MYLESAT.COM- Kementerian Pertahanan Indonesia dan Turkish Aerospace menandatangani kesepakatan untuk pembelian 12 wahana udara tanpa awak (drone) Anka. Drone tempur itu dibeli Kemenhan dengan nilai kontrak 300 juta dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 4,53 triliun.
Presiden dan CEO Turkish Aerospace, Temel Kotil, mengatakan bahwa Turkish Aerospace dan Indonesia telah menandatangani perjanjian pembelian 12 unit pesawat tanpa awak Anka.
Dalam kesepakatan, enam unit Anka pertama akan diproduksi di Turki sementara enam unit Anka kedua akan dirakit di Indonesia bersama PT Dirgantara Indonesia melalui program transfer teknologi. “Dalam kontrak memang disebutkan seperti itu (alih teknologi) karena kami ingin mendukung Indonesia untuk dapat mengembangkan sistem pertahanan,” kata Kotil.
Anka merupakan pesawat tanpa awak dengan ketinggian menengah untuk pengawasan jarak jauh. UAV ini memiliki daya tahan hingga 30 jam, dapat terbang hingga ketinggian 30.000 kaki dan memiliki jangkauan kurang lebih 250 kilometer.
Seperti dikatakan perusahaan, Anka adalah platform yang telah terbukti dalam pertempuran yang dapat bekerja dalam operasi termasuk di lingkungan yang tidak dapat diakses GNSS (Global Navigation Satellite System) dan lingkungan perang elektronik lainnya.
Drone ini dilengkapi beberapa sensor termasuk intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR); penargetan; serangan udara-ke-darat; pengawasan maritim; perlindungan perbatasan dan pantai; relai komunikasi; serta peperangan elektronik dan intelijen sinyal.
Diperkenalkan tahun 2010, Anka memenangkan kontrak pertamanya pada tahun 2013 dari Angkatan Udara Turkiye.
“Proses pembelian ditandai dengan penandatanganan kontrak dengan pihak penyedia yaitu Turkish Aerospace pada 3 Februari 2023,” kata Kepala Biro Humas Setjen Kemenhan Brigjen Edwin Adrian Sumantha beberapa waktu lalu. Edwin mengatakan, nilai kontrak masih dalam proses aktivasi di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Pengiriman 12 unit Anka akan dilaksanakan 32 bulan setelah kontrak efektif. Dalam kontrak pembelian juga termasuk kontrak tambahan berupa Integrated Logistic Support (ILS), Ground Support and Test Equipment (GS&TE), Flight Simulator, Infrastruktur Hanggar, dan pelatihan serta masa garansi selama 24 bulan atau 600 jam terbang.
Pihak Kemenhan tidak menyebutkan operator drone Anka jika kelak tiba di tanah air. Namun sejauh ini, TNI AU memiliki dua skadron drone yaitu Skadron Udara 51 di Pontianak dan Skadron Udara 52 di Natuna. Skadron 51 diperkuat drone Aerostar, sedangkan Skadron 52 berkekuatan drone CH (Chang Hong)-4 Rainbow.