Cek Bantuan Korban Gempa Lombok, Panglima TNI: Ini Kerjaan Mulia, Harus Ikhlas Melaksanakannya

Setelah mengirim ratusan personel TNI dan puluhan bahkan mungkin ratusan ton bantuan logistik dan obat-obatan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pun merasa perlu hadir di lokasi bencana untuk memastikan seluruh bantuan tiba di tempat yang tepat.

Bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek, Panglima TNI tiba di Bandara Lombok, Rabu (8/8/2018).

Setibanya di bandara, Marsekal Hadi langsung melakukan koordinasi dengan semua unsur yang terlibat dalam penanganan pasca bencana.

Setelah itu rombongan bergerak menuju Posko Tanggap Darurat Bencana Alam Gempa Bumi Wilayah Lombok, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Kerusakan di sebuah bangunan yang berada di belakang Psoko Bencana di Kecamatan Tanjung. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Butuh dua jam perjalanan darat dari Bandara ke Posko. Kerusakan semakin jelas terlihat ketika kendaraan mulai memasuki wilayah utara Lombok.

Mylesat.com yang ikut dalam rombongan Panglima TNI, hanya bisa menatap sedih rumah-rumah warga dalam kondisi rusak. Mulai dari rusak kecil seperti retak-retak dan plafon jatuh, hancur sebagian dan rontok seluruh bangunan.

Baik itu rumah, sekolah, perkantoran, masjid, dan toko, umumnya terlihat dalam kondisi rusak parah. Beberapa waralaba yang terlihat rusak berat, sudah dikosongkan oleh pemiliknya.

Semakin mendekati Kecamatan Pemenang dan Kecamatan Tanjung di mana terdapat objek wisata Senggigi, kerusakan semakin massif di semua bangunan. Sejumlah hotel besar dan cottage terlihat sudah kosong.

“Biasanya di sini ramai, banyak bule,” ujar seorang petugas dari TNI AD yang mendampingi di kendaraan.

Panglima TNI meminta bantuan disalurkan secara cepat dan tepat, sehingga masyarakat tidak perlu meminta-minta di jalan. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Hanya terlihat petugas keamanan berjaga-jaga. Jejak keretakkan terlihat jelas dari kejauhan di tembok hotel-hotel itu. Begitu juga beberapa kali kendaraan melewati bagian jalan yang retak. Batu-batu juga masih berserakkan di pinggir jalan, yang jatuh dari tebing.

Warga terlihat banyak berkumpul di pinggir jalan. Mereka berinisiatif meminta bantuan menggunakan ember seadanya, memohon keikhlasan dari setiap kendaraan yang lewat. Beberapa orang juga terlihat mengais-ngais di bangunan rumahnya yang runtuh.

Tenda-tenda juga berdiri di tanah lapang, dan digunakan warga untuk tidur karena masih trauma dengan gempa besar.

Beberapa kali juga kami berpapasan dengan ambulan yang membawa korban. Di beberapa titik terjadi kemacetan karena banyaknya kendaraan yang datang dan berhenti untuk mengirim bantuan logistik.

Menurut Danrem 162/Wira Bhakti Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani dalam paparannya kepada Panglima TNI, ada enam lokasi yang terpapar gempa dengan skala 6,9 hingga 7 skala Richter. Yaitu Kecamatan Bayan, Gangga, Kayangan, Pemenang, Tanjung, dan Gunung Sari.

Panglima TNI menyapa seorang ibu usai dioperasi di tenda darurat Posko Bencana. Foto: beny adrian/ mylesat.com

“Hampir 90 persen rumah hancur di Kayangan. Kecamatan Tanjung dan Pemenang menjadi prioritas karena banyaknya rumah hancur. Sementara Gangga agak sulit dijangkau karena berada di ketinggian,” jelas Kolonel Ahmad Rizal kepada Marsekal Hadi.

Masih menurut Danrem 162 selaku Komandan Satgas Penanganan Darurat Bencana, ada 10 jenis operasi yang dilakukan Satgas. Yaitu pencarian dan penyelamatan korban, dukungan sandang pangan, dukungan penampungan, mendirikan tenda, membuka jalur ke lokasi tertutup, sosialisasi bahwa ancaman tsunami sudah selesai, dukungan kesehatan, evakuasi wisatawan, dan memberikan trauma healing pasca bencana.

Untuk memastikan semua kegiatan terkoordinasi, setiap pagi Danrem melaksanakan briefing sebelum ke lapangan. Sore harinya kembali dilakukan briefing dan konferensi press.

Hingga siang kemarin, sudah dicatat sebanyak 226 orang meninggal. Menurut Danrem, tidak semua korban terverifikasi dengan baik namun karena mayorits warga beragama muslim maka harus segera dimakamkan. Sementara yang luka-luka terdata sebanyak 503 orang.

“Mungkin data ini masih akan berubah,” ujarnya.

Salah satu rumah warga terlihat rusak berat akibat gempa. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Tidak hanya mengirimkan bantuan dan personel, Panglima TNI juga memerintahkan kapal rumah sakit terapung KRI dr. Soeharso berada di lokasi. Bersama KRI dr. Soeharso juga dibawa serta para dokter ahli.

Korban yang berasal dari Kecamatan Bayan, Kayangan, dan Gangga mendapat prioritas evakuasi ke KRI dr. Soeharso. Keputusan ini diambil karena sudah banyaknya waiting list untuk operasi di RSUD/P Lombok yang mencapai 140 orang.

Menanggapi laporan Dansatgas Bencana ini, Panglima TNI kembali menekankan pentingnya koordinasi dalam situasi seperti ini.

“Utamannya adalah Komando Kendali (Kodal) yang didukung infrastruktur Jarkom, jalur komunikasi. Kalau tidak ada itu, maka kacau di lapangan karena ada enam wilayah terpapar gempa parah,” ujar Marsekal Hadi kepada Danrem.

Menurut Panglima TNI, Kodal yang baik sangat dibutuhkan untuk mengoordinasikan semua hal dalam operasi penanganan bencana.

Seperti banyaknya bantuan yang datang baik melalui jalur laut maupun udara, harus dipastikan bagaimana dan siapa yang menerima. Bagaimana pergudangan dan angkutan ke lokasi. Menurut Marsekal Hadi, pastikan penyalurannya tepat sasaran sehingga tidak mubazir.

Sebanyak 17 alat berat dilaporkan sudah tiba di lokasi. Foto: beny adrian/ mylesat.com

“Setiap pagi lakukan briefing, buat laporan. Sampai tadi malam saya terima laporan melalui WA, ada beberapa penduduk membutuhkan tenda, air bersih, selimut. Telusuri, di mana posisinya,” perintah Panglima TNI.

Hadi juga meminta untuk mendata kemampuan rumah sakit. Sehingga jelas berapa daya tampungnya, ketersedian obat-obatan, ketersedian dokter ahli, dan tenaga medis.

Hadi menyampaikan bahwa segera akan dikirim tambahan tenda dari BNPB yang jumlahnya mencapai 100 unit. Secara bertahap akan diterbangkan menggunakan pesawat C-130 Hercules.

Melihat begitu banyaknya hotel dan cottage ditinggal pergi pemilik dan karyawannya, Hadi tidak lupa memerintahkan Dansatgas untuk menyiapkan pengamanan agar tidak terjadi penjarahan dan perusakan.

Begitu juga dengan bangunan sekolah di Lombok Utara yang hampir seluruhnya dalam kondisi rusak berat, Marsekal Hadi meminta Dansatgas untuk mendata dan kemudian melaporkan kepada gubernur.

“Harus dipikirkan, jangan sampai mereka libur terus, sampaikan saran ke gubernur, di mana sebaiknya sekolah mereka, berikan laporan matang ke komando atas sehingga pimpinan bisa mengambil keputusan yang tepat dan cepat,” beber Hadi lagi.

Hadi juga meyakinkan pihak Pemda bahwa TNI sudah mengirimkan batalion Zeni Tempur dan Zeni Kontruksi untuk membantu proses rekonstruksi dan perbaikan darurat. Terutama terkait ketersediaan air bersih. “Jika instalasi rusak akan kami perbaiki,” kata Hadi.

“Dansatgas, tolong kendalikan betul Yon Zipur dan Yon Zikon,” tegas Panglima TNI lagi yang tidak lupa mengecek apakah telepon satelit sudah diterima.

Dalam arahannya, Panglima TNI berkali-kali menegaskan kepada semua pihak untuk melakukan koordinasi secara baik. Sehingga bantuan yang dikirim tidak sia-sia. Bantuan yang dikirim haruslah sesuai kebutuhan daerah tersebut.

Kepada Basarnas, Panglima TNI meminta untuk mengerahkan alat potong baja dan beton karena begitu massif kehancuran bangunan di Lombok Utara. “Namun perhatikan bangunan sebelahnya agar getaran alat bor ini tidak malah meruntuhkan bangunan lainnya,” pesan Hadi.

Dalam pertemuan di dalam tenda yang panas itu, Kapolri malah langsung menitipkan Komandan Korps Brimob dan Kepala Biro Operasi Polri untuk langsung di bawah kendali Danstgas Bencana.

Panglima TNI menemui anggota Paskhas dan Brimob di lokasi. Foto: beny adrian/ mylesat.com

“Saya perintahkan Dankorbrimob dan Karoops Polri di bawah kendali Danrem sebagai Dansatgas. Tolong koordinasikan dengan mereka. Saya sudah sampaikan kepada Kapolda, apapun kebutuhan Danrem dan tidak bisa diatasi, harus dibantu,” ujar Jenderal Tito.

Karena kerusakan yang ditimbulkan gempa cukup besar, Panglima TNI menyampaikan bahwa jika dibutuhkan ia akan mengirimkan kapal besar sejenis untuk mempercepat bantuan. “Kami masih punya KRI Banda Aceh dan KRI Surabaya, siap berangkat,” kata Hadi.

Disela langsung oleh Asops Panglima TNI Mayjen TNI Lodewijk Pusung, bahwa KRI Banda Aceh sudah dalam perjalanan ke Lombok.

Hingga kemarin juga dilaporkan bahwa sudah 8.400 wisatawan dievakuasi dari Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Baik turis asing, domestik, dan warga setempat.

Bahkan hari itu juga dievakuasi 60 warga asing yang sebelumnya tidak mau meninggalkan Lombok karena masih ingin berlibur. Namun di Gili Trawangan masih tersisa 42 WNA yang tidak mau dievakuasi karena alasan bisnis. Mereka umumnya memiliki usaha hotel dan toko di sana.

Untuk menjaga keamanan di tiga Gili ini, Kapolri langsung memerintahkan Dankorbrimob untuk mengirim tambahan 100 Brimob dari Mabes Polri.

Hingga detik ini, penanganan korban gempa Lombok sudah dilakukan secara maksimal oleh Satgas TNI. Setidaknya sudah berada di lokasi 60 dokter bedah tulang. Sebanyak 12 dokter standby di KRI Soeharso, dan 48 dokter di RSUP.

Kepada seluruh petugas yang berkumpul di Posko siang itu, Panglima TNI menyampaikan bahwa posko di Lanud Halim Perdanakusuma siap 24 jam. Bahkan Hadi menegaskan bahwa dirinya dan jajaran Mabes TNI total membantu Lombok.

“Jam satu malam pun dibangunkan saya siap untuk menjawab pertanyaan di sini,” tegas Hadi.

Karena menurut Hadi, insya allah musibah ini hanya sebentar. Paling penting adalah setelah itu, bagaimana kita membangun kembali Lombok utara dan menjual wisata di Lombok itu aman untuk dikunjungi.

Usai menerima paparan, Panglima TNI dan rombongan melakukan peninjauan di sejumlah tenda siaga. Marsekal Hadi juga tidak lupa menyambangi anak-anak yang berkumpul di bawah tenda. Anak-anak pun bernyanyi dan bergembira bersama Panglima TNI dan Kapolri.

Marsekal Hadi menghibur anak-anak di tenda penampungan. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Dari Posko Bencana, Panglima TNI mengunjungi prajurit TNI-Polri yang bertugas membantu korban bencana.

Setelah itu dengan menumpang helikopter Bell-429 GlobalRanger milik Polri, Panglima TNI dan rombongan melakukan peninjauan dari udara kondisi di Gili Trawangan. Dari situ Panglima TNI mendarat dan meninjau kondisi di atas KRI dr. Soeharso.

“Ini kerjaan sangat mulia, di sini kita cari pahala sehingga kita harus ikhlas melaksanakannya,” ajak Panglima TNI kepada seluruh prajurit TNI-Polri dan relawan di lokasi.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: