Analisis Demo Udara Perdana F-35A Lightning II di Paris Airshow 2017: Meragukan atau Menjanjikan?

Program pengembangan pesawat tempur trimatra yang dikenal dengan JSF (Joint Strike Fighter) ini tak pelak merupakan program pengadaan alat pertahanan terbesar, termahal, terkompleks dan terkontroversial hingga detik ini.

Tak cukup berupa kritikan pedas, bahkan cercaan para pengamat ahli sudah sering membuat banyak pihak dalam negeri Amerika Serikat sendiri menyuarakan desakan untuk dihentikannya program bernilai triliunan dolar ini. Namun para petinggi militer AS tak bergeming.

Bahkan Presiden AS (saat ini) Donald Trump yang dalam kampanyenya sempat mengancam akan “menghentikan program yang merupakan pemborosan luar biasa uang pembayar pajak AS” itu, pun kelihatannya melunak.

Mungkin Trump bahkan sudah berubah pikiran setelah mendapatkan penjelasan khusus (bersifat konfidensial) dari para pembantunya.

Memang hingga kini banyak detail teknis – terutama kapabilitas – F-35 dirahasiakan dan tak terang-terangan dibuka untuk publik.

Sekadar mengingatkan, program JSF menelurkan ketiga varian utama F-35 yang masing-masing berbeda penggunannya untuk tiap matra, namun dengan basis desain airframe sama.

Ketiganya adalah F-35A (varian CTOL/conventional take off and landing untuk AU AS), F-35B (varian STOVL/short take off and vertical landing untuk dioperasikan dari kapal serbu amfibi Korps Marinir), dan F-35C (varian CTOL yang memiliki sayap lebih besar untuk dioperasikan dari kapal induk supercarrier AL AS).

Hujan cacian 

Dalam ajang Paris Airshow (PAS) 2017 baru lalu, untuk pertama kalinya F-35A melakukan demo udara di muka publik.

Demo terbang – yang tentunya termasuk memamerkan kemampuan bermanuver aerobatik nan lincah dan memukau – memang senantiasa jadi daya tarik tersendiri pada setiap ajang pameran kedirgantaraan manapun.

Seolah tak mau kalah dengan kontroversi program JSF, demo udara perdana F-35A Lightning II itupun seketika menuai hujan komentar dan pendapat yang terbelah.

Mulai dari komentar seadanya hingga analisis yang tajam akurat, semuanya terbelah jadi dua kubu yang saling berseberangan.

Yang satu menilai manuver F-35A dalam PAS 2017 lalu tidaklah istimewa, bahkan cenderung menunjukkan kelemahan desain aerodinamik F-35 yang selama ini dikritik kurang lincah dan banyak kehabisan energi (momentum luncur) pasca belokan tajam.

Demo F-35A di Paris Airshow 2017 masih melahirkan kecaman. Foto: af.mil

Kelompok inipun mempertanyakan survivabilitas F-35 seandainya masih ada lawan yang lolos dari sergapan rudal udara ke udara jarak jauh, dan memaksa F-35 masuk dalam pertarungan udara jarak dekat atau dogfight.

Pendapat yang berseberangan menilai bahwa justru dilihat dari manuver-manuvernya, F-35 menyimpan potensi kelincahan yang tak bisa dianggap sebelah mata.

Pasalnya, flight control software pada F-35A saat ini baru sampai rilis Block 3i (initial operational capability of the third phase), bukannya Block 3F (full operational capability).

Software versi Block 3i membatasi manuver F-35 hingga maksimum 7G (beberapa menyebutkan hingga 7,5G), sementara kemampuan maksimum F-35 sesungguhnya adalah 9G, sama dengan F-16 Fighting Falcon.

Penulis sendiri mengamati bahwa akselerasi dan momentum belok F-35A dalam video unggahan Lockheed tersebut memang tidak sespektakuler manuver Su-35 Super Flanker atau bahkan F-16C dalam demo rutin di berbagai airshow.

Kalau mau dicermati, akselerasi dan manuver F-35A dalam PAS 2017 kurang lebih setara demo F/A-18F Super Hornet yang dimuati tangki bahan bakar eksternal di perutnya dan 8 pucuk rudal udara ke udara di berbagai pylon, dalam sebuah airshow beberapa tahun lalu.

Jika benar rilis software Block 3F menaikkan limitasi manuver hingga batas 9G, maka seharusnya manuver F-35A bisa lebih ekstrem daripada sewaktu demo PAS 2017.

Dalam demo itu, penulis melihat pula bahwa sesungguhnya dalam manuver belok yang ketat, F-35A mampu menunjukkan performanya dengan memanfaatkan momentum luncur secara maksimal.

Pengendalian di ketinggian rendah dengan kecepatan sangat rendah, juga cukup baik, bahkan terlihat lebih baik ketimbang F-16.

Pergerakan bilah-bilah kendali terutama sirip ekor horizontal menunjukkan bahwa flight control software mampu bekerja sesuai desain aerodinamik pesawat. Kemampuan looping secara ketat juga ditunjukkan, kendati pada rezim kecepatan yang rendah.

Namun hal itu bukanlah alasan untuk “menghakimi” F-35A tak mampu berbelok tajam dalam kecepatan tinggi.

Perkara pertempuran udara jarak dekat atau dogfight, memang manuver ketat yang lincah dan cepat menjadi kunci. Tapi seperti pernah penulis gali beberapa kali dari percakapan dengan beberapa pilot tempur TNI AU, manuverabilitas jet tempur ternyata bukan satu-satunya kunci.

The man behind the gun alias kecakapan pilot jadi faktor penentu yang tak boleh dilupakan. Tak hanya menjadi “sopir” bagi jet tempur bawaannya, melainkan juga “memakai” jet tempur itu seolah seorang ksatria abad pertengahan yang begitu menyatu dengan pedangnya dan fasih mengayunkannya dalam pertempuran.

Kesimpulannya, meski masih diwarnai sejumlah keraguan, penulis berani berpendapat bahwa F-35A sesungguhnya masih “menyimpan” sejumlah kemampuan manuver yang menjanjikan.

Apa yang tidak ditunjukkan, belum tentu tidak bisa dilakukan. Perlu diingat, meski melibatkan banyak negara dalam kemitraan strategis, sesungguhnya program JSF menyimpan sejumlah kerahasiaan teknis yang hanya dibuka pada para mitra dan pembeli saja.

 

Teks: antonius kk

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: