MYLESAT.COM – TNI Angkatan Udara dan US Pacific Air Force (USPACAF) terus meningkatkan kerja sama dalam berbagai bidang. Berbagai latihan bersama dan kerja sama itu kembali dibicarakan dan diperkuat dalam forum 15th Airman to Airman Talks.
Pertemuan berlangsung di Hotel Gran Melia Kuningan Jakarta dari 9 – 11 Mei 2023. Wakil Asisten Operasi (Waasops) KSAU Marsma TNI Suliono memimpin delegasi TNI AU dalam dalam 15th Airman to Airman Talks antara TNI AU dan USPACAF.
Sementara delegasi USPACAF dipimpin Brigjen Sarah H. Russ beserta delegasi dari USPACAF, Hawaii Air National Guard dan US Embassy.

15th Airman to Airman Talks diisi forum diskusi untuk menyamakan pandangan dalam perlaksanaan kerja sama. Foto: Dispenau
Kegiatan yang dilaksanakan selama 15th Airman to Airman Talks adalah pembahasan mengenai jenis latihan bersama, pertemuan, seminar/simposium, pendidikan, logistik dan bidang lainnya yang dapat menjalin persahabatan antar kedua Angkatan Udara. Baik yang akan dilaksanakan di sisa tahun 2023 dan perencanaan untuk 2024.
Selain pembahasan mengenai kegiatan bilateral, disampaikan beberapa presentasi dari peserta yang bertema, Air Domain Awareness, Enlisted Force Deployment, Air Intelligence Operation dan Acquisition Cross Service Agreement (ACSA).
Diharapkan hasil dari kegiatan 15th Airman to Airman Talks dapat mempererat hubungan bilateral di antara kedua negara, khususnya Angkatan Udara.
TNI AU dan USPACAF telah menjalin berbagai kegiatan bersama selama puluhan tahun. Hubungan baik itu terangkum dalam komitmen bersama untuk meningkatan kerja sama dan dalam rangka menjaga stabilitas Kawasan.
Seperti Latma Cope West Mobility Air Force, Latma CARAT/MAREX, Latma Teak Spear Iron, dan Latma Cope West. Selain itu, kerja sama di bidang personel juga dilaksanakan dengan mengirim personel TNI AU untuk menempuh pendidikan di Angkatan Udara Amerika Serikat, termasuk mengirim taruna ke Akademi Angkatan Udara Amerika Serikat (United State Air Force Academy, USAFA) di Colorado.
Dua latihan yang monumental menandai hubungan baik kedua angkatan udara adalah, dilaksanakannya Latma AMX Bomber di atas Laut Sulawesi pada 1 September 2021. Dalam latihan untuk pertama kalinya ini, tiga pesawat F-16 Fighting Falcon Skadron Udara 3 TNI AU melaksanakan manuver udara dengan pembom B-52H Stratofortress USAF.
Pertama kali juga dalam sejarah hubungan kedua angkatan udara, adalah latihan pengisian bahan bakar di udara di atas Jawa Timur dan Bali. Latihan berlangsung pada 4 Maret 2023.
Dalam latihan, TN IAU melibatkan pesawat tempur F-16 dari Lanud Iswahyudi. Sementara USAF mengirimkan pesawat tanker Boeing KC-135 Stratotanker.
”Air to Air Refueling bertujuan untuk mencetak para penerbang pesawat tempur F-16 agar memiliki kemampuan Air to Air Refueling sehingga pesawat F-16 bisa menambah radius of action dan loiter time dalam melaksanakan operasi dan latihan,” jelas Komandan Lanud Iswahjudi Marsma Irwan Pramuda saat itu.
Menurut Kadispenauau Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah, ini adlaah latihan pertama dalam 27 tahun terakhir bagi TNI Angkatan Udara.

Waasops KSAU Marsma TNI Suliono memimpin pertemuan bersama Brigjen Sarah H. Russ dari USAF. Foto: Dispenau
KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo pernah mengungkapkan bahwa angkatan udara itu adalah komunitas global. Karena itu menjadi keniscayaan bagi TNI AU untuk menjalin dan meningkatkan kerja sama dengan seluruh angkatan udara dunia.
Tentu dalam kapasitasnya sebagai Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Fadjar memainkan peran diplomatik yang tidak kecil dalam menyeleraskan semua bentuk kerja sama ini.
Melalui berbagai pertemuan baik formal maupun nonformal dengan mitranya dari USAF, Fadjar telah memuluskan semua bentuk kerja sama yang dibicarakan dalam Airman to Airman Talks.
Kita masih ingat Latma Cope West 2021 di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru di tengah masa suram pandemi Covid-19, Fadjar tanpa ragu mengetuk palu untuk meneruskan Latma meski suasana tidak kondusif.
“Kita harus terus berlatih dalam situasi apapun, ada atau tidak ada Covid-19, latihan harus tetap dilaksanakan karena menyangkut skill penerbang yang harus dijaga dan bahkan ditingkatkan,” ungkap Marsekal Fadjar Prasetyo waktu itu.