di udara.
Varian Hawkeye telah diproduksi secara terus menerus sejak 1960, menjadikannya sebagai pesawat berbasis kapal induk dengan masa produksi terpanjang. E-2 juga mendapat julukan “Super Fudd” karena menggantikan WF (kemudian E-1) “Willy Fudd”.
Pasukan Bela Diri Udara Jepang membeli 12 pesawat E-2C untuk meningkatkan kemampuan peringatan dini. E-2C mulai beroperasi dengan Airborne Early Warning Group (AEWG) di Pangkalan Udara Misawa pada Januari 1987.
Pada 21 November 2014, Kementerian Pertahanan Jepang secara resmi memutuskan untuk membeli Hawkeye versi E-2D. Pada Juni 2015, pemerintah Jepang meminta untuk membeli empat E-2D melalui FMS. Lalu pada September 2018, Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan (Defense Security Cooperation Agency – DSCA) memberi tahu Kongres tentang kemungkinan penjualan hingga sembilan E-2D ke Jepang.
Penjualan hingga lima E-2D untuk JASDF telah disetujui Departemen Luar Negeri AS, dan DSCA memberi tahu Kongres pada 7 Maret 2023.
Penjualan mencakup peralatan tambahan, suku cadang, dan dukungan pelatihan dengan nilai sekitar 1,38 miliar dolar AS. Lima E-2D yang diusulkan merupakan tambahan dari enam E-2D yang telah dimiliki Jepang dan tujuh E-2D yang sedang dipesan.
Namun Kementerian Pertahanan Jepang tidak mengungkapkan dalam usulan anggaran terbarunya tentang niat untuk membeli lebih banyak pesawat.
Sejauh ini diberitakan bahwa Indonesia masih on the track untuk bisa mengoperasikan pesawat berkemampuan Airborne Early Warning and Control (AEW&C). Hingga saat ini TNI AU hanya mengoperasi tiga pesawat Boeing B737-200 2X9 Surveillance di Skadron Udara 5.
Pesawat yang dioperasikan sejak tahun 1980-an ini dilengkapi radar pengamatan permukaan Motorola SLAMMR (Side Looking Airborne Modular Multi Mission Radar). Sesuai namanya, radar bekerja dengan menyapu target di permukaan secara menyamping. Teknologi yang sangat canggih pada masanya.
Untuk meningkatkan kemampuannya, B737 TNI AU ini kemudian mendapat tambahan radar intai AN/APS-143C(V)3 OceanEye buatan Telephonics dengan kamera resolusi tinggi WESCAM MX-20HD Electro Optical and Infrared (EO/IR) buatan L3 Communications dan AIS (Automatic Identification System).