“35 Tahun Satbravo 90 Korpasgat Spesialis Anti Lawan Bajak Udara”, Buku Ini Ungkap Jejak Pengabdian Pasukan Khusus Korpasgat TNI AU

0

MYLESAT.COM –  Dalam hitungan 1,5 jam sejak alarm stelling berbunyi, pasukan Satbravo yang selalu standby di barak siaga sudah mempersiapkan diri dan diberangkatkan ke Lanud Halim Perdanakusuma. Di Halim sudah disiapkan pesawat C-130 Hercules untuk membawa unit Bravo beserta rantis dan ransus ke Bandara Kualanamu di Medan.

Hari itu, Sabtu, 21 Juni 2025, pesawat Airbus A330-300 Saudia SVA5688 rute Jeddah-Surabaya yang membawa jemaah haji Indonesia masih berada di atas wilayah Aceh. Laporan awal berupa ancaman bom yang diterima pilot dan diterima crisis centre, langsung ditindaklanjuti Dankorpasgat dengan menggerakkan Satbravo ke Halim. Sebelumnya, 17 Juni 2025, pesawat Saudia SV-5726 rute Jeddah–Jakarta juga harus mendarat darurat di Medan setelah menerima ancaman yang sama.

Dua kejadian yang langsung direspon cepat dan tepat oleh Satbravo yang bermarkas di Lanud Rumpin, Bogor, menjadi jawaban nyata kesiapan pasukan khusus ini dalam menghadapi kontijensi dengan kesiapsiagaan tinggi.

Komandan Satbravo 90 Korpasgat Kolonel Pas Ruly Arifian, S.E., M.Han menerima penganugerahan Tanda Kehormatan Samkaryanugaraha dari Presiden Joko Widodo kepada Satuan Bravo 90 Kopasgat atas pengabdiannya dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negara yang sangat luar biasa.

“Kesiapan kita sangat tinggi, kejadian kemarin hanya satu contoh bagaimana Bravo menghadapi scramble,” jelas Komandan Satbravo 90 Korpasgat Kolonel Pas Ruly Arifian (halaman 51).

Kisah ini merupakan cuplikan dari jejak pengabdian Satuan Bravo 90 Korpasgat yang dituangkan di dalam buku “35 Tahun Satbravo 90 Korpasgat Spesialis Anti Lawan Bajak Udara”.

Buku setebal 201 halaman dengan ukuran 28,5 X 21 cm dan ditulis Beny Adrian ini menjadi legacy Kolonel Pas Ruly Arifian kepada Satbravo yang telah membesarkannya dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memimpin satuan yang bermarkas di Lanud Rumpin dari tahun 2024-2025. Saat ini Satbravo dipimpin oleh Kolonel Pas Y. Made Suarsono, M.Han.

Tentu kata legacy di sini dimaknai sebagai upaya mendokumentasikan jejak nilai, pengabdian, pengalaman, dan semangat yang harus dijaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Karena buku ini menjadi simbol dari nilai-nilai perjuangan dan keberanian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menegaskan bahwa apa yang dilakukan Bravo baik berupa misi operasi, latihan, dan dedikasi personelnya tidak boleh hilang begitu saja oleh waktu, melainkan diabadikan sebagai catatan sejarah.

Kolonel Ruly juga berharap buku ini bukan sekadar arsip, akan tetapi sumber inspirasi bagi penerus untuk menjaga standar kehormatan dan semangat korps.

Sejak dibentuk pada 12 Februari 1990 dan secara resmi dikukuhkan oleh Kepala Staf Angkatan Udara pada 19 Oktober 1999, Satbravo 90 Korpasgat telah menorehkan sejarah panjang pengabdian melalui berbagai penugasan operasi yang sarat risiko. Buku ini mengungkapkan berbagai bentuk penugasan yang telah dilaksanakan prajurit Bravo dengan keberhasilan tinggi. Seperti Operasi Dakota Recovery di Puncak Cartenz, Papua.

Pada awal pembentukannya, satuan ini masih kecil dan sederhana dan karena itu dinamakan Tim Bravo. Barulah saat dikukuhkan KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan pada Oktober 1999, nomenklaturnya menjadi Detasemen Bravo. Kapten Pas Yudi Bustami dipercaya sebagai komandan pertama.

Hingga saat ini sudah 15 perwira terbaik Korpasgat yang dipercaya memimpin Satbravo. Mereka adalah Marsda TNI (Purn) Yudi Bustami, Marsda TNI Novlamirsyah, Marsdya TNI Deny Muis, Marsma TNI Roy Rassy Fay Merthinus Bait, Marsma TNI Moch Juanda, Marsma TNI Ari Ismanto, Kolonel Pas Roosen Limson Sinaga, Kolonel Pas Dodi Irawan, Kolonel Pas Nana Setiawan, Kolonel Pas Sumarsono, Kolonel Pas Dedy Agung Sulistya, Kolonel Pas  Asep Dicky Lukman Wijaya, Kolonel Pas Ruly Arifian, dan saat ini Kolonel Pas Y. Made Suarsono.

Menurut Panglima Korpasgat Marsdya TNI Deny Muis (halaman 56), kata kunci dari semua proses pembentukan prajurit itu adlaah latihan, latihan, dan latihan. Menurutnya, itulah cara Bravo menjaga kualitas. Latma dengan Denjaka dan Sat-81 Gultor yang dilaksanakan Koopssus TNI, maupun latihan bersama negara sahabat selalu diikuti.

“Semua kita atur dengan jadwal ketat agar personel tetap standby force sambil terus dibina kariernya. Alhamdulillah sekarang Bravo semakin bagus. Tugas saya sebagai Komandan adalah menjaga mereka selalu siap operasi, meskipun dengan keterbatasan anggaran. Saya yakin, selama kita punya nilai lebih, selama kita bisa membuktikan skill, kepercayaan pimpinan akan datang, dukungan akan mengalir, dan Satbravo akan tetap menjadi satuan yang bisa dibanggakan TNI AU dan bangsa. Kata kuncinya, saya tidak butuh framing, saya butuh pembuktian di lapangan. Biarlah orang menilai. Bravo harus selalu lebih baik, lebih maju, dan lebih bisa diandalkan,” tutur Marsdya Deny Muis seperti ditulis di dalam buku ini.

Buku “35 Tahun Satbravo 90 Korpasgat Spesialis Anti Lawan Bajak Udara” ditulis dengan gaya populer dilengkapi sajian foto-foto terpilih yang membuka cakrawala kita untuk mengetahui berbagai sisi dari Satbravo yang selama ini jarang terungkap.

Catya Wihikan Awacya Makapala yang berarti Setia Terampil Berhasil, tertanam di setiap detak jantung prajurit Bravo yang mampu bergerak secepat panah Gwa Wijaya milik Prabu Rama dalam kisah pewayangan.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply