MYLESAT.COM – Ada falsafah Jawa kuno dan sangat terkenal mengatakan, Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe. Kiranya ungkapan ini mewakili prestasi yang diraih Letkol Inf Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang yang tengah menempuh program doktoral di London School of Economics and Political Science di London, Inggris.
Ungkapan kuno ini kira-kira bermakna, seseorang yang berhasil meraih prestasi terbaik tanpa pamrih apalagi kehebohan namun sebaliknya sangat produktif.
mylesat.com pun menemukan pencapaian terbaik alumni Akmil 1998 ini justru dari akun Facebook-nya @Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang.
Saking sepinya dari pamrih, prestasi ini ia ukir bertetapan dengan Hari Juang Kartika pada 15 Desember 2020.
Seperti kutipan berikut: Puji Tuhan, bertepatan dengan Hari Juang Kartika tanggal 15 Desember 2020 lalu, saya dinyatakan lulus dalam sidang akhir (viva) di London School of Economics and Political Science (LSE) @londonschoolofeconomics @lseir.
Di akunnya itu, Frega yang pernah menjadi komandan Yonif Linud 330 ini bahkan menyebutkan bahwa dirinya menjadi perwira TNI pertama yang lulus dari program S3 Hubungan Internasional di salah satu kampus terbaik dunia ini.
Saya menjadi perwira TNI @puspentni / TNI-AD @tni_angkatan_darat pertama serta orang Indonesia ke-6 yang lulus dari program S3 Hubungan Internasional di salah satu kampus terbaik dunia ini, yang bersaing dengan kampus top dunia seperti @harvard dan @oxford_uni.

Letkol Frega Wenas saat mengikuti sidang virtual. Foto: FB
Untuk meraih prestasi akademis tertinggi ini, Frega telah menjalaninya dengan penuh perjuangan selama empat tahun. Tulisnya, penuh keringat dan air mata.
“Semoga bisa segera berkontribusi kembali untuk memajukan serta mengharumkan nama TNI dan Indonesia di kancah dunia,” tulisnya.
Kepada mylesat.com, Letkol Inf Frega Wenas mengatakan bahwa ia memang sudah lulus dari sidang. “Masih harus menunggu official report dan ada revisi,” jelasnya.
Frega berhasil mempertahankan tesisnya secara virtual kepada Prof. Kirsten Schulze (Indonesianis terkemuka) sebagai penguji.
Penguji kedua adalah Profesor Andrew Cottey, pakar diplomasi pertahanan dan salah satu legenda di bidang diplomasi pertahanan. Karya Cottey menjadi rujukan akademisi dan peneliti di bidang diplomasi pertahanan.
Untuk meraih gelar doktor, Letkol Frega membuat tesis dengan judul: The Interplay Between Grand Strategy and Defence Diplomacy: Examining Indonesia’s Post-New Order Period.
“Kalau di UK untuk PhD nggak ada cum laude,” jelasnya lagi.
Selain itu Frega juga menjelaskan bahwa dalam program doktoral di Inggris, tidak ada peran supervisor di sidang akhir.
“Kalau tidak ada pandemi, sidang akhir hanya diakhiri oleh penguji saja, satu dari internal kampus dan satu lagi dari eksternal. Yang paling berpengaruh yang dari eksternal kampus,” urainya.
Dengan telah dinyatakan lulus sidang terbuka program doktor ini, Frega telah mengukir sejarah tersendiri bagi TNI. Karena untuk pertama kalinya, perwira TNI dinyatakan lulus dari London School of Economics and Political Science.
“Wisudanya belum tahu kapan karena pandemi, kayaknya sementara belum ada,” jelas Frega.
Letkol Inf Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang meraih beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP (PK 62).
Sejak 2013, perwira berdarah Maando ini tercatat sebagai Dosen Tetap Universitas Pertahanan. Selain mengajar, ia juga aktif menulis di sejumlah media dan sempat membuat beberapa buku.
Sebelum tugas belajar di Inggris, Frega menjabat sebagai Wakapen Kostrad dan Kaspri Pangkostrad.
Sementara karier militernya sebagai perwira infanteri, pernah menjadi Danton II/B Yonif Linud 305/Tengkorak Kostrad, Danton STTB Yonif Linud 328/Dirgahayu Kostrad, Pasi 4/Log Yonif Linud 328, Danki A Yonif Linud 328/Dirgahayu Kostrad, Wadan Den Matan Grup A Paspampres, dan Wadan Den 3 Grup A Paspampres.
Pada saat menjabat Danyonif Linud 330 (sekarang Yonif Para Raider 330) Kostrad, Letkol Inf Frega Wenas sempat menulis buku dengan judul “330 Tri Dharma Prajurit Kujang”.