Bersama Presiden Jokowi, Warga Hadiri Haul ke-13 Guru Sekumpul, Ulama Kharismatik Kalimantan

Selalu dipenuhi umat yang hadir pada setiap peringatan haul ulama kharismatik Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari atau dikenal dengan sebutan Guru Sekumpul atau Tuan Guru dan beberapa sebutan lainnya.

Tuan Guru wafat pada 10 Agustus 2005 dalam usia 63 tahun. Ia merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari (1710-1812)

Tahun ini, tepatnya Minggu (25/3/2018) diperingatai sebagai haul ke-13 Guru Sekumpul. Mengingat kharisma yang bergitu besar dari almarhum, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengawali kunjungan kerjanya ke Provinsi Kalimantan Selatan dengan menghadiri Haul ke-13 Guru Sekumpul di Mushala Ar-Raudhah, Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.

Turut mendampingi Jokowi adalah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Haul adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab al-haul yang berarti tahun. Dalam hal ini, haul diartikan dengan makna setahun.

Jadi peringatan haul adalah suatu peringatan yang diadakan setahun sekali bertepatan dengan wafatnya seseorang yang ditokohkan. Peringatan diadakan untuk mengenang kebaikannya yang dinilai banyak memberikan manfaat kepada umat.

Diperkirakan satu juta warga menghadiri haul Tuan Guru. Kepadatan lalu lintas sudah mulai terasa sejak sore. Bahkan menurut salah seorang warga yang ditemui, sejak tiga hari sebelum haul ini, lokasi Mushala Ar-Raudhah sudha mulai dipadati warga.

Di Mushala Ar-Raudhah, Presiden bersama jamaah melaksanakan Shalat Maghrib dipimpin Ustaz H Sa’dudin. Setelah itu dilanjutkan pembacaan ayat suci Alquran, pembacaan maulid, yasin, dan tahlil. Kemudian diakhiri dengan pembacaan doa dan Shalat Isya berjamaah.

Meski hujan sempat mengguyur lokasi menjelang magrib, toh tidak menyurutkan niat umat untuk datang dan bertahan di lokasi. Sampai menjelang tengah malam, jalan raya dari arah Sekumpul terus dipadati oleh kendaraan warga yang beranjak pulang.

Menurut salah seorang warga, ia tidak pernah melihat haul ulama seramai ini sekalipun di Jawa. Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sempat menemui Tuan Guru pada Jumat 26 Mei 2000 di Martapura.  Gus dur sekalian ziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Dari beberapa literatur disebutkan, Guru Sekumpul dilahirkan pada Rabu, 11 Februari 1942 di Desa Dalam Pagar, Martapura Timur, Kabupaten Banjar dari pasangan Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman dengan Hj. Masliah binti H. Mulia bin Muhyiddin.

Dalam menuntut ilmu agama, guru pertamanya adalah ayah dan neneknya sendiri.

Pada 1949, saat berusia 7 tahun, Tuan Guru mengikuti pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Ia juga belajar kepada beberapa guru besar dalam bidangnya.

Diceritakan bahwa Tuan Guru memiliki beberapa kelebihan. Ia sudah hafal Al Quran sejak berusia 7 tahun.  Kemudian hapal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Tafsir Jalalain dianggap sebagai kitab tafsir klasik Sunni yang banyak dijadikan rujukan, sebab dianggap mudah dipahami dan terdiri dari hanya satu jilid saja.

Dalam usia kurang lebih 10 tahun, Guru Sekumpul mendapat anugerah dari Allah SWT berupa Kasyaf Hissi, yaitu diberi kelebihan bisa melihat dan mendengar apa yang ada di dalam.

Minggu malam itu adalah bukti kebesaran Tuan Guru Sekumpul. Diceritakan bahwa kabar kematiannya menimbulkan duka mendalam di Kalimantan Selatan khususnya. Pasar-pasar langsung sepi, karena hampir semua kios dan toko tutup.

Perkantoran pun demikian, karena sebagian besar karyawannya datang ke Sekumpul untuk memberikan penghormatan terakhir.

Sebelum dimakamkan di dekat Mushalla Ar Raudhah, Guru Sekumpul dishalatkan secara bergantian oleh warga masyarakat yang datang untuk melakukan salat jenazah.

Marilah kita muliakan dan hormati para ulama dan orang tua, seperti pesan Guru Sekumpul kepada umat Islam.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: