Daripada Bermacet Ria ke Bandung, Mending Naik Helikopter

Sambil menunggu armada Bell 505 Jet Ranger X yang tahun ini akan tiba empat unit, Helicity beroperasi dengan Bell 427 dan Bell 407. Prospeknya menjanjikan.

Uji coba operasi transportasi helikopter di kawasan Jabodetabek ke Bandung dan sekitarnya pada libur Lebaran serta Natal dan Tahun Baru tahun lalu, menuai optimisme pengoperasian Helicity.

“Ada ratusan penelepon yang berminat menggunakan jasa Helicity,” ucap Denon Prawiraatmadja, CEO PT Whitesky Aviation di Bandung pada pertengahan Mei lalu. Karena itulah, PT Whitesky Aviation sebagai perusahaan yang mengelolanya gencar mengenalkan Helicity sebagai alternatif terbaik bagi masyarakat yang membutuhkan moda transportasi cepat dan aman.

“Kami memiliki 171 titik Jabodetabek dan 53 titik Bandung dan sekitarnya untuk operasi Helicity,” ujar Denon. Titik-titik itu adalah heliport atau helipad, seperti di Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, dan heliport pribadi, juga di atas gedung-gedung yang memiliki helipad,” jelasnya.

Sebenarnya bukan hal baru helikopter menjadi sarana transportasi untuk menjangkau kawasan perkotaan dan pelosok, khususnya bagi VIP atau VVIP. Namun yang ditawarkan Helicity lebih luas lagi, yakni untuk masyarakat umum yang sangat membutuhkan transportasi dalam kondisi darurat dan penting.

“Sekarang ini, dari Jakarta ke Bandung  atau sebaliknya sangat tidak memungkinkan ditempuh dalam waktu singkat. Misalnya, ada keluarga yang sedang kritis dan ingin menengoknya sesegera mungkin, sangat tidak memungkinkan menggunakan transportasi darat,” tutur Denon.

Pemandangan indah

Rupanya bukan cuma waktu singkat yang diperoleh penumpang helikopter dalam penerbangan di kawasan Jabodetabek dan Bandung. Sekjen INACA Tengku Burhanuddin, yang pada Mei lalu diajak Denon menikmati Helicity, merasakan sensasi lain, yakni menikmati keindahan pemandangan yang dilaluinya.

Menikmati pemandangan dari helikopter lebih terasa sensasi indahnya dibandingkan menggunakan pesawat bersayap tetap.

Pasti kita membayangkan biaya yang mahal untuk menikmati sensasi tersebut. Hal ini disadari Whitesky. Denon meyakinkan bahwa Helicity mengusung konsep biaya yang relatif rasional.

Helicity dapat dipesan dengan minimum waktu tempuh 30 menit untuk mengantar pengguna jasanya ke satu titik. Tidak seperti carter helikopter, yang umumnya disewa minimal satu jam dan dapat ditunggu.

“Saat ini tarifnya masih mahal,” kata Denon. Sekarang, helikopter yang dioperasikan adalah Bell 429 yang kapasitasnya tujuh penumpang dan biaya operasi relatif mahal. Setelah helikopter yang didedikasikan khusus untuk Helicity tiba pada September-Oktober nanti, yakni Bell 505 Jet Ranger X, tarifnya relatif terjangkau. Untuk 30 menit, ya around six million (rupiah),” ungkapnya.

Menurut Denon, tarif Helicity untuk Jakarta-Bandung, yang terbang sekitar 40 menit dengan Bell 505 berkapasitas empat penumpang, antara Rp 8-10 juta. Helikopter yang sudah dipesan Whitesky pada April 2016 itu akan datang empat unit tahun ini. Selanjutnya sampai 2023, setiap tahun akan tiba masing-masing enam helikopter yang berkapasitas empat dan enam penumpang.

“Investasinya sekitar 70 juta dolar AS,” ungkap Denon. Selain untuk armada, investasi itu juga untuk pembangunan fasilitas perawatan dan penyedian sumber daya manusianya.

Teknologi mahal

Untuk operasi helikopter di Indonesia, tak dipungkiri masih mahal. “Peluangnya ada, tapi teknologinya masih sangat mahal.” Karena itu, ia memberikan solusi agar Pemerintah memberikan kemudahan dalam biaya mendatangkan helikopter ke Indonesia, juga pembebasan pajak atau 0 percent tax untuk suku cadang.

“Helikopter sebagai city transport sudah dilakukan kota-kota besar di negara-negara lain. Contoh di Brazil, sehari bisa lebih dari 2.000 take off,” tutur Denon.

Di Indonesia memang masih sangat minim city transport menggunakan helikopter. Jumlah armadanya saja hanya 199 helikopter, yang dimiliki para operator carter nasional tahun 2015, dan turun sekitar 20 persen pada 2016 atau tinggal sekitar 170 unit saja.

Operator yang banyak mengoperasikan helikopter saat ini adalah Travira Air, NUH, dan Airfast Indonesia.  Sementara untuk retail basis, celah itu dilihat Whitesky sebagai peluang yang prospektif dikembangkan.

Helicity saat ini memang masih belum tampil sebagai angkutan perkotaan yang jadi andalan para pebisnis atau wisatawan. Selain masih mahal, armadanya pun masih terbatas. Kapan Indonesia, katakanlah seperti di Amerika Serikat tahun 1980-an saja?

Waktu itu, Capt Toos A Sanitioso – sekarang almarhum— pernah naik helikopter dari San Fransisco ke Oakland dengan waktu tempuh 10 menit dan tarifnya 100 dolar AS. Bandingkan dengan naik taksi yang waktu tempuhnya satu jam dengan tarif 90 dolar AS.

Coba, pilih yang mana?

 

Teks: reni rohmawati

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: