Jelang ASPCon22 di Canberra, KSAU Bahas Kerjasama di Antaranya Pengoperasian Hawk 109/209 dengan Inggris

0

MYLESAT.COM – Konferensi internasional selalu memberikan keuntungan berganda. Selain menjadi forum untuk update and share informasi terbaru, juga tempat yang ideal untuk meningkatkan hubungan dengan negara lain. Itu sebabnya, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo melakukan pertemuan dengan sejumlah pemimpin angkatan udara negara sahabat yang hadir di Canberra, Australia.

Sehari menjelang dilaksanakannya Air and Space Power Conference 2022 (ASPCon22) di Canberra, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo melakukan pertemuan dengan sejumlah pemimpin angkatan udara.

Pertemuan maraton itu dilaksanakan di National Convention Centre, Canberra, Australia, Senin (21/3/3022).

Pertemuan KSAU dengan Kepala Staf Angkatan Udara Inggris Marsekal Sir Mike Wigston. Foto: Dispenau

KSAU hadir di Canberra untuk menghadiri ASPCon22 yang berlangsung pada 22-23 Maret 2022 di National Convention Centre Canberra.

Untuk tahun ini, ASPCon22 berfokus pada ketahanan dan inovasi dalam kekuatan udara dan ruang angkasa dan akan menampilkan Expo Inovasi. Dimaksudkan sebagai sesi khusus yang menghubungkan penelitian dan inovasi mutakhir dari pertahanan, lembaga penelitian, akademisi, perusahaan rintisan, dan industri.

Acara ini akan menampilkan dan menyediakan akses ke inovator dan pemangku kepentingan utama dari seluruh domain udara dan ruang angkasa.

Topik fokus di masa depan dan memiliki relevansi untuk mencapai keunggulan operasional atau membangun ketahanan dalam kemampuan kekuatan udara dan ruang angkasa nasional.

Dalam pertemuan dengan para pemimpin angkatan udara, KSAU membicarakan sejumlah agenda penting menyangkut kerjasama pendidikan dan latihan.

Pertemuan bilateral pertama dilakukan KSAU dengan Kepala Staf Angkatan Udara Inggris (RAF) Marsekal Sir Mike Wigston.

Kepada KSAU, pemimpin Angkatan Udara Inggris menyatakan peran penting Indonesia di G20 dan di Kawasan. Selain itu kedua pemimpin AU juga membahas pengalaman kedua Angkatan Udara dalam penggunaan pesawat tempur Hawk 100/200.

TNI AU masih mengoperasikan pesawat tempur subsonik BAe Hawk 109/209 di Skadron Udara 1 di Pontianak dan Skadron Udara 12 di Pekanbaru. Kesiapan pesawat di kedua skadron ini memang sudah jauh menurun, yang banyak disebut akan segera digantikan dengan kehadiran Dassault Rafale dari Perancis.

Baca Juga: 

Dipertahankan, 33 Pesawat Latih Hawk 127 Australia Akan Jalani Upgrade Mesin Pada 2025

Berbagi cinderamata antara KSAU dengan Kepala Staf RAF Marsekal Sir Mike Wigston. Foto: Dispenau

Untuk itu dalam sebuah kesempatan, Marsekal Fadjar pernah mengatakan akan berusaha mempertahankan kesiapan Hawk 109/209 setidaknya hingga tahun 2030. “Kita akan berusaha dukung spare parts hingga kesiapannya bisa dipertahankan, setidaknya hingga kedatangan Rafale,” ungkap Fadjar.

Karena itu, Hawk 109/209 menjadi tema pembicaraan penting di antara kedua pemimpin mengingat pesawat tempur mungil ini lahir di Inggris.

Di sisi lain, BAE Systems Australia sudah memenangkan kontrak sepuluh tahun untuk memodernisasi dan memperluas dukungan in-service untuk sistem pelatihan tempur (lead-in-fighter trainer, LIFT) Hawk 127 Angkatan Udara Australia (RAAF).

Pada 2025, armada Hawk 127 Australia yang mendapat dukungan penuh dari Inggris, akan menjalani upgrade mesin Mk951 Adour.

Komitmen investasi Australia senilai 1,08 miliar dolar AS ini akan memantapkan RAAF untuk terus memberikan pelatihan kepada penerbang tempur hingga 2031.

Sementara di TNI AU sendiri, peran LIFT diberikan kepada pesawat T-50i Golden Eagle setelah pensiunnya Hawk Mk-53.

Pada kesempatan tersebut, KSAU diundang untuk menghadiri pertemuan antar pimpinan angkatan udara sekaligus menyaksikan pameran dirgantara Royal International Air Tattoo di RAF Fairford yang akan berlangsung dari 15-17 Juli 2022.

Pertemuan yang kondusif bersama RAF, dilanjutkan dengan Kepala Angkatan Udara Australia (RAAF) Marsekal Mel Hupfeld. Bagi KSAU, pertemuan ini menjadi balasan setelah pada 21 Februari 2022, menerima kedatangan Marsekal Mel Hupfeld di Mabesau, Cilangkap. Mel Hupfeld mengucapkan terimakasih atas kehadiran KSAU di Canberra.

Salah satu pembicaraan penting keduanya adalah membahas pesawat angkut C-130J Hercules. Mel membebeberkan pengalaman RAAF mengoperasikan C-130J yang segera akan diditerima TNI AU dalam dua-tiga tahun ke depan.

Khusus pesawat Hercules, TNI AU dan RAAF punya chemistry yang sangat kuat. Sebanyak sembilan pesawat C-130H telah diterima TNI AU dari RAAF dalam bentuk paket hibah dan pembelian pada 2013. Masuk ke dalam paket adalah satu simulator dan semua suku cadang C-130H yang saat itu dimiliki RAAF.

Sejak kedatangannya mulai 2014, pesawat ini dioperasikan oleh Skadron Udara 32 di Malang. Seiring reorganisasi TNI AU dan dibentuknya Skadron Udara 33 di Makassar, sebagian dari pesawat di Malang dialihkan ke Skadron 33.

Namun dalam perkembangannya seiring kebutuhan operasi yang tinggi dan pembelian lima C-130J, Marsekal Fadjar mengeluarkan kebijakan untuk mengoptimalkan seluruh armada C-130H dari RAAF di Skadron 33.

KSAU bertemu delegasi RSAF yang dipimpin Brigjen Lau Boon Ping. Foto: Dispenau

“Saya putuskan bahwa seluruh Hercules yang dari Australia ditempatkan di Makassar (Skadron 33), selain agar lebih optimal juga untuk menjawab kebutuhan operasi dan bagian dari penyiapan kedatangan C-130J,” tutur KSAU.

Kesembilan pesawat bantuan dari RAAF ini diberi registrasi A-1330 hingga A-1338. Agenda lainnya tentu saja KSAU membicarakan hal yang sama, yaitu terkait pengoperasian Hawk 109/209.

Pertemuan bilateral berikutnya adalah dengan Staf Kepala Angkatan Udara Singapura (RSAF) Brigjen Lau Boon Ping, yang dalam kapasitasnya mewakili Kepala RSAF Mayjen Kelvin Khong Boon Leong.

Brigjen Lau sekali lagi mengucapkan terima kasih atas pertisipasi dan kehadiran Jupiter Aerobatic Team (JAT) dalam Singapore Air Show pada Februari 2022. “Penampilan JAT paling impresif dibanding yang lain dan mengangkat citra Singapura khususnya RSAF,” ujar Lau.

Pada setiap agenda bilateral meeting, KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menyerahkan cindera mata berupa buku Indonesian Air Force In Pictures dan souvenir khas Indonesia yaitu Gunungan.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply