MYLESAT.COM – Angkatan Udara Selandia Baru (Royal New Zealand Air Force/RNZAF) membentuk satuan ruang angkasa pertamanya pada 4 Juli 2025 dengan mengaktifkan kembali Skadron No. 62 di Lanud Whenuapai, Auckland.
“Ruang angkasa sangat vital bagi kehidupan modern,” kata Menteri Urusan Antariksa Selandia Baru, Judith Collins, yang juga membawahi bidang pertahanan, dalam upacara peresmian bersama jajaran petinggi militer, termasuk Kepala Staf Pertahanan Marsekal Udara Tony Davies dan Kepala Staf Angkatan Udara Wakil Marsekal Udara Darryn Webb.
“Kita mengandalkan infrastruktur berbasis ruang angkasa untuk berbagai layanan penting, mulai dari pengamatan cuaca hingga transaksi keuangan,” kata Collins.
Skadron ini pada awalnya akan fokus pada pemantauan, analisis, dan pemahaman aktivitas ruang angkasa untuk melindungi kepentingan nasional dan internasional.
Pengaktifan kembali skadron ini merupakan bagian dari Rencana Kemampuan Pertahanan (Defense Capability Plan) terbaru, yang merinci komitmen senilai 12 miliar dolar untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Pertahanan Selandia Baru selama empat tahun ke depan.
Webb mengatakan bahwa Selandia Baru baru-baru ini bergabung dengan Operation Olympic Defender yang dipimpin Amerika Serikat, sebuah inisiatif pertahanan ruang angkasa multinasional yang melibatkan tujuh negara, yang memberikan Selandia Baru suara dan pandangan dalam kelompok tersebut terkait perilaku bertanggung jawab di ruang angkasa.
“Tujuan utamanya adalah memastikan akses terhadap layanan berbasis ruang angkasa tetap berkelanjutan, bebas, aman, dan terjamin… dengan mencegah kemungkinan tindakan yang merugikan,” katanya.
Menurut Komodor Udara Andy Scott, komandan komponen udara di Markas Komando Gabungan Angkatan Bersenjata Selandia Baru, skadron baru yang saat ini berjumlah 12 personel akan berkembang seiring waktu, “bekerja sama dengan industri dan akademisi.”
Saat ini, skadron tersebut bekerja sama erat dengan U.S. Space Force, memimpin apa yang dikenal sebagai Pacific Cell, jelas Scott. “Ini melibatkan kami, Australia, Jepang, dan Republik Korea.”
Selandia Baru telah aktif dalam isu-isu ruang angkasa setidaknya selama satu dekade. Pada Juli 2015, negara itu bergabung dengan Combined Space Operations (CSpO), sebuah inisiatif militer yang melibatkan Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.
Pada Maret 2017, Selandia Baru bergabung dengan Kanada, Denmark, Belanda, dan Luksemburg dalam pendanaan peluncuran satelit WGS-9 untuk akses militer ke seluruh konstelasi satelit Wideband Global Satellite.
Selandia Baru juga berpartisipasi bersama Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Norwegia, dan Inggris dalam latihan tahunan Schriever Wargames yang diselenggarakan oleh U.S. Space Force.
Latihan ini menguji kebijakan, aspek hukum, dan pendekatan operasional terhadap tantangan keamanan ruang angkasa yang bersifat hipotetis di masa depan.
Skadron No. 62 awalnya dibentuk pada tahun 1943, dan selama lebih dari setahun hingga Oktober 1944, skadron ini mendukung pasukan Sekutu dengan operasi radar di Pasifik, termasuk di Bougainville dan Kepulauan Solomon, serta dalam kampanye Guadalcanal.
Moto skadron ini adalah “Look to the stars” (Tataplah bintang-bintang)