MYLESAT.COM – Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan bahwa pemerintah berencana membeli 400 rudal Tomahawk Land Attack Missile (TLAM) buatan Amerika Serikat untuk digunakan dalam latihan kemampuan serangan balik.
Pengumuman ini adalah pertama kalinya pemerintah Jepang mengungkapkan berapa banyak rudal Tomahawk yang akan dibeli. Pemerintah Jepang mendekati pemerintah AS untuk membeli rudal jelajah Tomahawk untuk menyerang pangkalan musuh dan serangan balik.
Pemerintah Jepang memutuskan membeli Tomahawk sebelum rudal jelajah domestik buatan sendiri yaitu “Type 12 Surface-to-Ship Missile”, mulai beroperasi penuh.
Jepang berencana mengerahkan model Tomahawk terbaru dengan jangkauan sekitar 1.600 kilometer pada tahun fiskal 2026 hingga 2027. Sementara itu, Kishida menghindari menyebutkan berapa biaya yang akan dikeluarkan pemerintah untuk setiap rudal.
Pemerintah Jepang mengklarifikasi kepemilikan kemampuan serangan balik ketika merevisi tiga dokumen keamanan nasional utama negara akhir tahun lalu. Di bawah dokumen yang direvisi, Jepang telah memutuskan untuk mengubah postur pertahanannya dan meningkatkan anggaran pertahanannya menjadi dua persen dari PDB dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Tomahawk Land Attack Missile (TLAM) adalah rudal jelajah subsonik jarak jauh, segala cuaca, bertenaga jet, dan bertenaga subsonik yang terutama digunakan Angkatan Laut Amerika Serikat dan Angkatan Laut Inggris.
Rudal ini dimaksudkan untuk mengisi peran sebagai rudal jarak menengah hingga jarak jauh dengan ketinggian rendah yang dapat diluncurkan dari platform perang permukaan laut, dan menampilkan desain modular yang mengakomodasi berbagai macam hulu ledak, pemandu, dan kemampuan jangkauan.
Pada 2019, satu-satunya varian yang beroperasi adalah varian non-nuklir yang diluncurkan dari laut. Rudal yang sering dijadikan serangan pembuka AS dalam sejumlah konflik, hanya diproduksi di BAE di Aberdeen, South Dakota.
Sementara Type 12 Surface-to-Ship Missile adalah rudal antikapal dipasang di truk yang dikembangkan Mitsubishi Heavy Industries Jepang pada 2012. Tipe 12 memiliki fitur INS dengan panduan GPS di tengah lintasan dan presisi yang lebih baik karena kemampuan pencocokan kontur medan dan diskriminasi target yang ditingkatkan.
Senjata ini berjejaring, di mana penargetan awal dan tengah lintasan dapat disediakan oleh platform lain. Juga memiliki waktu isi ulang yang lebih singkat, biaya siklus hidup lebih rendah, dan jangkauan 124 mil (200 km).
Kementerian Pertahanan menyetujui pengembangan versi perbaikan SSM Tipe 12. Jangkauannya akan diperpanjang dari 200 km menjadi 900 km, dengan target masa depan 1.500 km.
Rudal ini akan memiliki bentuk tersembunyi untuk mengurangi RCS, serta mobilitas tinggi untuk mencegah pencegatan dari musuh. Rudla ini tidak hanya dapat menyerang kapal angkatan laut, tetapi juga target darat.