MYLESAT.COM – Buku menyimpan seribu kenangan. Di dalamnya terhimpun jejak-jejak perjalanan hidup yang terserak dalam berbagai peristiwa, mulai dari suka yang menghadirkan senyum hingga duka yang menempa keteguhan. Patigama menyadari sepenuhnya untuk mengumpulkan puzzle yang terserak sebelum lenyap ditelan zaman.
Inisiatif untuk mengumpulkan puzzle itu digagas oleh Marsekal TNI (Purn) Fadjar Prasetyo, Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) ke-23 periode 2020-2024.
Buku yang diberi judul “PATIGAMA Perwira Tiga Tahun Pertama Rekan Dalam Pengabdian Keluarga Sepanjang Perjalanan,” dikemas dalam ukuran 28×21 cm dengan jumlah halaman mencapai 299. Foto-foto sepanjang perjalanan Patigama menambahkan kedalaman emosi yang tertanam di setiap anggotanya.

Momen kebersamaan Patigama. Foto diambil usai sertijab Dankoharmatau dari Marsda TNI Eddy Supriyono kepada Marsda TNI Bambang Triono. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Sebagai biografi kolektif, buku ini memuat riwayat hidup para perwira yang menjalani pengabdian bersama di TNI AU dari tahun 1988 hingga sekitar tahun 2024. Dari setiap pengalaman perwira Patigama yang ditulis oleh Beny Adrian, bisa dipetik hikmah dan pelajaran yang layak dicontoh dan diteladani.
Dalam Sambutannya pada buku ini, Marsekal (Purn) Fadjar Prasetyo menuliskan dengan hati bergetar. Kenangan demi kenangan berkelebat di benaknya, menghadirkan kembali wajah-wajah, peristiwa, perjuangan, dan pengorbanan yang pernah mewarnai perjalanan hidup keluarga besar Patigama. Setiap kata yang tertuang bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan luapan emosi dan gejolak hati yang lahir dari perjalanan panjang.
“Lebih dari sekadar tulisan, buku ini adalah benang batin yang akan terus mengikat kita sampai kapan pun. Sebuah simbol dari persaudaraan yang kita bangun sejak masa taruna, diperkuat selama pengabdian di TNI AU, dan kini kita jaga sepanjang perjalanan hidup. Kita telah melalui perjalanan panjang pengabdian, kurang lebih 35 tahun dengan segala dinamika, pengorbanan, dan keberhasilan,” tulis Fadjar.
Patigama (Perwira Tiga Tahun Pertama) merupakan sebutan bagi alumni Akademi Angkatan Udara 1988 Werving 85. Mereka terdiri dari para pemuda terbaik bangsa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Total awalnya berjumlah 75 orang sesuai daftar nama personel.
Sebagai taruna AAU, mereka di tempa dengan disiplin tinggi dan dilatih selama tiga tahun untuk menjadi perwira tangguh yang siap membela negara.
Kekompakan sudah mulai terbangun sejak mereka sama-sama mengikuti pendidikan pertama di Kawah Chandradimuka Akmil Magelang. Benih-benih persaudaraan itu mulai tumbuh.
Setelah menjalani pendidikan di AAU, pangkat Letnan Dua disematkan kepada 73 Patigama berdasarkan Skep 46/ABRI/1988 tanggal 23 Juli 1988 dengan pelaksanaan pelantikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Juli 1988 di Istana Negara. Setelah itu, mereka mulai berpisah untuk meniti karier sesuai korps masing-masing. Ada yang penerbang, elektro, teknik, administrasi, dan pasukan.

PATIGAMA Perwira Tiga Tahun Pertama Rekan Dalam Pengabdian Keluarga Sepanjang Perjalanan. Foto: beny adrian/ mylesat.com
Selama masa kedinasan sekitar 35 tahun, mereka mengemban berbagai tugas dan tanggung jawab strategis, berkontribusi besar dalam kemajuan TNI AU. Banyak dari mereka menyimpan riwayat, sejarah dan perjalanan TNI Angkatan Udara melalui penugasan pada tempat-tempat strategis, yang kesemuanya tertuang dalam tulisan.
Beberapa di antaranya mencapai jabatan tertinggi, seperti Marsekal TNI (Purn) Fadjar Prasetyo yang dipercaya sebagai KASAU ke-23, Marsdya TNI (Purn) Gustaf Brugman sebagai Wakil KASAU, Marsdya TNI Arif Mustofa sebagai Dankodiklatau dan kemudian Irjenau, serta Marsdya TNI (Purn) Henri Alfiandi dan Marsdya TNI (Purn) Kusworo sebagai Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Tentu saja juga banyak dari para perwira Patigama mengisi sejumlah jabatan strategis di lingkungan TNI AU, seperti beberapa jabatan Asisten KASAU, Komandan Koharmatau, dan Komandan Korpaskhas.
Katanya pengabdian itu tiada akhir meski masa purnabakti sudah dijalani. Patigama membuktikan dengan masih dipercayanya beberapa dari mereka dalam sejumlah jabatan strategis.
Marsekal TNI (Purn) Fadjar Prasetyo sebagai Komisaris Utama PT Garuda Indonesia, Marsdya TNI (Purn) A. Gustaf Brugman sebagai Komisaris Utama PT Citilink Indonesia, Marsda TNI (Purn) Oki Yanuar sebagai Komisaris Utama PT Garuda Maintenance Facility (GMF), Marsda TNI (Purn) Djamaludin sebagai Komisaris Independen PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports), dan Marsda TNI (Purn) Eddy Supriyono sebagai Direktur Utama Merpati Maintenance Facility (MMF).
Setelah hampir semuanya memasuki masa purna bhakti (kecuali Marsdya TNI Arif Mustofa), keinginan untuk tetap berkumpul dan tetap terhubung tidak pudar begitu saja. Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam keguyuban. Misalkan jalan-jalan bersama atau sekadar kongkow-kongkow sambil mengunyah cemilan. Tidak hanya itu, Patigama pun mewujudkannya dengan membangun kompleks perumahan yang diberi nama Patigama Regency Jonggol (PRJ), sebagai rumah besar bersama untuk tetap saling berkumpul.
Juga didirikan yayasan untuk memayungi usaha Patigama yang bersifat bisnis. Yayasan Sejahtera Bersama Patigama (SBP) dibentuk pada tahun 2020 dengan badan usaha Perseroan Terbatas (PT) Sejahtera Bersama Patigama yang didirikan pada 26 November 2021.
Karena diterbitkan bukan untuk tujuan komersial, buku ini tidak diperjualbelikan secara bebas kepada masyarakat umum. Kehadirannya lebih ditujukan sebagai media dokumentasi, silaturahmi, dan pelestarian sejarah perjalanan Patigama.
Oleh karena itu, distribusinya dilakukan secara terbatas khususnya kepada keluarga besar Patigama serta tokoh-tokoh maupun lembaga yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan, pengabdian, dan sejarah Patigama.
Buku ini diharapkan dapat menjadi warisan dokumenter yang tidak hanya mengabadikan kenangan, tetapi juga mempererat ikatan persaudaraan di antara seluruh keluarga besar Patigama.
“Saya ingin Patigama tetap hidup, bukan hanya sebagai nama angkatan, tapi juga sebagai keluarga yang saling merawat,” ungkap Marsekal (Purn) Fadjar Prasetyo.