Panglima TNI Marsekal Hadi Tjhajanto mengaku merasa begitu terhormat saat menerima gelar kehormatan adat Aceh Sri Lilawangsa dari Lembaga Wali Nanggroe Aceh.
Panglima TNI menerima gelar kehormatan adat Aceh Sri Lilawangsa langsung dari Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Tengku Malik Mahmud Al Haytar.
Upacara adat berlangsung di komplek Wali Nanggroe Aceh Darusalam yang berdiri megah di Jalan Lamblang Manyang, Darul Imarah, Aceh Besar.

Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Tengku Malik Mahmud Al Haytar memasangkan selempang, pin, dan sebilah rencong untuk Marsekal Hadi. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Kendaraan yang membawa Panglima TNI dan rombongan, langsung disambut prajurit TNI yang berjejer memanjang membentuk pagar menuju Wali Nanggroe. Setelah itu disusul penyambutan tarian adat dan prajurit TNI yang berbaris dengan pakaian paduan loreng TNI dan senjata tradisional Aceh.
Memasuki gedung Wali Nanggroe, Marsekal Hadi disambut tarian agung untuk menerima tamu. Sementara Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Tengku Malik Mahmud Al Haytar menunggu di pintu masuk gedung.
Proses pemberian gelar kehormatan tertinggi ini ditandai penyematan pin, selempang, dan pemberian sebilah rencong oleh Tengku Malik Mahmud Alhaythar kepada Panglima TNI.
Kepada Panglima TNI juga diberikan sirih untuk dikunyah, sebagai bagian dari prosesi.
Dalam surat keputusan yang dibacakan tokoh adat Aceh, disebutkan bahwa lembaga adat Wali Nanggroe mempunyai hak untuk memberikan atau mencabut gelar kehormatan kepada seseorang atau lembaga yang ditunjuk.
Gelar kehormatan diberikan kepada pihak yang berjasa dalam menjaga perdamaian dan mendorong pembangunan di Aceh.

Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Tengku Malik Mahmud Al Haytar dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto “Sri Lilawangsa”. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Lembaga Wali Nanggroe pun menilai bahwa langkah-langkah yang diambil Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam menjaga perdamaian di Aceh khususnya dan keamanan di Indonesia umumnya, adalah sesuatu yang layak diberi penghargaan tertinggi.
“Dan ini adalah gelar pertama yang dianugerahkan kepada jajaran militer Indonesia sejak Lembaga Wali Nanggroe didirikan,” ujar tokoh ini dalam penjelasan resminya. Lembaga Wali Nanggroe Aceh didirikan pada 2006.
“Sebagai pribadi saya merasa sangat bangga dan terhormat menerima gelar Sri Lilawangsa dari masyarakat Aceh. Saya haturkan terima kasih yang tulus. Ini kebanggaan untuk seuruh prajurit saya,” aku Marsekal Hadi tulus.
Implikasinya, jelas Hadi, seluruh prajurit TNI merasa bahwa kewajiban menjaga perdamaian dan pembangunan di Aceh adalah mutlak.
“Gelar ini membuat saya merasa lebih dekat dan menjadi bagian dari masyarakat Aceh yang agamis, kekeluargaan, patriotik, dan cinta tanah air,” urai Hadi.
Dalam sambutannya, Marsekal Hadi tidak lupa memuji sikap patriotik dan pantang menyerah yang ditunjukkan rakyat Aceh dalam masa perang Kemerdekaan.
“Dengan semangat yang tinggi rakyat Aceh telah menyumbangkan perhiasaan untuk perjuangan dan menyumbangkan pesawat pertama bagi Bangsa Indonesia,” jelas Hadi.
Pesawat dimaksud adalah DC-3 Dakota RI-001 Seulawah (Gunung Emas) yang dioperasikan oleh AURI untuk mendukung perjuangan Kemerdekaan.

Panglima TNI, Wali nanggroe, dan Forkompinda Aceh. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Totalitas rakyat Aceh terbakar saat Presiden Soekarno mengunjungi Aceh pada 16 Juni 1948 untuk bertemu tokoh dan rakyat di Hotel Aceh.
Saat itu Soekarno membangkitkan semangat dan jiwa patriotis rakyat Aceh untuk turut serta dalam membangun Indonesia dengan mengobarkan harta demi terciptanya kemerdekaan yang sesungguhnya.
Dari hasil sumbangan berhasil dikumpulkan 20 kg emas oleh panitia Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji.
Dana tersebut digunakan untuk membeli pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia.
RI-001 yang merupakan darah dagingnya rakyat Aceh, terbang menembus blokade Belanda. Misi-misi diplomatik, kemanusiaan, dan kenegaraan dijalankan RI-001.
“Itulah yang meyakini saya, bahwa Aceh menyimpan potensi semangat yang luar biasa,” ucap Marsekal Hadi lugas.

Ucapan selamat dari undangan. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Usai menerima penganugerahan gelar kehormatan adat Aceh Sri Lilawangsa, seluruh tamu dan undangan diberi kesempatan untuk mengucakan selamat kepada Panglima TNI.
“Sri Lilawangsa itu gelar tertinggi, terhormat sekali,” ujar seorang bapak yang mengenakan pakaian adat Aceh dan mengantri untuk memberikan ucapan selamat kepada Panglima TNI.
Teks: beny adrian