Buntut Karamnya Cheonan, Korea Selatan Operasikan Helikopter Antikapal Selam AW159

Korea Selatan resmi menugaskan batch terakhir dari 4 helikopter AW159 dengan kemampuan antikapal selam.

Helikopter yang diserahkan oleh Divisi Helikopter Leonardo pada November 2016, adalah bagian dari pesanan 8 heli di bawah proyek Maritime Operational Helicopter.

Program ini bertujuan mencari untuk meningkatkan kemampuan antikapal selam Angkatan Laut Korea. Korea menerima batch pertama 4 heli AW159s pada Juni 2016.

Menurut spesifikasi heli yang dikeluarkan pihak Leonardo, AW159 memiliki berat maksimum lepas landas mencapai 6 ton, jarak maksimum 490 km, dan lama terbang 2 jam 40 menit di ketinggian 6.000 kaki.

Sensor yang terpasang di heli termasuk frekuensi rendah Compact FLASH Sonics, sonar dalam jarak jauh dari Thales, dan radar AESA Seaspray 7000E yang dipasok Selex.

Untuk urusan bela diri, heli bisa dipersenjatai dengan torpedo ringan seperti K745 Cheong Sangeo (Blue Shark), dan bom dalam untuk penetrasi kapal selam.

Pembelian helikopter AW159 ini bermula dari karamnya kapal frigat Korea Selatan ROKS Cheonan setelah ditembak kapal selam Korea Utara pada Maret 2010. Tak lama berselang, Korea Selatan memutuskan bahwa mereka harus meningkatkan kemampuan antikapal selam.

Korea Utara mengoperasikan sekitar 70 kapal selam serang. Pada saat bersamaan, Pyongyang berusaha memiliki kemampuan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam.

Dua bulan setelah itu, dua heli AL Korea Selatan, yaitu Super Lynx, yang dibeli dari Inggris tahun 1990-an, jatuh ke laut.

Kombinasi dua kejadian inilah yang memaksa Korea Selatan harus segera mempunyai helikopter dengan kemampuan antikapal selam yang baik.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: