KSAU ke Indonesia Timur: TNI AU Butuh 12 Radar Baru

Untuk mengetahui kebutuhan langsung di lapangan dan mendapatkan masukan serta saran langsung dari satuan di bawah, KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto melakukan kunjungan kerja (Kuker) ke wilayah Indonesia bagian Timur. Dalam kunjungannya, KSAU didampingi ibu Nanny Hadi Tjahjanto serta para Asisten KSAU dan pejabat terkait dari Mabes TNI AU.

Kunjungan dilaksanakan dari Selasa hingga Rabu (18-19 Juli 2017), dengan mendatangi Lanud El Tari di Kupang, Nusa Tenggara Timur dan Lanud Timika di Papua. Sedianya Lanud Merauke di Papua juga akan disambangi, namun dibatalkan karena KSAU harus segera kembali ke Jakarta.

Shelter pesawat Sukhoi yang segera rampung. Foto: beny adrian

Dalam Kuker hari pertama di Lanud El Tari, KSAU melihat sejumlah fasilitas yang telah dan sedang dibangun. Meliputi perumahan anggota Kompi Paskhas dan shelter untuk pesawat tempur Sukhoi Su-27/30. Sebelumnya di El Tari sudah berdiri shelter yang mampu menampung pesawat F-16 dan T-50.

Selepas makan siang, KSAU pun mengunjungi Satuan Radar (Satrad) 226 di Buraen, Kupang. Baik di Lanud maupun di Buraen, KSAU menyempatkan memberikan arahan kepada seluruh personel TNI AU.

KSAU pun memberikan kesempatan kepada seluruh personel TNI AU untuk mengajukan pertanyaan, saran, dan masukan demi kelancaran tugas pokok TNI AU.

Dalam kunjungannya di kawasan Lanud, Marsekal Hadi mendapat masukan dari beberapa anggota saat forum briefing. Di antaranya soal ketersediaan bahan bakar pesawat, menambah sorti pesawat PAUM (pesawat angkutan udara militer) C-130 Hercules dari sekali menjadi dua kali sebulan, dan kelancaran aliran air bersih di perumahan Paskhas.

Dengan tetap memberikan skala prioritas, KSAU menerima semua masukan dari anggota Lanud. KSAU pun langsung meminta kepada para Asisten KSAU dan pejabat terkait yang ikut dalam rombongan, untuk memberikan prioritas atas masukan anggota.

“Di sini ada Asops (Asisten Operasi) KSAU, mungkin bisa membantu dengan membelokkan Hercules jika sedang Navex atau latihan lainnya. Atau menambah sorti jika dimungkinkan,” ujar KSAU bijak. “Intinya saya ingin bantu kalian yang ingin pulang ke Jawa dengan mendekatkan jarak antara Kupang dan Jawa,” ucap KSAU yang disambut tepuk tangan anggota yang hadir.

Saat melakukan peninjauan kesiapan sarana dan prasarana penunjang operasional penerbangan, KSAU tak segan-segan menegur staf terkait jika sarana yang ada dinilai bisa membahayakan operasional penerbangan.

Seperti ketika mengecek kondisi aspal di depan shelter F-16, KSAU menemukan sejumlah kekurangan. Sambil setengah jongkok, KSAU memegang kerikil-kerikil kecil yang masih terlihat di satu jalur pengaspalan. “Ini bahaya sekali, KOBA ini, bisa masuk engine pesawat,” ujar KSAU.

KSAU saat menemukan kerikil di landasan yang membahayakan penerbangan. Foto: beny adrian

Hadi pun langsung meminta Kadisfaskonau (Kepala dinas Fasilitas dan Konstuksi TNI AU) untuk melakukan pengaspalan ulang demi keselamatan operasi penerbangan.

Tidak hanya kerikil, KSAU pun menemukan sil antar blok beton mengelupas menjadi lembaran-lembaran karet. Sama dengan kerikil, bisa tersedot ke dalam mesin pesawat.

Sebaliknya acungan jempol diberikan KSAU ketika meninjau shelter pesawat Sukhoi yang dalam fase penyelesaian. “Shelter ini bagus sekali, pembangunannya bagus, bisa menjadi contoh untuk pembangunan yang lain,” harap KSAU.

Shelter dengan ukuran 35×90 meter dengan biaya pembangunan sekitar Rp 16 miliar itu, sudah bisa ditempati 4 pesawat Sukhoi. Saat ini sedang dalam pembangunan tanggul belakang penahan semburan exhaust pesawat. Menurut Kadisfaskonau Marsma TNI Ruslam Efendi, akan bisa digunakan sepenuhnya jika dispatch untuk kru selesai dibangun. “Mudah-mudahan tahun ini bisa beroperasi penuh,” ujarnya.

Di depan para staf dan pejabat Lanud, Marsekal Hadi mengatakan bahwa pembangunan sarana dan prasarana pangkalan harus dilakukan sebaik mungkin sesuai pagu anggaran yang diberikan. Karena terkait dengan keselamatan penerbangan.

“Anggaran ada, tersedia, jadi kita harus maksimalkan pembangunan ini,” ucap KSAU.

Saat mengunjungi Satrad 226 Buraen, KSAU terlihat antusias dengan kondisi Satrad yang dalam kondisi baik. Menurut KSAU, keberadaan Satrad 226 yang berjarak sekitar 40 km dari Lanud El Tari, sangat strategis dalam “memagari” wilayah Indonesia dari aktivitas penerbangan di wilayah selatan.

“Semoga tidak ada lagi penerbangan gelap di selatan, segera kita akan tempatkan radar baru di Tambolaka,” kata Hadi menyebut Tambolaka di NTB yang akan menjadi situs radar TNI AU dalam waktu dekat.

Menurut Hadi, TNI AU akan mengajukan pengadaan 12 radar baru untuk ke depannya. Seperti diketahui, 32 radar diharapkan beroperasi penuh sebagai bagian dari sistem pertahanan udara nasional.

 

Teks: beny adrian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: