7 Proyek Rahasia DARPA: Dari Iron Man Hingga Kumbang Pengintai

0

Lazimnya lembaga penelitian, begitulah reputasi tinggi yang diraih DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), sebuah badan penelitian di bawah Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas pengembangan teknologi terbaru untuk militer.

DARPA dibentuk Februari 1958 oleh Presiden Dwight D Eisenhower sebagai reaksi atas peluncuran Sputnik 1 oleh Soviet pada 1957.

Karena itulah, sejak awal didirikan DARPA bertanggung jawab memastikan bahwa AS selalu terdepan dalam teknologi militer.

Dengan biaya tak terhingga, DARPA bisa melakukan penelitian yang sering dijadikan impian. Seperti berikut ini, tujuh penelitian DARPA yang sudah terungkap dan memancing keingintahuan publik.

Soft Exoskeletons

Sejak lama, prajurit telah memainkan peran penting dalam pertempuran. Namun terkadang, prajurit terpaksa melakukan pekerjaan terlalu berat yang menguras tenaganya. Ok, robot diciptakan. Namun belum cukup.

Prajurit perlu doping lain untuk menjadikannya seperti supersoldier atau Iron Man dengan kemampuan tinggi, lebih cepat, dan tentu saja lebih kuat.

Soft Exoskeletons. Foto: DARPA

Bekerja dengan peneliti dari Harvard’s Wyss Institute for Biologically Inspired Engineering, Soft Exosuit DARPA ini adalah rangka robotik ringan yang dikembangkan untuk prajurit.

Dengan memasang Exoskeletons, seorang prajurit akan memiliki kekuatan tambahan serta daya tahan. Amunisi pesawat yang berat bisa diangkat sendiri, atau berjalan jauh dengan beban berat.

Mesin cyborg ini menggunakan sensor built-in dan komputer mikro untuk secara cerdas membaca kebutuhan penggunanya.

Pelacak kesehatan model tanam

Kesehatan menjadi urusan penting bagi prajurit. Bagaimana mungkin kesiapan satuan tinggi jika kondisi kesehatan prajuritnya tidak terjaga.

DARPA bekerja sama dengan badan penelitian AD AS, mencoba mencari jawabannya.

Idenya adalah menanam sensor berbasis hidrogel kecil di bawah kulit, dan menggunakannya untuk mengukur biomarker yang berkaitan dengan oksigen, glukosa, laktat, urea, dan tingkat ion.

Sensor-sensor ini bisa berada di dalam tubuh selama dua tahun, dan membacakan informasi langsung ke perangkat yang terhubung seperti smartphone.

Versi umum untuk warga sipil dengan teknologi yang sama, akan membantu mengelola penyakit kronis seperti diabetes.

Peluru berpemandu 

Bayangkan sebuah peluru yang ditembakkan sniper mampu mengubah lintasannya setelah ditembakkan. Terdengar fiksi ilmiah, namun itulah yang dicoba DARPA.

Teknologi ini segera bisa meniadakan masalah saat menembak yang biasanya selalu terkendala cuaca, angin atau kesalahan penembak itu sendiri.

Amunisi EXACTO menggunakan sistem panduan built-in yang memungkinkan peluru tetap pada jalurnya menuju target. Sayangnya proyek ini sangat rahasia sehingga tidak ada penjelasan teknis yang beredar di publik.

Drone pemburu kapal selam

Sebuah drone kapal berbobot 140 ton diciptakan DARPA untuk menjejak keberadaan kapal selam musuh. Drone ini juga bisa digunakan untuk melacak keberadaan ranjau di samudera luas.

Drone antikapal selam DARPA ini bisa beroperasi selama 60-90 hari tanpa butuh intervensi manusia.

Setelah menjalani uji laut, prototipe drone pemburu yang dinamakan Sea Hunter ini sekarang pengembangannya dilanjutkan oleh Office of Naval Research.

Airships raksasa

Proyek Walrus dari DARPA ini digagas untuk menciptakan airship yang mampu membawa muatan 500-1.000 ton dan terbang sejauh 12.000 nautical miles dalam waktu kurang dari seminggu.

Dengan daya angkut besar, Walrus mampu membawa pasukan dalam jumlah banyak berikut perlengkapannya.

Sayangnya proyek Walrus sepertinya tidak akan pernah lepas landas. Namun DARPA terus mencari berbagai inisiatif untuk Hybrid Ultra Large Aircraft (HULA).

Kumbang cyborg pengintai

Berbagai jenis serangga telah dieksplorasi sebagai bagian dari program HI-MEMS, termasuk kumbang dan ngengat implan.

Sebuah chip ditanam di kumbang untuk menjadikannya bisa dikontrol.

Dengan menggunakan implan, peneliti telah menunjukkan cara untuk merangsang otak serangga dan mengendalikannya dalam penerbangan.

Pada akhirnya serangga tersebut dapat digunakan di lapangan untuk mendapatkan akses ke area yang tidak mudah dijangkau manusia atau robot.

Brain-computer interface

Elon Musk mungkin tertarik untuk membuat antarmuka komputer otak berkecepatan tinggi, namun dia tidak memiliki sumber daya yang sebaliknya dimiliki DARPA.

Bekerja dengan berbagai organisasi sebagai bagian dari program Neural Engineering System Design (NESD), DARPA ingin mengembangkan sistem implan yang mampu memberikan komunikasi presisi antara otak dan dunia digital.

Ide di balik proyek ini adalah menemukan cara mengubah sinyal kimia dan listrik dari otak menjadi data yang dapat dibaca mesin, dan sebaliknya.

Hasil akhirnya bisa berarti tautan saraf yang memungkinkan otak manusia memasuki dunia video atau, di sisi lain, memungkinkan komputer untuk melihat secara tepat apa yang kita lihat setiap saat.

 

Teks: beny adrian

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply