MYLESAT.COM – Uni Soviet (sekarang Rusia) memelopori di tahun 1930-an, Jerman membuktikan ampuhnya airborne operation dengan Operasi Fallschirmjager di Kreta tahun 1941, AS dan Inggris dalam Operasi Market Garden tahun 1944, dan konsep operasi lintas udara udara dalam skenario yang lebih kompleks itu kembali diuji Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat).
Operasi lintas udara (airborne operations) memiliki tingkat kerumitan tinggi namun sangat strategis dalam pelaksanaannya, meski disadari sangat berisiko bila kurang mendapat dukungan darat dan udara maka operasi airborne bisa mengalami kerugian besar.

Penerjunan Satpur Korpasgat dair pesawat C-130 Hercules dalam Latihan Tempur Hardha Marutha 1. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Pasukan payung Jerman yang diterjunkan di Kreta di Mediterania, langsung ke zona pertahanan musuh namun tanpa senjata berat, minus dukungan darat dalam menghadapi kuatnya pertahanan udara dan darat Sekutu. Karena kerugian yang sangat besar maka Hitler melarang operasi airborne skala besar berikutnya.
Pasukan airborne merupakan jati diri Korps Pasukan Gerak Cepat sejak kelahirannya pada tahun 1947, ditandai oleh infiltrasi udara di Kotawaringin. Seiring perkembangan lingkungan strategis, pengiriman pasukan melalui udara kini tidak lagi terbatas pada penerjunan satuan tempur (Satpur), melainkan telah berkembang menjadi operasi yang jauh lebih kompleks, terintegrasi, dan menuntut perencanaan serta kemampuan lintas matra yang semakin rumit.
Hardha Marutha 1
Sembilan penerbang wingsuit Kopasgat tampil sebagai pembuka Latihan Hardha Marutha I, sekaligus menegaskan betapa unggul dan uniknya spektrum kemampuan Korpasgat dalam menjawab tuntutan operasi udara modern saat ini.

Wakasau Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi didampingi Panglima Korpasgat Marsdya TNI Deny Muis memberikan apresiasi atas inovasi Litbang Korpasgat dalam mengembangkan drone dan antidrone. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Diterjunkan dari ketinggian sekitar 10.000 kaki, kesembilan penerbang langsung berpencar dan terbang ke posisi masing-masing dalam beberapa detik aksinya sebelum akhirnya membuka parasut. Dalam skenario tempur, tim kecil ini akan menjadi mata-telinga panglima perang di garis terdepan.
Tak lama berselang disusul penerjunan satu tim Satbravo 90 yang berkemampuan melaksanakan infiltrasi dan sabotase terhadap sasaran strategis musuh. Setelah mendarat, dengan menggunakan dua rantis P6 ATAV, tim ini memberikan kejutan dengan menyemburkan ribuan timah panas dari senapan Gatling. Serangan ini merupakan pembabakan dari operasi pembebasan sandera.
Eselon susulan adalah menerjunkan ratusan pasukan Parako Korpasgat dari empat pesawat C-130H/J Hercules dalam dua kali run. Karena jumlahnya yang sangat besar, mereka disebut sebagai Satpur yang bertanggung jawab untuk merebut dan menguasai kedudukan musuh.

Formasi tembakan senjata berat Korpasgat saat melumpuhkan sasaran. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Setelah semua kekuatan berkumpul dan konsolidasi, pengendali latihan memerintahkan setiap unsur untuk melakukan penyerangan dengan kekuatan besar maupun dalam skala terbatas. Suara tembakan dari berbagai jenis kaliber bersahut-sahutan mengirimkan tekanan terhadap kedudukan musuh yang masih bertahan. Satu tim sniper juga memberikan tembakan-tembakan terbaiknya untuk melumpuhkan sasaran bernilai strategis.
Satu materi latihan yang terbilang baru dan adaptif diperlihatkan Korpasgat, adalah penggunaan drone untuk pengintaian maupun penghancuran sasaran. Setidaknya tiga unit drone digunakan untuk mengintai dan dua lagi menyerang sasaran dengan presisi.
Tidak hanya menggunakan drone sebagai striker, Korpasgat juga memperlihatkan kemampuan tim antidrone yang beraksi menggunakan senjata antidrone berbasis elektronik maupun senapan antidrone.

Patroli di wilayah yang sudah dikuasai dalam Latihan Tempur Hardha Marutha 1. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Meski tidak digunakan dalam latihan sebagai pelaku, satu drone lagi yang berukuran lebih besar digunakan sebagai stasiun terbang yang merekam pergerakan semua pasukan dari ketinggian sekitar 30 meter dalam posisi hover. Menurut Letkol Lek Febie, drone Oculus buatan China ini mampu terbang selama delapan jam.
Setelah semua tahapan operasi selesai, Korpasgat mengirimkan tim CSAR (Combat SAR) menggunakan dua helikopter EC-725 Caracal dan NAS-332 Super Puma untuk melakukan penyelamatan. Baik terhadap personel yang terluka maupun aset bernilai strategis.
Menurut Direktur Latihan (Dirlat) Kolonel Pas Helmi Ardiyanto Nange yang merupakan Komandan Brigade Parako 1 Pasgat, Latihan Hardha Marutha 1 menjadi puncak latihan Brigade Parako 1 Pasgat yang digelar untuk meningkatkan kesiapan tempur dan kemampuan operasional prajurit Korpasgat dalam mendukung operasi matra udara.

Tim CSAR turun dari helikopter NAS-332 dalam Latihan Tempur Hardha Marutha 1. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Selain itu, latihan ini juga menguji kesiapan satuan dalam menghadapi perkembangan peperangan modern dengan memanfaatkan drone. Latihan diikuti 1.152 prajurit Korpasgat.
Seluruh tahapan Latihan Hardha Marutha 1 disaksikan langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Ir. Tedi Rizalihadi didampingi Panglima Korpasgat Marsdya TNI Deny Muis. Terlihat turut menyaksikan Gubernur Lampung.
Usai menyaksikan latihan, Wakasau dan rombongan meninjau pembangunan Batalyon Parako 464 Lampung.
Latihan Hardha Marutha 1 menjadi sangat penting karena dilaksanakan di tengah validasi organisasi yang saat ini berlangsung. Seperti kita ketahui, setelah komandan Korpasgat dijabat perwira bintang tiga dengan sebutan Panglima, organisasi satuan tempur darat kebanggaan TNI AU ini semakin membesar disertai penambahan ribuan personel.

Wakasau didampingi Panglima Korpasgat memberikan apresiasi kepada tim sniper yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Dalam satu kesempatan, Pangkorpasgat mengatakan bahwa tugas berat Mako saat ini adalah memenuhi dan melengkapi organisasi yang telah divalidasi. “Tugas saya menyiapkan prajurit Korpasgat lebih bagus lagi dan untuk itu saya butuh dukungan dari semua pihak. Bagaiamana cara mendapatkan dukungan? Kita harus pelihara skill, kemampuan kita agar sewaktu-waktu diminta pimpinan kita harus siap. Bahkan kalau diminta satu kita akan kasih 10,” ungkap Marsdya TNI Deny Muis dengan mantap.