Tak Perlu Basah Lagi, AL AS Segera Operasikan Kapal Selam Mini DCS untuk Navy SEAL

0

MYLESAT.COM – Pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat Navy SEAL sepertinya akan segera melungsurkan kapal selam mini SEAL Delivery Vehicles (SDV) yang telah dioperasikan puluhan tahun. Untuk diketahui, SDV Mark VII yang pertama dioperasikan, mulai melaut sejak Juni 1972 setelah menjalani pengujian sejak 1967.

Kapal selam mini terbaru ini dijamin akan lebih canggih dan dapat menjaga operator tetap kering selama transit bawah air yang berisiko tinggi.

Menurut Komando Operasi Khusus AS, contoh pertama kapal selam mini operasi khusus terbaru ini harus siap operasi sebelum akhir bulan ini. Dry Combat Submersible (DCS) ini menawarkan manfaat yang signifikan dibanding desain yang saat ini digunakan Angkatan Laut AS yang dikenal sebagai SDV. Hanya saja kapal selam legendaris ini memaksa personel untuk mengendarai kapal yang terpapar sepenuhnya dengan elemen air.

Para pejabat dari Komando Operasi Khusus AS memberikan informasi terbaru tentang status DCS minggu ini pada konferensi tahunan yang berfokus pada operasi khusus yang sekarang dikenal sebagai SOFWeek.

DCS berasal dari S351 Nemesis yang dirancang dan dibangun MSubs di Inggris. MSubs merupakan bagian dari tim yang dipimpin Lockheed Martin yang telah mengembangkan kapal selam mini sejak 2016.

“Pagi ini kami menerima laporan uji operasional,” kata John Conway, manajer program untuk Sistem Bawah Laut di bawah Kantor Eksekutif Program Komando Operasi Khusus AS (SOCOM) – Maritim (PEO-M), dalam sebuah pengarahan di SOF Week. “Berarti DCS akan beroperasi pada Hari Peringatan (29 Mei 2023), dan kita akan sampai pada skenario akhir,” ujarnya.

Seperti biasa, detail DCS dirahasiakan. Namun kemampuan umumnya setidaknya diyakini mirip dengan S351 Nemesis yang memiliki bobot 30 ton dan panjang 39 kaki. Nemesis membutuhkan dua awak untuk beroperasi dan memiliki jangkauan maksimum sekitar 66 mil laut saat melaju dengan kecepatan lima knot dan menggunakan sistem propulsi elektrik.

Kapal ini dapat menyelam hingga sekitar 330 kaki (100 meter). Di luar awaknya, kapal ini dapat membawa delapan personel tambahan atau kargo seberat satu metrik ton.

Kapal selam ini memberikan cara bagi pasukan operasi khusus AS untuk secara diam-diam naik ke darat dari kapal selam. Kemampuan semacam ini sangat berharga untuk melakukan berbagai jenis operasi, terutama yang dilakukan di belakang garis musuh atau di lokasi yang sensitif.

Seperti yang telah disebutkan, manfaat besar DCS dibandingkan SDV yang ada adalah kemampuannya untuk membawa penumpang di lingkungan yang benar-benar kering. Hal ini mungkin terdengar seperti masalah kecil bagi pasukan operasi khusus seperti Navy SEAL yang dilatih untuk melakukan berbagai jenis operasi bawah air, tetapi memiliki implikasi operasional yang signifikan.

Seperti yang terjadi saat ini, SEAL dan pasukan operasi khusus AS lainnya melakukan perjalanan jarak jauh di bawah ombak menggunakan SDV ‘basah’. Bahkan tipe Mk 11 terbaru Angkatan Laut, mengendarai seluruh perjalanan yang terpapar air.

Termasuk di iklim tropis, bisa menjadi perjalanan yang dingin terutama dilakukan di kedalaman yang lebih dalam yang semakin membantu personel menghindari deteksi.

Di daerah lebih dingin, terpapar air sepanjang waktu bukan hanya tidak nyaman, tetapi juga berpotensi berbahaya. Selain itu, dengan SDV basah tradisional, operator harus melakukan misi apa pun yang mungkin basah kuyup dan kemungkinan dingin, yang semakin meningkatkan kelelahan dan masalah lainnya.

Dengan DCS, pasukan dapat melakukan perjalanan bawah air dari titik peluncuran ke tujuan tanpa terpapar air. Berkat ruang penguncian yang ada di dalamnya, mereka masih memiliki opsi untuk masuk dan keluar saat wahana terendam.

Dengan melakukan hal itu, akan membantu mengurangi kemungkinan terlihat saat menyusup ke suatu daerah.

“Ini mengakhiri kesenjangan kemampuan selama 15 tahun lebih,” ungkap Kapten Angkatan Laut Randy Slaff, kepala PEO-M SOCOM dalam sebuah diskusi panel di SOFWeek.

Pernyataan Slaff juga menggarisbawahi bagaimana program DCS bukanlah pertama kalinya SOCOM dan Angkatan Laut mencoba memperoleh kemampuan seperti ini. Angkatan Laut pertama kali menguraikan persyaratan untuk apa yang kemudian dikenal sebagai Advanced SEAL Delivery System (ASDS) pada 1980-an dan pengembangan desain kapal selam mini ini sepenuhnya dilakukan pada 1990-an.

ASDS kira-kira dua kali lebih besar dari S351 dan terbukti berisik, kurang bertenaga, dan bermasalah. Setelah bertahun-tahun mengalami penundaan karena masalah teknis dan pertumbuhan biaya, program ini mengalami kemunduran yang sangat buruk pada 2008 ketika satu prototipe yang telah dibangun terbakar dan hancur total.

Program ini dibatalkan sepenuhnya pada tahun berikutnya. Hal ini diikuti oleh program Joint Multi-Mission Submersible yang juga dibatalkan tahun 2010.

DCS telah terbukti menjadi upaya yang jauh lebih sukses.

Angkatan Laut berencana memensiunkan empat kapal selam rudal berpeluru kendali nuklir kelas Ohio, atau SSGN, sebelum akhir dekade ini. Kapal selam ini mampu kemampuan mengerahkan personel menggunakan SDV melalui Dry Deck Shelters (DDS).

Sejumlah kapal selam serang kelas Virginia saat ini juga dilengkapi DDS untuk melakukan misi dukungan operasi khusus.

Ketika pengembangan DCS dimulai, desainnya sudah terlalu besar untuk masuk ke dalam DDS Angkatan Laut yang ada. Pengerjaan desain DDS berkapasitas lebih besar sedang berlangsung secara paralel, tetapi belum jelas bagaimana status proyek tersebut.

SOCOM dan Angkatan Laut juga sudah tertarik untuk mendapatkan varian atau turunan DCS yang lebih baik, yang awalnya dikenal sebagai DCS Block II dan saat ini disebut DCS Next. Rincian tentang persyaratan kapal selam itu juga terbatas, tetapi salah satu tujuannya adalah membuatnya dapat dikerahkan dari kapal selam kelas Virginia.

Dengan upaya lanjutan yang sedang berlangsung, kapal selam mini DCS saat ini kadang-kadang disebut sebagai DCS Now.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply