Juliandra Nurtjahjo: Orang GMF yang Jadi Pucuk Pimpinan Citilink

Orang teknik yang menjadi pucuk pimpinan di GMF AeroAsia ini sekarang menjadi orang pertama di Citilink Indonesia. Strategi memimpinnya, semua leader di Citilink harus go detail dan paham detail.

Citilink Indonesia disiapkan untuk berekspansi dan menguasai pasar domestik. Ini yang menjadi tugas Juliandra Nurtjahjo saat ditunjuk menjadi pucuk pimpinan Citilink Indonesia.

“Kita tahu bahwa yang jadi target market Garuda Indonesia itu high yield passenger, sementara yang tumbuh lebih besar adalah yang di middle dan low yield passenger. Mau tak mau kue itu harus diambil dan digunakanlah LCC-nya oleh Garuda. Garuda mau gunakan Citilink sebagai weapons; senjatanya untuk melakukan strategi penguasaan pasar domestik,” jelasnya.

Re-posisi strategi dilakukan Garuda dan Citilink melalui penataan rute (route laps). Ada evaluasi dan konsolidasi besar-besaran untuk rute kedua maskapai induk dan anak ini. Pada akhir tahun ini hasil evaluasi rute diharapkan tertata.

“Untuk sinergi, kita sudah memulainya dengan mileage. Kemudian nanti yang lain-lain akan kita lihat. Tidak harus semua menggunakan resource yang sama karena sebagai LCC kita juga punya perhitungan-perhitungan dan strategi bisnis sendiri,” ungkapnya.

Sinergi lain yang sedang dipelajari antara Garuda dan Citilink adalah penggunaan IOCS (Integrated Operating Control System) yang baru.

“Ternyata scope yang tidak ter-capture di current IT system kita, bisa ter-capture di sistem baru, terutama untuk optimalisasi penggunaan pesawat dikombinasikan dengan optimalisasi crew assignment/management. Dengan begitu akan ada saving yang kita inginkan. Itu yang kita kejar.”

Apakah pesawat ATR 72-600 –ada 16 unit yang sekarang dioperasikan Garuda– akan dioperasikan Citilink? “Masih dalam evaluasi.

Kalau rute-rute yang dihasilkan dari proses evaluasi bersama ternyata lebih pas secara ekonomi dan dari sisi biaya lebih menghasilkan keuntungan, ada kemungkinan pesawat itu akan dioperasikan Citilink. Bisa memang karena pada saat ATR dimasukkan dalam fleet Garuda, awalnya akan dioperasikan Citilink yang sebelumnya,” tuturnya.

Sejak 31 Maret lalu, Juliandra menjadi orang nomor satu di maskapai LCC (Low Cost Carrier) anak usaha Garuda itu. Di tengah kesibukannya menyeleksi calon awak kabin, ia meluangkan waktu berbincang dengan mylesat.com di kantornya di Jakarta usai sholat Jumat, 19 Mei lalu. Bahkan setelahnya pun, ia sudah ditunggu direksi lain untuk rapat.

Citilink masih membutuhkan kru pesawat?

Pesawat baru datang, maka pilot dan pramugari juga harus ditambah. Mei ini datang dua Airbus A320neo yang ketiga dan keempat, sedangkan satu lagi pada Oktober nanti. Pesawat neo yang pertama datang akhir Februari lalu, disusul yang kedua. Tahun ini ada enam pesawat datang, lima yang neo dan satu yang ceo. Di Indonesia, Citilink yang pertama menggunakan A320neo!

Pilot yang masih baru (ab initio) dipanggil juga?

Kita buka semua, yang ab initio juga, tapi kita panggil yang preferable; yang memenuhi persyaratan kita. Lisensinya yang multi engine, walaupun bukan berarti ditutup yang lisensi single engine. Susah juga cari yang rated karena pilot yang sudah memiliki rating Airbus 320 lagi banyak yang pakai; di Indonesia yang membutuhkannya banyak.

Apa tantangan yang dihadapi di Citilink?

Tantangannya memang berbeda. Namun waktu di GMF saya juga dirut, yang mau tak mau aspek komersial, marketing, dan finansial itu harus dipegang. Proses belajar aspek tersebut terjadi di GMF dan ketika saya pindah ke Citilink, saya menyesuaikan saja.

Strategi dan reporting-nya tak beda jauh, tapi item yang dikontrol dan dijadikan objek berbeda. Servis dan keluhan penumpang benar-benar menjadi prioritas, apalagi airline ini perusahaan publik. Lebih sensitif! Ditambah lagi ada media yang ikut mempercepat dan memudahkan interaksinya.

Bagaimana cara menangani hal itu?

Strategi yang kita pakai, semua leader harus engage dan harus go detail dengan apa yang dikelola sesuai fungsi masing-masing. Tak mungkin direksi mengelola semuanya, tapi bisa mengerahkan yang di bawahnya dan masing-masing leader harus go detail dan paham detail.

Ini memudahkan kita berkomunikasi. Yang paling penting, kita harus cepat, sesuai tagline perusahaan: simple, ontime, convenience. Untuk ini kita butuh data dan sebenarnya data itu ada, tapi tersebar; tak terintegrasi. Leader juga terkadang tak paham apa yang terjadi di unitnya. Hal ini tak boleh lagi terjadi, apalagi bagi top leader.

Seperti apa bisnis atau industri penerbangan sipil kita?

Eranya bergeser dari konvensional ke sekarang, yang orang bilang era hyper competition. Kompetisinya begitu ketat. Jumlah orang yang mampu naik pesawat terbang itu kan bertumbuh. Di Indonesia, terjadi pergeseran dari moda transportasi darat dan laut ke udara.

Daya beli meningkat, harga tiket makin turun, sehingga transportasi udara menjadi yang utama saat ini. Bayangkan, demand-nya naik, airline berlomba-lomba. Kenapa orang mau mengembangkan bisnis di dunia penerbangan yang marginnya sangat tipis? Karena airline itu suatu bisnis yang high profile dan dibutuhkan.

Apa yang dilakukan untuk masuk ke era hyper competition itu?

Pertama, melihat situasi internal, kemudian saya bandingkan dengan yang sejenis di luar. Saya selalu benchmarking karena kita tak tahu, kita ini unggul atau tidak. Saya akan bandingkan LCC di domestik dengan di internasional. Siapa jago-jagonya. Saya suka compare dan bukan berarti kita semua kalah. Ada juga yang unggul atau ada peluang buat kita yang mereka nggak punya. Pasarnya juga beda.

Di Eropa misalnya, ada yang namanya flicker customer; penumpang yang selalu bingung mau pergi pakai airline apa. Kalau di Indonesia market-nya nggak ada yang begitu; penumpang yang ke bandara sudah tahu mau pakai airline apa.

Jadi, menjadi dirut itu bekerja 24 jam?

Tak bisa dihindari, memang. Bukan 24 jam di kantor ya, tapi kita harus memantau terus penerbangan ini. Kalau kita baca penerbangan terakhir sudah landing, alhamdulillah. Tidur, ya tidur bisa di mana saja, tapi kita tak bisa lepas dari handphone.

Yang saya lakukan biasanya makan di kafe pada hari kerja, pulang kantor kumpul sama teman sebentar. Ngobrol dan bercanda. Dalam satu minggu, satu kali pastilah meluangkan waktu untuk itu.

Ada keinginan lain?

Saya ingin mengajar. Beberapa kali waktu di GMF saya memberikan kuliah umum di universitas dan menjadi pembicara seminar. Berbagi ilmu kan bagian dari ibadah juga. Saya juga ingin membukukan perjalanan karier saya.

Dalam rapat direksi Citilink, saya wajibkan satu tahun sekali masing-masing direktur datang ke sekolah atau universitas untuk memberikan kuliah umum. Ini bagian dari sumbangan kita pada masyarakat.

 

Data Diri

Tempat, tanggal lahir:  Jakarta 25 Juli 1967

Pendidikan: Magister Management Transportasi Udara, Universitas Indonesia (1995-1997); Konversi Energi, Universitas Trisakti (1986-1991)

Pekerjaan: Direktur Utama PT Citilink Indonesia (31 Maret 2017-sekarang); PT GMF AeroAsia: Direktur Utama (15 Maret 2016-31 Maret 2017); Direktur Line Operations (17 April 2015-15 Maret 2017); Senior Vice President SBU Perawatan Mesin Pesawat (Maret 2013-16 April 2015); VP Perawatan Mesin Pesawat (Mei 2009-Feb 2013); GM Material Procurement (Des 2007-April 2009); GM Base Maintenance Material Procurement (Des 2002-Des 2007); GM Cabin Interior Maintenance (Juli 2000-Des 2002); PT Garuda Indonesia: Manager Maintenance Schedule & Performance Analysis (Juli 1999-Juli 20000; Manager Maintenance Production Planning Boeing 737 (Nov 1998- Juli 1999); Management Trainee for Sales & Marketing (1997- Okt 1998); Aircraft Maintenance Planner (1994-1995); Aircraft Maintenance Engineer (1992-1994)

 

Teks: reni rohmawati

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: