MYLESAT.COM – Indonesia menjadi salah satu kontributor. Pabrikan pesawat Perancis, Dassault Aviation tengah berusaha meningkatkan kapasitas produksi jet tempur Rafale seiring peningkatan pesanan yang signifikan untuk jet cantik tersebut.
Menurut laporan La Tribune, perusahaan akan menggenjot jalur produksi untuk mencapai tingkat produksi tiga pesawat Rafale per bulan pada 2024. Sehingga dalam satu tahun Dassault bisa mengeluarkan 36 pesawat dari jalur produksi pabrik.
Langkah ini didorong oleh portofolio pesanan ekspor yang substansial dan kontrak domestik yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Prancis.
Menyusul lonjakan pesanan Rafale, Dassault Aviation telah bersiap untuk mempercepat laju produksi pesawat tempur tiga warna tersebut. “Kami sedang bertransisi untuk memproduksi tiga pesawat per bulan dari tingkat yang lebih rendah per unit pada 2020 ketika produksi stagnan,” jelas Eric Trappier, CEO Dassault Aviation.
La Tribune mencatat bahwa akumulasi pesanan tersebut adalah 18 pesawat pada 2024, 60 pada 2023, dan 92 pada 2022 sehingga total ada 170 pesanan.
Meskipun tingkat produksi melambat dari tahun 2022 hingga akhir 2023, Dassault mendapatkan pesanan untuk produksi 211 jet tempur Rafale. Di antara jumlah tersebut, 141 di antaranya akan diekspor, sementara 70 di antaranya diperuntukkan bagi Angkatan Bersenjata Prancis.
Sementara lembaga think tank Inggris, seperti dikutip Business Insider, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Dassault akan kesulitan memenuhi permintaan Rafale di tengah popularitasnya. Hal ini dapat berdampak global bagi negara-negara yang ingin membangun angkatan udara mereka di tengah konflik di Ukraina dan Timur Tengah, tetapi ingin menghindari ikatan politik yang melekat pada pembelian pesawat tempur Rusia atau AS.
Menurut analisis International Institute for Strategic Studies (IISS), sejauh ini Dassault Aviation menekankan komitmen pengirim pesawat kepada calon pelanggan hanya tiga tahun sejak penandatanganan kontrak. “Akan tetapi, kesibukan penjualan Rafale baru-baru ini dapat membuat komitmen 36 bulan itu menjadi lebih menantang dan bahkan dapat membahayakan beberapa kesepakatan di masa depan.”
IISS menghitung backlog produksi Dassault mencapai 228 pesawat. Krisis akan sangat akut antara tahun 2026 hingga 2033, ketika Dassault harus mengirimkan 174 Rafale ke Perancis, 42 ke Indonesia, 80 ke UEA, dan 10 untuk Mesir. Perancis telah membeli 234 Rafale.
IISS mencatat bahwa tahun lalu Dassault gagal mencapai tingkat produksi 15 pesawat per tahun, dengan hanya membuat 13 unit. Hingga detik ini Rafale telah dipesan oleh delapan negara, terdiri dari Mesir, Yunani, India, Qatar, Kroasia, Uni Emirat Arab, Indonesia serta Angkatan Udara dan Angkatan Laut Perancis.
“Jika produksi Dassault rata-rata 20 Rafale per tahun pada tahun 2024 dan 2025, masih ada 188 pesawat yang harus dikirim antara tahun 2026 dan 2033. Ini akan memerlukan tingkat pengiriman hampir 24 pesawat per tahun,” tulis Business Insider.
Kesulitan dalam memproduksi pesawat tempur modern bukanlah hal yang aneh. Saat ini, Lockheed Martin sedang berjuang untuk menghasilkan sekitar seratus F-35 tahun ini, dengan setiap pesawat membutuhkan sekitar 40.000 jam kerja untuk menyelesaikannya. Sejumlah negara saat ini juga berharap masih bisa membeli F-16, meski kenyataan tidak sebaik harapan mereka.
Pesawat masa kini tidak hanya lebih rumit untuk dibuat, tetapi juga terdiri dari sejumlah besar komponen yang sering kali tersebar di seluruh rantai pasokan global. Kondisinya sudah jauh berbeda dengan situasi masa Perang Dunia II. Kita masih ingat kecepatan Ford di Willow Run di Michigan untuk membuat sebuah pengebom B-24 Liberator bermesin empat, meluncur dari jalur produksi setiap 63 menit.
Saat ini rantai produksi pesawat semakin panjang dan tersebar bahkan di sejumlah negara. Dalam hal ini, Dassault jadi lebih unggul karena produksi Rafale bergantung pada rantai pasokan domestik yang mengisolasinya dari gangguan rantai pasokan global. Meski demikian, pengamat menilai bahwa kondisi itu tidak serta merta membuat Perancis kebal terhadap gangguan global.
Namun demikian, semua situasi yang sangat dinamis ini menjadi nilai tambah bagi Rafale. Jet-jet Perancis memang terkadang mengejutkan dan menawarkan alternatif yang unik. Bagaimana dulu Mirage bersayap delta terbukti efektif ketika diterbangkan oleh angkatan udara Israel.
Hingga saat ini Rafale memang menjadi pilihan terbaik bagi sejumlah negara yang ingin memperkuat angkatan udara.
Di saat Lockheed Martin sibuk membuat cukup banyak F-35, Rusia sibuk untuk mengganti pesawat yang hilang akibat perang Ukraina, Korea Selatan yang masih membutuhkan cap “proven”, dan banyak negara masih ragu untuk membeli jet China, Rafale menjadi pilihan bagi negara-negara yang tidak menginginkan beban politik dan ekonomi yang menyertai pembelian pesawat termpur.
Meski tantangan produksi sudah di depan mata, tentu tidak membuat Dassault Aviation bimbang. Sebagai perusahaan kelas dunia yang sudah berdiri sejak 1929, Dassault sudah melewati begitu banyak hambatan dan rintangan yang membuat mereka sangat matang.
Idealisme Perancis terkenal kuat, salah satunya dibuktikan dengan keputusan keluar dari European Fighter Aircraft (EFA) yang kelak melahirkan Eurofighter Typhoon. Perancis menjawab kemandiriannya dengan melahirkan Rafale.
Bienvenue au Rafale.