Dari Runway ke Highway: Adaptasi Kekuatan Udara Modern di Jalan Raya

0

MYLESAT.COM – Dalam peperangan modern, pangkalan udara dan landasan menjadi salah satu sasaran penting karena lumpuhnya landasan dapat membatasi kemampuan sebuah angkatan udara untuk menghasilkan kekuatan tempur.

Karena itu, kesiapan tempur sebuah negara tidak cukup hanya diukur dari jumlah pesawat dan persenjataan, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan operasi ketika pangkalan utama tidak dapat digunakan.

Betul, pemahaman ini bukan konsep baru. Penggunaan jalan raya sebagai landasan darurat (highway strip) pesawat militer sudah memiliki sejarah panjang, terutama sejak Perang Dingin.

Salah satu contoh paling jelas adalah Jerman Barat. Sejak 1960-an, sejumlah ruas Autobahn disiapkan sebagai emergency landing sites. Pada Operation Highway 84 tahun 1984, NATO melakukan latihan besar di Autobahn A29.

Pesawat seperti F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, Tornado, A-10 Thunderbolt, Mirage III, C-160 Transal, hingga C-130 Hercules melakukan pendaratan dan operasi dari ruas jalan tersebut. Tujuannya adalah memastikan pesawat tetap dapat beroperasi apabila pangkalan udara utama dihancurkan atau tidak dapat digunakan.

Konsep ini juga sangat menonjol di Swedia dan Finlandia. Swedia sejak era Perang Dingin mengembangkan sistem penyebaran kekuatan udara sehingga pesawat tidak bergantung pada pangkalan besar.

Finlandia sampai sekarang mempertahankan latihan road base, dan pada 2024 pesawat F/A-18 Hornet, Eurofighter, dan F-35 Lightning II  berlatih menggunakan ruas jalan sebagai landasan dalam latihan Baana.

Menariknya, konsep tersebut kembali mendapat perhatian besar dalam peperangan modern. Inggris, misalnya, pada 2023 menerbangkan Eurofighter Typhoon dari jalan di Finlandia sebagai bagian dari konsep Agile Combat Employment—yaitu menyebarkan pesawat ke berbagai lokasi agar lebih sulit ditemukan dan dihancurkan lawan.

Bahkan pada Juni 2026, C-130J Amerika Serikat melakukan pendaratan di Highway 44 di Swedia, yang disebut sebagai pendaratan pertama C-130J USAF pada sistem jalan raya Swedia.

Jadi, kalau dikaitkan dengan Indonesia, pemanfaatan jalan tol atau jalan raya sebagai landasan pesawat militer sebenarnya merupakan bagian dari konsep yang sudah teruji dalam sejarah pertahanan, bukan sekadar atraksi atau latihan penerbangan.

Yang berubah adalah konteks ancamannya. Pada era Perang Dingin, konsep ini terutama ditujukan untuk menghindari kehancuran kekuatan udara akibat serangan terhadap pangkalan utama. Sekarang, konsep tersebut semakin relevan karena hadirnya rudal jarak jauh, drone, satelit, dan kemampuan pengintaian yang membuat pangkalan udara permanen semakin mudah ditemukan dan menjadi sasaran.

Dengan kata lain, semakin mudah musuh menemukan pangkalan, semakin penting kemampuan untuk berpindah, menyebar, dan tetap menghasilkan kekuatan udara dari lokasi alternatif. Itulah filosofi utama di balik highway strip dan Agile Combat Employment.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply