Bersama Dassault Falcon 8X Merasakan Sensasi Private Jet dan Terbang di Pesawat Tempur

0

MYLESAT.COM – Pesawat jet Dassault Falcon 7X A-0707 dan Falcon 8X A-0808 sudah memperkuat Skadron Udara 17, Lanud Halim Perdanakusuma sejak diresmikan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada Rabu, 28 Desember 2022. Penerbangan jarak jauh pun sudah dilaksanakan.

Baca Juga: 

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo bersiap boarding dalam penerbangan ke Lanud El Tari dengan Falcon 8X A-0808 Skadron Udara 17 dari Lanud Halim Perdanakusuma. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Ketibaan pesawat di Jakarta pun setelah menempuh penerbangan jauh dari Dubai, Uni Emirat Arab. Kedua pesawat interim (pinjaman antar waktu) ini diterbangkan dari Perancis ke Dubai pada 26 Desember 2022.

“Hari ini kita berbangga, ada kekuatan tambahan untuk TNI AU. Dua pesawat yang kita sebut pesawat Kodal (Komando Pengendalian) ini diperuntukkan bagi unsur pimpinan sehingga dapat dengan cepat bergerak dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya,” ujar Menhan Prabowo saat menyerahkan kedua pesawat di hanggar Skadron Udara 17.

Sesuai spesifikasi teknisnya, Falcon 7X dan Falcon 8X (juga Falcon 900) memang didesain dan diproduksi Dassault untuk melaksanakan misi spesial terbang jarak jauh (ultra long range). Secara kasat mata bisa terlihat dari penggunaan tiga mesin (trijet) di belakang.

Ketiganya adalah largest business jets yang saat ini dibuat Dassault dan mampu melaksanakan penerbangan lintas samudera tanpa masalah. Pun memiliki ruang yang cukup untuk mengakomodasi kelompok kecil hingga 12 orang saja.

Mayor Pnb Rahmat Saputra dan Lettu Pnb Priandaru Agung Nugroho saat menerbangkan Falcon 8X A-0808 dari Jakarta ke Kupang. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Sejak dioperasikan Skadron Udara 17, Falcon 8X setidaknya sudah melaksanakan tiga kali misi penerbangan jarak jauh. Yaitu ke Wamena, Canberra di Australia, dan Kupang.

Beruntung dalam misi penerbangan ke Lanud El Tari di Kupang, Nusa Tenggara Timur, mylesat.com mendapat kesempatan spesial dari KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo untuk ikut dalam penerbangan.

Hari itu, Minggu, 19 Maret 2023, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo beserta istri melakukan kunjungan kerja ke Lanud El Tari, Kupang. Bersama KSAU, ikut di dalam pesawat Panglima Koopsudnas Marsdya TNI Tony Harjono beserta istri serta Ketua Harian Yasarini Ny. Gustaf Brugman dan Ny. Tedi Rizalihadi.

Dalam penerbangan dari Lanud Halim Perdanakusuma ke Lanud El Tari, pesawat diterbangkan oleh Mayor Pnb Rahmat Saputra dan Lettu Pnb Priandaru Agung Nugroho. Ditambah dua pramugari dan satu teknisi. Soal teknisi ini memang masih menjadi keharusan di TNI AU karena tidak tersedianya dukungan semacam line maintenance di setiap lanud yang dikunjungi.

Memasuki kabin Falcon 8X A-0808 tidak ada bedanya dengan naik private jet. Interior hanya menyediakan sedikit kursi untuk penumpang VIP, demi alasan kenyamanan. Warna beige dan coklat tua mendominasi interior kabin, yang di setiap sisinya menyediakan laci-laci serba guna sebagai penyimpan barang atau cemilan untuk memaksimalkan setiap meja dan tempat duduk.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dan Pangkoopsudnas Marsdya TNI Tony Harjono di dalam Falcon 8X A-0808. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Dalam penerbangan hari itu, penataan interior hanya menyediakan dua set kursi model berhadapan. Disediakan untuk KSAU dan Pangkoopsudnas beserta istri masing-masing. Di belakangnya disediakan empat kursi dan satu meja di tengah untuk menjamu empat penumpang.

Setidaknya ada tiga kompartemen di Falcon 8X. Terdiri dari kompartemen dapur, kompartemen kerja, dan kompartemen istirahat di bagian belakang kabin. Di belakang kompartemen istirahat ini terdapat ruang toilet sekelas hotel bintang 4 yang cukup luas dan nyaman. Paling ujung masih tersedia sedikit ruang untuk kargo.

Namun ruang kabin Falcon 8X memang tidak bersahabat dengan penumpang yang memiliki tinggi badan ekstra. Alhasil saat KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo yang memiliki tinggi badan sekitar 185 cm, hanya menyisakan sedikit celah di atas kepalanya.

Setelah KSAU dan rombongan masuk ke dalam pesawat, pesawat Falcon 8X A-0808 lepas landas dari landas pacu Lanud Halim Perdanakusuma pada pukul 08.16 WIB. Suara tiga mesin turbofans Pratt & Whitney Canada PW307D sangat halus, hanya menyisakan lengkingan halus di dalam kabin.

KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo sempat masuk kokpit Falcon 8X A-0808 dan berdialog dengan kedua penerbang. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Tentu semua berkat teknologi canggih yang ditanam di dalam mesin, plus pemilihan bilah baling-baling untuk mengolah udara (airflow) sebelum masuk ke ruang pembakaran.

Satu sensasi yang diberikan oleh engine besar yang mendorong Falcon 8X ke udara adalah, posisi pesawat  saat menanjak layaknya pesawat tempur. Pesawat mendongak dengan kecepatan luar biasa. Kemiringannya sekitar 30 derajat, dan terus membumbung untuk mencapai ketinggian jelajah 37.000 kaki.

Sensasi terbang di pesawat tempur itu dirasakan saat pesawat lepas landas dari Lanud El Tari. Tidak demikian saat berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma.

Kemiringan terasa tidak hanya dalam posisi duduk, tapi juga saat melongokkan pandangan keluar dan khususnya ke arah belakang pesawat. Terlihat pesawat mendongak tajam dan El Tari makin lama menghilang dari pandangan.

Di layar informasi di kabin bisa kita lihat kecepatan pesawat yang terus bertambah dan ketinggian yang meningkat dengan cepat.

Menurut Mayor Pnb Mulyo Hadi, salah satu penerbang Skadron 17 yang dikirim ke Perancis, posisi mendongak pesawat after take off untuk menuju ketinggian jelajahnya bisa semakin tajam tergantung berat pesawat. “Semakin ringan akan semakin mendongak,” jelas Mayor Mulyo Hadi.

Karena sebelumnya Mulyo Hadi menerbangkan B737 TNI AU, ia bisa memberikan perbandingan. “Ini memang seperti pesawat tempur yang bawa penumpang,” ujarnya.

Pesawat jet Dassault Falcon 8X A-0808 di Lanud Iswahjudi, Magetan. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Untuk mencapai ketinggian jelajahnya di 37.000 kaki, Falcon 8X hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit. Tergantung berat pesawat dan lalu lintas penerbangan saat itu. “Tergantung berat dan juga traffic. Kalau sepi bisa 10 menit,” ungkap Mulyo Hadi.

Pesawat pun melaju hingga mencapai kecepatan Mach 0,849 atau 922 km/ jam. Sambil ngobrol mengisi waktu, tanpa terasa di layar informasi terlihat bahwa pesawat sudah berada di atas Surabaya. Tidak sampai satu jam penerbangan dari Lanud Halim.

Pesawat terus melaju melewati Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat, dan menuju tujuan akhir yaitu Kupang di NTT. Cuaca sangat baik selama penerbangan dari Jakarta ke Kupang. Langit cerah sejauh mata memandang.

Falcon 8X memang lebih panjang satu meter dari kembarannya Falcon 7X. Jika dimaksimalkan, pesawat ini bisa saja membawa 16 penumpang. Falcon 8X memiliki jangkauan terbang 11.950 km, berkat tangki tambahan dan mesinnya yang lebih efisien.

Dari data teknis dan riwayat pesawat, diketahui bahwa Falcon 8X adalan varian canggih dari Falcon 7X. Falcon 8X yang dioperasikan TNI AU ini merupakan produksi 2017. Dari penelusuran diketahui bahwa pesawat ini awalnya dioperasikan Plenty Shine Investment Ltd dengan registrasi VP-CHY.

Sejak 18 Juli 2022, pesawat dikembalikan ke Dassault Aviation dan diberi registrasi F-HSRI. Baru kemudian dipinjamkan ke TNI AU dengan registrasi A-0808.

Pesawat jet Dassault Falcon 8X A-0808 menuju taxi way untuk lepas landas di Lanud Iswahjudi. Foto: beny adrian/ mylesat.com

TNI AU telah melakukan sejumlah persiapan sebelum hadirnya pesawat ini dengan mengirim empat pilot, empat teknisi dan pramugari untuk menempuh pendidikan dan pelatihan di Dassault, Perancis. Masa pelatihan beragam, antara empat bulan bagi para pilot dan teknisi pesawat Falcon. Sementara pramugari harus menempuh pelatihan di Perancis selama dua minggu.

Dengan jangkauan terbangnya yang sangat jauh, keberadaan Falcon 7X dan 8X tentu sangat berguna ketika pimpinan TNI atau bahkan kepala negara, membutuhkan mobilisasi cepat ke daerah dalam kondisi tertentu.

Setelah menempuh penerbangan selama 2 jam 20 menit, pesawat Dassault Falcon 8X A-0808 pun mendarat di Lanud El Tari, Kupang dengan selamat.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply