MYLESAT.COM – Space force menjadi salah satu tema yang menyita perhatian selama berlangsungnya Air and Space Power Conference 2022 (ASPCon22) di Canberra, Australia pada 22-23 Maret 2022. KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo hadir bersama para pimpinan Angkatan Udara dari sejumlah negara. Sudah saatnya kah Indonesia memiliki space force alias pasukan luar angkasa?
Pada hari kedua ASPCon22 yang berlangsung di National Convention Centre Canberra, tema ini disampaikan oleh pejabat senior United State Space Force (USSF) Jenderal John William “Jay” Raymond. Mantan Panglima United States Space Command (Agustus 2019 – Agustus 2020) ini mengangkatnya dengan judul makalah Reflection on Establishing US Space Force.
Dalam paparannya, Jenderal Raymond menyampaikan pemanfaatan ruang antariksa yang dapat digunakan untuk semua misi operasi. Menurutnya, melalui pendekatan inovatif, pemanfaatan ruang antariksa mampu menghasilkan suatu kemampuan dan kekuatan yang berkelanjutan.
Raymond yang kelahiran 30 April 1962 merupakan salah satu petinggi Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dari generasi kelima keluarga militer. Empat leluhurnya yaitu kakek buyut, buyut, kakek, dan ayahnya adalah jebolan West Point sejak 1865.
United States Space Command atau Komando Luar Angkasa Amerika Serikat adalah komando tempur terpadu untuk semua jenis operasi militer luar angkasa. Sedangkan United States Space Force (Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat) adalah dinas militer yang bertanggung jawab untuk mengatur, melatih, dan memperlengkapi sebagian besar pasukan untuk Komando Luar Angkasa AS.

Space Force menjadi salah satu tema yang dibahas dalam Air and Space Power Conference 2022 (ASPCon22) di Canberra. Foto: Dispenau
Komponen dari Angkatan Luar Angkasa AS adalah Komando Operasi Luar Angkasa (Space Operations Command), yang menyediakan sebagian besar pasukan luar angkasa.
US Space Command juga terdiri dari sejumlah kecil pasukan dari Angkatan Darat, Korps Marinir, Angkatan Laut, dan tentunya Angkatan Udara. Ini mencerminkan hubungan antara pendahulu Space Force yaitu Air Force Space Command dan US Space Command (dan antara 2002 dan 2019, United States Strategic Command).
Beberapa negara maju yang sudah menguasai teknologi langitan ini, berusaha membangun kekuatan baru berbasis luar angkasa.
Katakan Rusia, mempunyai Space Command sebagai bagian dari Russian Aerospace Defence Forces yang bertanggung jawab atas kegiatan militer terkait ruang angkasa. Pasukan ini dibentuk pada 1 Desember 2011 ketika Russian Aerospace Defence Forces dibentuk sebagai penggabungan Russian Space Forces dengan bagian dari Angkatan Udara Rusia.
Tanggung jawab komando termasuk peringatan atas serangan rudal, pengawasan ruang angkasa dan kontrol satelit militer. Penggunaan istilah Space Command mungkin dipengaruhi oleh United States Space Command.
China sebagai kekuatan baru militer dunia, juga sudah mengambil ancang-ancang. Angkatan Bersenjata China (PLA) mengakui pentingnya dukungan informasi berbasis ruang angkasa untuk memungkinkan operasi bersama dan memperluas proyeksi kekuatan.
Prioritas ini ditunjukkan lewat pembentukan Pasukan Pendukung Strategis (Strategic Support Force, PLASSF) pada 2015. Pasukan ini memiliki kemampuan perang ruang angkasa, siber, dan elektronik yang terintegrasi.
Pembentukan ini mencerminkan inovasi unik China dalam struktur kekuatan dan paradigma yang diyakini oleh para pemikir PLA, bisa lebih unggul daripada pendekatan AS saat ini.
Di antara upaya yang menunjukkan keseriusan China untuk membentuk kekuatan luar angkasa adalah, dengan mengembangkan berbagai senjata canggih termasuk meningkatkan kekuatan dalam perang siber dan terbang ke Bulan.
Namun PLA juga mengembangkan kemampuan membunuh kinetik secara langsung dan co-orbital yang dapat secara langsung menimbulkan kehancuran.
Sebutlah rudal DN-2 ASAT, yang uji coba pertama tahun 2013, yang memiliki kemampuan potensial untuk merusak satelit AS di orbit geosynchronous. Serta si pencegat di persimpangan (hit-to-kill midcourse interceptor) DN-3, yang berhasil diuji pada Februari 2018.
Ketika AS mempertimbangkan opsi baru untuk mengoptimalkan postur kekuatannya dalam mengantisipasi lingkungan operasional di masa depan, paradigma baru militer China untuk ruang angkasa harus diperhitungkan.
PLA telah memilih untuk mengintegrasikan dan mengonsolidasikan critical mass of authorities dan kemampuan untuk ruang angkasa dalam satu organisasi. Pendekatan ini memiliki keuntungan tertentu, termasuk kemungkinan sumber daya yang lebih besar, pengembangan terpusat dan penggunaan sistem ruang angkasa, dan pendekatan khusus untuk personel dan pelatihan.
Sebagai catatan, PLASSF Space Systems Department juga mengawasi Universitas Teknik Luar Angkasa, yang akan melatih dan mendidik siswa dalam spesialisasi. Mulai dari sistem informasi komando hingga teknologi penginderaan jauh, sambil mengembangkan pemimpin ruang angkasa dan prajurit perang masa depan PLA melalui Space Command Academy.
Tentu ambisi membentuk pasukan luar angkasa China tidak bisa dilepaskan dari jalan panjang yang ditempuh, sejak program luar angkasa China diarahkan oleh Badan Antariksa Nasional China (CNSA). Akar teknologinya berawal dari akhir 1950-an, ketika China memulai program rudal balistik sebagai tanggapan atas ancaman Amerika dan kemudian Soviet.
Namun program luar angkasa berawak pertama China baru dimulai beberapa dekade kemudian. Ketika program percepatan pengembangan teknologi memuncak pada keberhasilan penerbangan Yang Liwei 2003 di atas Shenzhou 5. Pencapaian ini menjadikan China sebagai negara ketiga yang secara mandiri mengirim manusia ke luar angkasa.
Inggris dengan United Kingdom Space Command (UKSC), adalah komando gabungan dari Angkatan Bersenjata Inggris di bawah Angkatan Udara dan dikelola oleh personel dari gabungan dari AL, AD, AU, dan sipil.
UKSC memiliki tiga fungsi: space operations, space workforce generation, dan space capability.
UK Space Command didirikan 1 April 2021 di bawah komando Marsdya Paul Godfrey. Komando baru ini memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya operasi, tetapi juga menghasilkan, melatih dan menumbuhkan kekuatan, memiliki dana sendiri dan menempatkan semua ketelitian program untuk memberikan kemampuan baru.
Markas besar UKSC berada di RAF High Wycombe berlokasi bersama dengan Komando Udara.
Terakhir, Australia juga sudah membentuk komando luar angkasa. Defence Space Command dibentuk pada 18 Januari 2022. Bagi Australia, pembentukan ini jelas ditujukan untuk mencapai ambisi ruang angkasa strategis dan memimpin upaya untuk menjamin akses Australia ke luar angkasa.
Australia mengumumkan bahwa Defence Space Command Agency yang baru dibentuk ini, salah satunya ditujukan untuk melawan pengaruh Rusia dan China yang berkembang di luar angkasa.
Marsdya Catherine Roberts yang mengepalai badan ini mengatakan, seperti dikutip indianexpress.com, khawatir dengan “kegiatan China dan Rusia” (di ruang angkasa). Ia menambahkan bahwa satelit China dapat dengan mudah menghancurkan Jaringan Broadband Nasional Regional Australia.
Kepala Angkatan Udara Australia Marsekal Mel Hupfeld menambahkan, pemerintah Australia berkomitmen untuk meningkatkan investasi secara signifikan dalam kemampuan luar angkasa dengan menyuntikkan sekitar 7 miliar dolar Australia pada dekade ini untuk memastikan akses ke ruang angkasa, satuan antariksa, dan informasi geospasial.
Pada saat pembentukan itu, Pemerintah Australia mengeluarkan pernyataan yang kurang lebih begini.
“Ruang angkasa menjadi lebih padat, diperebutkan, dan kompetitif dengan lebih dari 7.500 satelit saat ini mengorbit Bumi, dan ribuan lainnya diluncurkan setiap tahun. Kami meningkatkan kemampuan kedaulatan kami sehingga pasukan Australia akan dapat mengontrol apa yang kami lihat dan kapan kami melihatnya. Ini sangat penting untuk keselamatan dan kemampuan pasukan kami dan akan memastikan kami dapat merespons secara efisien dan efektif bila diperlukan.”
Pemerintah Australia berencana menginvestasikan total 7 miliar dolar Australlia selama 10 tahun ke depan, agar Australian Defence Force menjadi kontributor luar angkasa. Bukan hanya menjadi konsumen, seperti yang terjadi saat ini.
Australia juga akan berinvestasi dalam meningkatkan dan mendukung sistem komunikasi satelit yang ada dan yang akan datang, termasuk satelit komunikasi dan stasiun kontrol darat yang akan berada di bawah kendali Australia yang berdaulat.
Pemerintah Australia berencana untuk melipatgandakan ukuran sektor luar angkasa pada tahun 2030.
Beberapa negara maju lainnya juga memiliki pasukan semacam Space Command. Seperti Jepang dengan Space Operations Squadron, Perancis dengan Commandement de l’Espace dan Jerman dengan Space Situational Awareness Centre di Uedem.
Jerman terpicu membentuk pasukan luar angkasa setelah pada 2020, deklarasi NATO menyebutkan bahwa luar angkasa adalah domain operasional baru bagi para anggotanya. Ruang angkasa telah dianggap NATO sebagai domain kelima selain keamanan siber, darat, udara, dan laut. NATO juga menetapkan ruang angkasa sebagai salah satu prioritas utamanya for emerging and disruptive technologies (untuk teknologi yang muncul dan mengganggu).
Lalu berapa pula biaya yang dibutuhkan AS untuk membangu sebuah Space Force?
Departemen Pertahanan AS pada Mei 2019 pernah menolak perkiraan independen yang mengklaim bahwa biaya satu kali untuk mendirikan Angkatan Luar Angkasa mencapai 4,7 miliar dolar AS.
Seperti yang diusulkan Administrasi Trump saat itu, Angkatan Luar Angkasa akan menjadi komponen militer terpisah yang terletak di dalam Angkatan Udara dan akan mengambil alih banyak dari berbagai fungsi terkait ruang angkasa dari matra lainnya.
Namun seperti dikutip spaceforce.mil pada Juni 2021, Air and Space Forces merilis proposal anggaran gabungan pada 28 Mei sebagai bagian dari keseluruhan permintaan pengeluaran administrasi Biden untuk Tahun Anggaran 2022.
Permintaan Departemen Angkatan Udara mencapai 173,7 miliar dolar AS, meningkat 3% dari anggaran saat ini. Anggaran Angkatan Udara sebesar 156,3 miliar dolar mewakili peningkatan 2,3%, dan anggaran Angkatan Luar Angkasa sebesar 17,4 miliar adalah peningkatan 13,1% dari TA 2021.
“Angkatan Udara masa depan kita harus gesit (agile), tangguh (resilient), dan terhubung, dengan kemampuan untuk menghasilkan efek hampir seketika kapan saja, di mana saja, tidak hanya kadang-kadang, di beberapa tempat, tetapi kapan saja dan di mana saja,” kata Kepala Staf AU AS Jenderal CQ Brown, Jr.
Bagaimana Indonesia
Menurut pemerhati pertahanan dan juga Rektor Universitas Multimedia Nusantara, Dr. Ninok Leksono, masih terlalu dini bagi Indonesia untuk membicarakan space command. Meski tentu tidak ada salahnya dijadikan wacana.
“Kedaulatan dirgantara versi kesepakatan FIR membagi atas ketinggian. Kalau Komando Ruang Angkasa banyak yang menafsirkan bahwa kedaulatan itu, ya, sejauh Anda bisa menjaganya,” ujar Ninok yang mendalami juga soal Strategic Defense Initiative (SDI) atau disebut Star Wars Program.
Wartawan senior ini mencontohkan pesawat mata-mata AS, SR-71 Blackbird yang memiliki kecepatan maksimum Mach 3,32 dan terbang di ketinggian 85.000 kaki alias 26 kilometer.
Menurut Ninok, pesawat ini bisa melenggang mengintai negara lain karena ketinggian terbang dan kecepatannya tidak ada yang menandingi. Apalagi sebuah satelit, sesuatu yang belum terjangkau oleh negara berkembang.
Secara ideal untuk negara dengan rentang geografi sepanjang dan selebar Indonesia, space command adalah satu keniscayaan. Aerospace defence dan aerospace platform untuk pengamanan maritim, merupakan dua contoh fungsinya yang disebutkan.
“Tapi akan jadi ironi kalau ada lembaganya tapi tidak ada infrastruktur penunjang. Sebagaimana halnya air defence dan maritime defence, Indonesia selalu under-powered, ini memprihatinkan,” ungkap Ninok.
“Ide space command sebagai sesuatu yang ideal ok, tapi kita belum ada kemampuan untuk mewujudkannya. Jadi, ya, satelit mata-mata negara lain masih leluasa mengintai wilayah Indonesia,” ungkap Ninok kritis.
Di sisi lain, Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D sebagai ahli penginderaan jauh dan Full Professor di Center for Environmental Remote Sensing, Universitas Chiba, Jepang, mengakui bahwa dirinya sudah menyinggung soal space command sejak jauh-jauh hari.
“Setiap ketemu para petinggi Hankam selalu saya sampaikan. Bahkan pernah saya buatkan proposal untuk menggunakan bekas Mabes AU di Pancoran,” aku Josaphat yang merupakan putra purnawirawan Kopasgat.
Dituturkan Josaphat, Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat luas harus mempunyai komando seperti ini. Karena saat ini, ungkapnya, serangan mematikan menggunakan ICBM (inter-continental ballistic missiles) dan drone pada saatnya akan segera masuk wilayah ruang angkasa.
Karena itu Jospahat menekankan bahwa perlu bagi Indonesia membentuk space command.
“Memang ke depan kita perlu. Walau konsep kita bertahan, tapi perlu melumpuhkan juga musuh kita di mana saja,” katanya.
Prof. Josaphat menyebutkan bahwa Indonesia Space Command akan lebih elok jika berada di bawah TNI AU atau Kementerian Pertahanan.
Mengutip ucapan visioner Presiden Soekarno dalam peringatan HUT AURI 1955: “Kuasailah udara untuk melaksanakan kehendak nasional karena kekuatan nasional di udara adalah faktor yang menentukan dalam perang modern.”