Setelah sempat lumpuh total pasca gempa melanda Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu, Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie di Palu mulai berbenah. Seperti terlihat pada Minggu (19/10/2018), sejumlah maskapai sudah kembali melayani penerbangan dari dan ke Palu.
Meski kondisi bandara masih rusak dan dalam perbaikan, penumpang sudah diperbolehkan melewati terminal untuk masuk ke dalam pesawat. Terlihat pesawat Lion dan Wings Air terparkir di apron.

Pekerja mulai memperbaiki kondisi bandara Mutiara yang rusak. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Di sejumlah titik mulai terlihat pekerjaan perbaikan bandara. Terpal dibentang luas untuk menutupi bagian bandara yang rusak.
Sementara kondisi menara pengatur lalu lintas udara (ATC) masih dalam kondisi rusak. Untuk itu pengaturan lalu lintas udara dilakukan dari ATC darurat alias Mobile ATC Tower.

Bangunan menara ATC yang rusak dan ATC darurat yang didirikan di depannya. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Lokasinya sengaja didirikan tidak jauh dari ATC sesungguhnya untuk memudahkan pengendalian secara visual.
Demikian juga kondisi landasan masih rusak sepanjang 200 meter di ujung runway 55. Untuk sementara pesawat hanya bisa lepas landas dan mendarat di runway 33.

Beginilah kondisi menara ATC Bandara Mutiara saat ini. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Karena panjang landasan berkurang, pendaratan pun dilakukan secara keras (positive landing) agar pesawat bisa berhenti lebih cepat.
Seperti saat pesawat Boeing B737-400 A7306 TNI AU yang membawa Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie pada Minggu pagi. Hentakan keras mengagetkan sejumlah penumpang disusul pengereman lebih cepat.

Pesawat C-130 Hercules milik Australia, Singapura, dan Korea Selatan (di landasan) di Palu. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Kondisi ini memang sudah menjadi prosedur pendaratan di landasan yang panjangnya tidak mencukupi.
Sementara itu sejumlah pesawat C-130 Hercules negara sahabat masih mondar-mandiri membawa bantuan. Saat itu tengah berlangsung proses unloading bantuan dari pesawat Hercules milik Australia.
Teks: beny adrian