MYLESAT.COM – Memulai rangkaian kunjungannya di Singapura, Senin (3/1/2022), KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menyambangi Sembawang Air Base. Pangkalan militer RSAF (Republic of Singapore Air Force) yang berada di Sembawang, di utara Singapura ini menjadi rumah bersama bagi armada helikopter militer Singapura. Sembawang Air Base mempunyai motto Swift and Resolute.
Dari data terbuka di dunia maya, saat ini diperkirakan ada 100 helikopter militer dipangkalkan di Sembawang Air Base. Baik yang dioperasikan oleh AU, AD maupun AL Singapura.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menerima jajar kehormatan di Sembawang Air Base. Foto: Dispenau
Bagi RSAF, Sembawang adalah juga rumah bagi semua skadron helikopter. Terdiri dari helikopter AS332 Super Puma, H225M Caracal,CH-47SD Chinook, Sikorsky S-70B, Fennec, dan Bell UH-1H yang saat ini disimpan sebagai cadangan.
Pendatang baru di Sembawang adalah helikopter serang Boeing AH-64D Longbow Apache.
Kedatangan KSAU di Sembawang langsung disambut oleh Kepala Staf RSAF Mayjen Kelvin Khong Boon Leong. Setelah menerima penghormatan dari pasukan jajar kehormatan (camp welcome guard), KSAU didampingi Kepala Staf RSAF melakukan pemeriksaan pasukan.
Selanjutnya di ruang briefing Sembawang, KSAU dan rombongan mendapat penjelasan dari Letkol Tan Xi Jie yang merupakan Kepala Kantor Strategis RSAF.
Saat memberikan sambutan singkatnya, Marsekal Fadjar mengatakan bahwa kunjungannya ini merupakan bentuk apresiasi dan keinginan TNI AU untuk terus menjalin hubungan baik dengan RSAF. “Kita telah menjalin hubungan baik selama ini seperti latihan bersama, dan akan terus meningkatkannya untuk kemudian hari,” ujar Marsekal Fadjar.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo mendengarkan penjelasan tambahan dari Kepala Staf RSAF. Foto: Dispenau
Secara rinci dengan menggunakan puluhan slide, Letkol Tan memaparkan profil RSAF sejak dari masa pembentukannya hingga kondisi aktual saat ini.
Dari paparannya terlihat jelas bahwa RSAF adalah sebuah angkatan udara yang sangat modern dan ideal untuk sebuah negara sebesar Singapura. Baik dari sisi luas negara maupun populasi penduduknya.
Seperti diketahui, RSAF mengoperasikan sejumlah alutsista modern. Karena keterbatasan daerah latihan, RSAF juga menempatkan detasemen di luar negeri. Seperti di Perancis, Amerika Serikat, Australia, dan Thailand.
Pada tahun 1990-an, RSAF juga pernah menempatkan satu detasemen latihan di Lanud Roesmin Nurjadin di Pekanbaru. Namun kerja sama ini tidak diperpanjang dan berhenti sekitar tahun 2010.
Saat ini secara keorganisasian, Mabes RSAF hanya digerakkan oleh enam bagian utama yang di dalamnya sudah termasuk Kepala Staf. “Organisasi RSAF sangat kecil, kami berusaha membuatnya seefisien dan seefektif mungkin,” ungkap Mayjen Kelvin yang merupakan penerbang F-16 Fighting Falcon dan F-15SG Strike Eagle.
Mayjen Kelvin mengakui bahwa negaranya menghadapi masalah dengan keterbatasan sumber daya manusia. Karena itu mudah bagi RSAF untuk merekrut generasi muda. Itu sebabnya, sistem operasional dan fungsi-fungsi teknis di lingkungan RSAF dibuat seringkas mungkin dengan memanfaartkan kemajuan teknologi.
Satu hal yang menarik adalah sebuah unit ekspedisi yang baru dibentuk untuk bertanggung dalam hal pemeliharaan dan perbaikan runway. Guna mengetahui kerusakan, kelayakan, dan kondisi landasan, tim ini bekerja dengan menggunakan drone khusus.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menanyakan rencana penerbangan kepada Letkol Joe EE. Foto: Dispenau
Dengan sejumlah sensor yang ditanam di pesawat tanpa awak ini, bisa memberikan data yang dibutuhkan untuk perbaikan. Artinya, drone tidak hanya mampu menangkap imej kondisi landasan yang rusak dengan resolusi tinggi, namun juga memberikan data bentuk kerusakan hingga kedalaman lubang yang ditemukan di landasan.
“Sudah tidak ada lagi personel yang melihat secara langsung, meskipun pemeriksaan secara visual tetap yang terbaik,” aku Mayjen Kelvin. Penggunaan drone ini dinilai lebih cepat dan bisa mengurangi beban kerja.
Dengan menyimak paparan ini, KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo mengakui bahwa banyak hal positif bisa dipelajari dari RSAF. “Kami tentu akan mempelajari hal-hal positif yang tadi disampaikan dan mungkin bisa diadopsi di lingkungan TNI AU,” kata KSAU.
Usai mendengarkan paparan profil RSAF yang juga diperkuat oleh keterangan tambahan dari Mayjen Kelvin, Marsekal Fadjar dan pejabat utama TNI AU mengikuti program berikutnya yang tak kalah serunya.
Selama 45 menit, KSAU dan pejabat TNI AU mengikuti joy flight dengan helikopter H225M Caracal dari Skadron 125.
Diterbangkan langsung oleh Komandan Skadron 125 Letkol Joe EE, KSAU dan Kepala Staf RSAF mengelilingi hampir seluruh wilayah Singapura. Kegiatan ini dinamakan Helicopter Familiarization Flight (HFF).
KSAU dan pejabat TNI AU lainnya mengikuti HFF dengan menempuh rute Sembawang, SAFTI (Singapore Armed Forces Training Institute), St. John Island, Paya Lebar, dan kembali ke Sembawang.
Sembawang AB
Pangkalan ini dinamakan Sembawang Air Base (SBAB) pada 1971 saat dialihkan kepada Komando Pertahanan Udara Singapura (SADC).

Foto bersama sebelum KSAU dan rombongan meninggalkan Sembawang Air Base. Foto: Dispenau
Dari 1971 hingga 1976, di bawah kesepakatan Five Power Defence Arrangements (FPDA), Sembawang menjadi pangkalan bagi pasukan Inggris, Australia, dan Selandia Baru.
Mulai 1983, pangkalan udara ini menjadi sepenuhnya diisi armada sayap putar ketika skadron helikopter pertama yaitu Skadron 120, dipindahkan secara permanen dari Changi Air Base.
Saat ini di Sembawang Air Base menjadi pangkalan bagi enam skadron helikopter militer Angkatan Bersenjata Singapura.
Terdiri dari Skadron 120 helikopter AH-64D Longbow Apache, Skadron 123 helikopter S-70B Seahawk, Skadron 124 helikopter EC-120 Colibri, Skadron 125 helikopter AS332M Super Puma dan helikopter H225M Caracal, Skadron 126 helikopter AS532UL Cougar, dan Skadron 127 helikopter CH-47D Chinook dan CH-47SD Chinook.
Satu hal menarik dari pengoperasian helikopter oleh Angkatan Bersenjata Singapura adalah, semua helikopter dari berbagai jenis ini diterbangkan oleh penerbang RSAF. Dengan kata lain, semua alutsista yang mampu terbang atau diterbangkan, dioperasikan oleh RSAF namun penggunaannya untuk angkatan laut atau darat.
Sebelum meninggalkan Sembawang Air Base, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dan Kepala Staf RSAF Mayjen Kelvin Khong Boon Leong saling bertukar plakat dan koin. Tak lupa KSAU memberikan buku Indonesian Air Force In Pictures.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menerima jajar kehormatan di Sembawang Air Base. Foto: Dispenau
Dari Sembawang, KSAU melanjutkan kunjungannya ke Skadron 112 yang berada di Changi Air Base. Skadron ini mengoperasikan enam pesawat tanker Airbus A330 MRTT (Multi Role Tanker Transport).
A330 MRTT RSAF telah mencapai status kemampuan operasional penuh (FOC) pada 21 April 2021. Pencapaian ini diumumkan langsung oleh Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen saat upacara di Changi Air Base (East), menandai tonggak sejarah tersebut.
Pesawat tanker A330 MRTT ini mengantikan armada terdahulu Boeing KC-135R yang telah dioperasikan RSAF sejak 23 Agustus 2002.
Pesawat tanker Airbus A330 MRTT sampai saat ini masih menjadi harapan TNI AU untuk bisa mengoperasikannya. Keinginan untuk mengoperasikan A330 MRTT sudah terendus sejak akhir 2018. Dari tiga pesawat pilihan, TNI AU akhirnya memutuskan pilihannya kepada A330 MRTT.