Teken MoU dengan UGM, KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto Ajak Akademisi Kembangkan Radar

Pendidikan adalah investasi besar yang sedari awal harus ditabung untuk menuai kemajuan di kelak kemudian hari. Lewat pendidikan pula ilmu dan pendidikan bisa diperoleh untuk kemudian dikembangkan.

Karena itulah, siang ini, Senin (7/8/2017), TNI AU membuat Nota Kesepahaman Bersama (MoU) dengan Univeristas Gajah Mada. MoU ditandatangani oleh KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Rekor UGM  Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng di ruang sidang Grha Sabha Pramana.

Acara disaksikan oleh Ketua Umum PP Kagama, Ganjar Pranowo dan Sekjen PP Kagama, Ari Dwipayana.

“Penandatanganan ini kan formal, informalnya hubungan TNI AU dan UGM itu sudah baik selama ini. Saat inipun sebanyak 13 anggota TNI AU mengambil program S2 dan S3 di UGM,” jelas KSAU dalam sambutannya.

Baik KSAU maupun Rektor UGM sepakat, bahwa MoU ini adalah langkah awal untuk terus mengembangkan hubungan baik yang sudah terjalin antara kedua belah pihak.

Rektor UGM juga tidak menampik bahwa selama ini pihaknya banyak sekali mendapat bantuan dari TNI AU khususnya Lanud Adi Sucipto.

Seperti siang ini sebelum penandatanganan MoU, Rektor UGM membuka pekan Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) UGM 2017.

Dalam pembukaan ini, TNI AU berpartisipasi dengan mendukung penerjunan sebanyak 45 prajurit TNI-Polri serta aksi aerobatik pesawat KT-1 Wongbee dari Jupiter Aerobatic Team (JAT) di hadapan 9.000 lebih mahasiswa baru UGM tahun ajaran 2017.

Dalam sambutannya saat MoU, Marsekal Hadi menyinggung pemasangan radar Weibel MR 2 yang dikendalikan oleh Satuan Radar (Satrad) 215 di Congot, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Radar yang dibuat di Denmark itu diperkirakan seharga Rp 190 miliar.

Menurut Hadi, radar ini dibangun untuk mendukung program pemerintah yang akan membangun bandara baru di daerah Kulonprogo. Dengan radar ini pula wilayah udara di selatan bisa diamankan.

Dalam sambutannya, Hadi menceritakan penerbangan PM Israel Benjamin Netanyahu dari Singapura ke Australia beberapa waktu lalu yang tidak mendapat izin dari Pemerintah Indonesia.

Pesawat yang akhirnya terbang melambung ke timur ke Papua Nuigini untuk kemudian turun ke selatan ini, menurut Hadi, bisa dipantau berkat sudah terpasangnya radar di sejumlah wilayah Indonesia.

“Pemasangan radar baru tersebut dilakukan untuk menggantikan radar lama buatan tahun 1962. Radar yang dipasang ini bisa mengamankan daerah Yogya, Bandung, dan Semarang serta mendukung pembangunan bandara Kulonprogo,” urai Hadi yang pernah bercita-cita masuk UGM.

Dalam kesempatan itu pula Hadi menantang pihak UGM untuk bisa berkontribusi dalam pengadaan radar bagi kebutuhan TNI AU ke depannya. “Mungkin awalnya kita minta ToT (transfer of technology) 30 persen, kemudian 70 persen, sampai akhirnya 100 persen dan kita bisa membuatnya,” jelas Hadi.

“Bapak-bapak bisa membantu TNI AU dalam mengembangkan radar,” kata Hadi. Saat ini menurut Hadi, TNI AU baru memiliki 20 radar dari idealnya 32 radar.

Menurut Rektor UGM, alutsista yang dimiliki TNI AU di bidang radar, monitoring pesawat dan intelijen harus diperbanyak untuk memperkuat tugas pengamanan udara wilayah NKRI.

“Setiap negara maju umumnya memiliki angkatan bersenjata yang kuat, ekonomi yang lebih maju dan penguasaan teknologi lebih baik. Saya kira kerja sama ini bisa meningkatkan kekuatan kita untuk mengamankan negara serta mendorong kemajuan bangsa ini,” harap Panut Mulyono.

 

Teks: beny adrian

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: