Makin Letal, Ketika Senjata Laser Jadi Arsenal Heli Serang Apache

Desain dan konsep heli serang generasi baru boleh saja saling berlomba tayang, tapi heli serang eksisting tetap harus siaga perang.

Desain baru boleh mengumbar seribu janji, tapi bagi AD AS yang masih mengandalkan AH-64 Apache sang heli serang eksisting, tiada kata henti tanamkan inovasi sebelum benar-benar henti operasi.

Pada akhir Juni 2017 lalu, pabrikan senjata terkemuka Raytheon bersama AD AS dan USSOCOM (Special Operations Command) sukses melaksanakan uji penembakan senjata laser taktis berdaya tinggi atau Tactical HEL (High Energy Laser) dari sebuah heli Apache.

Uji tembak yang dilakukan di fasilitas uji rudal White Sands Missile Range di New Mexico, AS itu merupakan tonggak sejarah tersendiri, karena baru kali itulah senjata laser taktis berdaya tinggi ditembakkan dari platform helikopter.

Bertahun-tahun sebelumnya penembakan senjata laser berdaya tinggi dari wahana udara sejatinya pernah dilakukan tatkala AU AS masih menjalankan program “airborne laser” dengan platform pesawat YAL-1, sebuah Boeing 747 yang dimodifikasi khusus dengan kubah mata laser di bagian hidungnya.

Seperti diketahui, LASER (Light Amplification by Stimulating Emission of Radiation) menyimpan potensi sebagai senjata penghancur di luar penggunaannya yang umum sekarang sebagai pemindai maupun penjejak (target).

Salah satu hambatan terbesar penggunaan laser sebagai senjata destruktif adalah besarnya kebutuhan energi yang diperlukan sehingga pancaran lasernya cukup kuat untuk menghancurkan target yang disasar.

Uji tembak laser sebagai senjata destruktif selain sudah dilakukan dari pesawat YAL-1, juga sudah dilakukan dari modul khusus di darat dan di atas kapal perang. Ketiganya memiliki keleluasaan dalam hal ruang (space) yang cukup untuk menampung catu daya besar yang dibutuhkan.

Pendek kata, mau pembangkit tenaga (untuk lasernya) sebesar mobil pun, kapal perang sudah pasti punya cukup ruang (jika tidak cukup di atas dek, bisa “dititipkan” di hanggar heli misalnya).

Begitu pun pesawat YAL-1 yang ukurannya saja sudah ketahuan besarnya, memboyong pembangkit tenaga besar bukan masalah rumit. Dan bicara modul penembak di darat, sudah pasti takkan ada masalah soal ketersediaan ruang.

Tapi lain ceritanya kalau platform pembawa senjata laser taktis berdaya tinggi tersebut berukuran terbatas seperti helikopter. Itulah sebabnya uji tembak bulan lalu itu dipandang sebagai milestone yang amat signifikan.

Dari foto dan video rilis resmi Raytheon, terlihat bahwa ukuran sistem laser yang dibopong Apache cukup kecil. Dengan dimensi yang kira-kira seukuran tangki bahan bakar eksternal Apache, senjata laser itu bisa dipasang di pylon luar stub wing Apache.

Sistem laser lansiran Raytheon itu berbentuk silinder dengan mata laser berada di bagian depan. Dalam uji tembak tersebut, diberitakan Apache bersenjata laser tersebut sukses menghancurkan targetnya dari jarak direct line sejauh 1,4 km.

Memang belum seberapa, tapi tetap menyimpan potensi luar biasa jika dikembangkan lebih jauh. Apa yang sekarang terlihat sangat sulit, jika riset dilakukan dengan gigih bukannya tak mungkin jadi satu hal yang mudah di kemudian hari.

Suka tak suka, faktor kegigihan riset inilah yang jadi keunggulan AS di dunia persenjataan. Dukungan dana, political will dan kegigihan manusianya menjadi modal kuat.

Bicara potensi senjata laser berdaya tinggi pada helikopter serang, sudah barang tentu amatlah luar biasa letalitasnya. Dalam uji tembak tersebut Raytheon mendemokan senjata laser taktis berdaya tinggi tersebut sebagai senjata tak kasat mata (invisible) tanpa ledakan dari hulu ledak layaknya senjata konvensional.

Bayangkan misalnya seorang insurjen yang tengah memasang senjata peledak rakitan atau IED (improvised explosive device) di suatu tempat. Dari kejauhan, di mana suara deru mesin dan rotor heli tak terdengar oleh insurjen tersebut, sebuah heli serang menembakkan Tactical HEL ke arah IED tersebut.

Tanpa suara dan tanda apapun, tiba-tiba IED itu meledak sendiri di depan sang insurjen. Sekali tembak, dua target disikat dengan hanya sedikit kerusakan di area sekitar, atau dengan kata lain amat minim collateral damage.

Besarnya keterlibatan USSOCOM  dalam uji tembak di akhir Juni lalu menyiratkan bahwa penggunaan potensial laser taktis berdaya tinggi itu tak hanya pasukan atau unit reguler, melainkan juga pasukan khusus yang tentunya amat berhasrat memiliki senjata senyap jarak jauh yang memberi banyak keunggulan tersendiri.

Tak bisa dipastikan kapan heli serang Apache yang sudah letal dan berdaya gentar tinggi itu akan dipersenjatai laser. Namun kelihatannya realisasi ke arah situ takkan terlalu lama lagi terjadi.

 

Tek: antonius kk

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: