MYLESAT.COM – Seiring dengan bergulirnya Exercise Talisman Sabre 2025 (TS25) di berbagai wilayah Australia, langit di atas Queensland menandai sebuah tonggak baru dalam komitmen Pertahanan terhadap energi yang lebih bersih melalui penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Dalam momen bersejarah ini, mitra dari Australia dan Inggris menguji teknologi bahan bakar ramah lingkungan tersebut menggunakan pesawat KC-30A Multi-Role Tanker Transport (MRTT) milik Royal Australian Air Force (RAAF), dalam penerbangan VIP.
SAF merupakan bahan bakar bersertifikat yang dapat langsung digunakan (drop-in fuel) baik di penerbangan militer maupun sipil di seluruh dunia.
Ketika dicampur dengan bahan bakar fosil sesuai standar internasional, SAF tidak memerlukan modifikasi apapun pada pesawat maupun infrastruktur bahan bakar. Bahkan, secara keseluruhan, SAF berpotensi mengurangi emisi karbon sepanjang siklus hidupnya hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar fosil murni.
Dalam misi kali ini, SAF digunakan untuk mengisi bahan bakar pesawat MRTT dari Skadron 33 di Pangkalan Udara RAAF Amberley, Queensland, sebelum menjalankan tugas dalam rangka TS25. Bahan bakar disediakan oleh mitra strategis pertahanan dalam bidang bahan bakar, Viva Energy.
Brigjen Mark Baldock, Direktur Jenderal Kemampuan Bahan Bakar, menjelaskan bahwa latihan Talisman Sabre adalah kesempatan ideal untuk menguji teknologi bahan bakar baru dalam kondisi operasional yang nyata.
“Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi. Membuktikan bahwa bahan bakar alternatif dapat diandalkan berarti memperluas dan mendiversifikasi rantai pasok kita. Dan tentu saja, ada manfaat besar dalam pengurangan emisi,” ujar Baldock.
Menurutnya, latihan seperti Talisman Sabre memberi peluang luar biasa untuk bekerja sama dengan industri dan mitra internasional dalam menguji bahan bakar generasi baru dengan tetap mendukung kesiapan operasional dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
“Kita sedang membangun sistem bahan bakar masa depan, dengan kolaborasi erat bersama industri, sekutu internasional, dan para personel yang mengoperasikan sistem ini baik di darat maupun di udara,” katanya.
Dari sisi pengguna, Letnan Penerbang Michael Que Hee dari Skadron 33, yang menjadi pilot dalam misi tersebut, mengatakan bahwa peralihan ke SAF terasa sangat mulus.
“Dari kokpit, tidak ada perbedaan, pesawat terbang persis seperti biasa,” ungkap Letnan Que Hee. “Yang membuat kami bangga adalah mengetahui bahwa kami turut memperkuat rantai pasok bahan bakar dan mengurangi emisi hanya dengan menjalankan tugas kami sehari-hari.”
Hal serupa juga dirasakan teknisi pesawat, Prajurit Udara Tikiri Lamb, yang turut mempersiapkan penerbangan VIP tersebut.
“Dengan peralatan dan prosedur yang sama, pengisian bahan bakar SAF tidak berbeda dengan bahan bakar biasa,” katanya. “Rasanya menyenangkan mengetahui bahwa kami berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar, tanpa harus mengubah cara kami bekerja.”
SAF sendiri diproduksi dari bahan-bahan terbarukan seperti minyak goreng bekas, limbah lemak, dan minyak nabati. Ini adalah bagian dari upaya lebih luas untuk mempercepat transisi energi bersih di lingkungan pertahanan guna mendukung ketahanan dan keamanan pasokan bahan bakar.
Penggunaan SAF oleh militer Australia mencerminkan tujuan utama dalam sejumlah strategi nasional seperti National Defence Strategy 2024, Defence Net Zero Strategy, dan Defence Future Energy Strategy. Semua strategi tersebut mendorong kemandirian energi, tanggung jawab iklim, dan keamanan pasokan bahan bakar di masa depan.
Dengan terus mendorong inovasi energi bersih, inisiatif SAF dalam latihan TS25 menjadi bukti nyata bahwa kesiapan operasi dan kepedulian lingkungan bisa berjalan seiring dalam kemitraan strategis yang saling menguatkan.