Setelah 40 Tahun, Israel Rilis Dokumen dan Sketsa Serangan Reaktor Nuklir Osirak di Irak

0

MYLESAT.COM – Operation Opera atau dikenal juga sebagai Operation Babylon, adalah salah satu operasi udara yang paling masyhur. Delapan F-16 Fighting Falcon dan enam F-15 Eagle Angkatan Udara Israel, terbang sejauh 2.000 mil laut untuk secara bersama menyerang reaktor nuklir Irak di wilayah Irak sendiri.

Operasi udara ini di satu sisi memberikan acungan jempol kepada Angkatan Udara Israel yang mampu menyerang target jauh di luar negaranya.

Surprise airstrike ini dilaksanakan oleh delapan F-16 Israel pada 7 Juni 1981, yang menghancurkan reaktor nuklir Irak yang belum selesai dibangun bersama Perancis yang berada 17 km di tenggara Baghdad. Enam F-15 Eagle bertindak sebagai escort.

Setelah berlalu 40 tahun, Israel mulai membuka arsip Angkatan Bersenjata-nya (IDF) yang dipublikasikan pada Selasa, 22 Juni 2021 sebagaimana dikutip timesofisrael.com dan sputniknews.com. Dari dokumen yang dipublikasikan itu, termasuk beberapa sketsa situs nuklir Irak yang akan dibom dan rekaman video flight commander Kolonel Ilan Ramon yang dibuat tahun 2001.

Arsip tersebut juga mendeklasifikasi laporan pasca-operasi yang sebagian telah disunting tentang serangan tersebut, termasuk perintah tertulis panglima militer untuk melakukan serangan, keputusan pemerintah untuk merencanakan operasi pada 1980, dan pertimbangan mengenai tanggal akhir serangan.

Soal menyerang Osirak, Israel memang telah membangun reputasinya dalam melakukan operasi militer jauh dari perbatasannya.

Seperti operasi penyelamatan sandera tahun 1976 di Bandara Entebbe di Uganda dan Operasi Solomon pada 1991, yang diam-diam menerbangkan 14.000 orang Yahudi Ethiopia ke Israel.

Israel sendiri mengenang pada 7 Juni lalu sebagai peringatan 40 tahun operasi saat 14 jet tempur terbang lebih dari 2.000 mil untuk mengebom reaktor nuklir Perancis-Irak yang belum selesai dibangun di luar Baghdad.

Saat itu intelijen Israel menilai bahwa reaktor nuklir itu akan segera beroperasi. Baik Israel maupun Iran khawatir reaktor itu akan digunakan untuk memproduksi bahan bakar bom nuklir.

Kolonel Ilan Ramon, pilot F-16 yang memimpin misi dan kemudian jadi astronot pertama Israel. Foto: timesofisrael.com

Dalam dokumen yang dirilis pada Selasa itu, beberapa di antaranya dicetak ulang oleh Times of Israel, termasuk sketsa rinci dari pembangkit listrik, serta jalur penerbangan F-16A Angkatan Udara Israel yang harus mengambil rute terdekat untuk menyerang fasilitas tersebut.

Dalam salah satu bagian dari dokumen tertulis: “(operasi dalam) + satu minggu, karena pertemuan puncak perdana menteri dan Sadat di Ophira,” membaca catatan dari Panglima Rafael Eitan kepada Kepala Angkatan Udara David Ivry, setelah catatan sebelumnya diselesaikan pada 31 Mei sebagai hari untuk operasi. Memo tersebut mengacu pada pertemuan 4 Juni antara PM Menachem Begin dan Presiden Mesir Anwar Sadat di Sharm el-Sheikh.

Menurut timesofisrael.com, rilis dokumen rahasia ini berkaitan dengan tengah dilaksanakannya proyek digitalisasi arsip IDF. Dalam rilis itu termasuk video dari tahun 2001 yang menampilkan Kolonel Ilan Ramon, pilot F-16 yang memimpin misi dan kemudian jadi astronot pertama Israel.

Kolonel Ramon ditunjuk memimpin misi pada saat-saat terakhir fase persiapan. Ia dinilai paling cakap untuk tugas tersebut, dengan merencanakan peta dan kebutuhan bahan bakar.

Ilan meninggal pada 1 Februari 2003 ketika pesawat ulang alik Columbia pecah saat masuk kembali ke atmosfer, menewaskan kesemua tujuh astronot di dalamnya. Ramon menjadi pahlawan Israel, dengan beberapa sekolah dan lembaga menggunakan namanya.

Reaktor Osirak yang dikerjakan Perancis pada 1970-an, sedang dibangun di Pusat Nuklir Al Tuwaitha sekitar 11 mil selatan ibukota Irak.

Reaktor ini diharapkan akan menghasilkan 40 megawatt, reaktor light-water juga ditakutkan sebagai sumber potensial plutonium tingkat senjata, meskipun reaktor jenis itu hanya menghasilkan sejumlah kecil bahan fisil.

Iran yang telah diserang Irak sebelumnya, turut khawatir dengan keberadaan reaktor Osirak. Karena itu sekitar setahun sebelumnya, Iran berusaha menghancurkan reaktor ini.

Tepatnya 30 September 1980, Iran mengirim empat jet tempur F-4E Phantom hanya beberapa hari setelah Perang Iran-Irak pecah. Iran menyebutnya Operasi Scorch Sword, yang menghasilkan hanya sedikit kerusakan pada reaktor nuklir Irak tersebut.

Saat fajar 30 September 1980, empat Phantom Iran mengisi bahan bakar di udara dekat perbatasan dengan Irak. Setelah menyeberang ke Irak, pesawat naik ke ketinggian tinggi agar tetap tidak terdeteksi radar Irak.

Beberapa saat kemudian, dua Phantom melepaskan diri dan turun ke ketinggian rendah untuk menghindari deteksi radar internal dan mulai terbang senyap ke Pusat Penelitian Nuklir Tuwaitha di tenggara ibu kota Baghdad.

Menurut majalah Inggris Air Enthusiast, Iran dan Israel secara diam-diam berjabat tangan untuk serangan udara ini dan dua operasi berikutnya yang mempersiapkan lokasi untuk serangan IDF pada Juni 1981.

Pada November 1980, sebuah F-4E Phantom Iran mengambil foto close-up situs Osirak yang diteruskan ke intelijen Israel. Kemudian, April 1981, serangan Iran yang berani menghancurkan sejumlah armada pembom strategis Irak di pangkalan udara H-3 di Irak barat, yang bisa digunakan untuk membalas Israel.

Satu hal yang mengagumkan dari serangan udara Israel adalah, kemampuan 14 pesawat Israel membuat formasi sangat rapat sehingga dilukiskan hanya terlihat di layar monitor operator radar Irak sebagai satu noktah saja.

Alias hanya “satu pesawat”, dilaporkan sebagai milik Yordania atau Arab Saudi yang menyelinap ke perbatasan Irak, di mana mereka turun hingga 150 kaki di atas gurun.

Saat mendekati target, jet-jet itu tiba-tiba menanjak cepat hingga beberapa ribu kaki dan kemudian menukik kencang (high-speed dive) untuk memulai serangan yang sangat mengejutkan dan mematikan.

Masing-masing dua bom delayed-fuse dijatuhkan di atas kubah pelindung reaktor, yang langsung menghancurkan target.

Tidak ada satu pesawat Israel pun tertembak dalam Operasi Babylon, karena serangan berlangsung di saat anggota pertahanan udara Irak tengah menikmati makan malam. Mereka sama sekali tidak siap untuk serangan.

Sehari kemudian, Perdana Menteri Menachem Begin mengakui bahwa Angkatan Udara Israel berada di balik serangan itu, berusaha untuk mencegah negara musuh memperoleh senjata nuklir.

Sepuluh warga Irak dan satu warga Perancis tewas oleh bom Israel.

Disadari pihak Israel, pesawat tempur mereka tidak lah memiliki cukup bahan bakar untuk melakukan perjalanan pulang. Karena itu militer bersiap untuk kemungkinan pilot akan ditembak jatuh atau terdampar di Irak.

“Ibuku selamat dari Holocaust, dia berada di Auschwitz dan nyaris tidak selamat. Sebelum berangkat misi ini, jelas bagi saya bahwa ada kemungkinan saya akan tinggal di sana,” kata Ramon dalam video yang dibuat tahun 2001.

Video dibuat saat reuni 20 tahun Operasi Osirak di rumah Yiftach Spektor, yang juga ikut dalam penyerangan.

Skema berwarna reaktor nuklir Osirak di Irak yang dibuat intelijen Israel. Foto: Kemhan Israel

Dalam sebuah wawancara dengan Kolonel (Pur) Ze’ev Raz tahun 2016, disebutkan bahwa Kolonel Ilan Ramon berada di pesawat terakhir dalam formasi. Dilukiskannya bahwa Ramon sangat khawatir akan kemungkinan ditembak jatuh.

“Semua orang tahu yang terakhir adalah yang paling berisiko,” kata Raz saat itu. “Ini seperti kawanan antelop yang dikejar harimau. Orang-orang mengolok-oloknya, mengatakan dialah yang akan dicegat. Jadi dia stres… dia juga tidak punya pengalaman,” tutur Raz.

Menurut Raz, Ramon belum pernah meluncurkan bom pada misi langsung, meski di Osirak ia beroperasi dengan sangat baik dan mengenai target.

Serangan Israel itu menghasilkan reaksi negatif dunia internasional. PBB mengeluarkan beberapa resolusi kecaman, dan diplomat serta pers mengecam tindakan Israel sebagai tindakan provokatif dan bahkan teroris.

Serangan itu mungkin telah menghancurkan ambisi nuklir Presiden Irak Saddam Hussein selama bertahun-tahun.

Selanjutnya selama Perang Teluk 1991 dengan Irak, pesawat-pesawat Amerika Serikat berulang kali menjatuhkan bom di situs Osirak guma memastikan kehancuran dan tidak ada yang tersisa.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply