Yasarini Gali Potensi Siswa Sekolah Angkasa Melalui FESA 2017

Tidak ada yang meragukan kemampuan anak-anak Indonesia dalam mengikuti kompetisi ilmiah. Sejumlah prestasi di tingkat internasional sudah diraih anak-anak Indonesia sejak belasan tahun lalu.

Dalam olimpiade fisika, olimpiade matematika, olimpiade geografi, olimpiade biologi, karya ilmiah hingga karya inovasi yang dilaksanakan lembaga internasional, selalu diikuti pelajar Indonesia dengan hasil gemilang. Anak-anak Indonesia selalu menjadi yang terbaik.

Dengan demikian, Indonesia adalah gudangnya anak-anak berpestasi. Tinggal kejelian orang tua dan guru dalam melihat bakat dan potensi anak-anak, untuk menjadikan mereka “emas” yang terus bersinar.

“Setiap anak yang dilahirkan di planet Bumi ini adalah emas, sehingga bagaimana tanggung jawab kita sebagai orang tua dan guru untuk bisa mendidik anak kita agar tetap menjadi emas,” papar KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto saat membuka Festival Edukasi Sekolah Angkasa (FESA) Tahun 2017 di hanggar Skadron Udara 45, Halim Perdanakusuma, Kamis (23/11/2017).

Siswa dan guru mengikuti upacara pembukaan FESA 2017. Foto: beny adrian

Masih menurut KSAU, ajang kompetisi dalam bentuk FESA ini layak didukung karena merupakan bagian dari implementasi program Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

“Ada 9 program prioritas yang harus dilaksanakan, di antaranya meningkatkan mutu pendidikan,” tutur KSAU.

FESA adalah olimpiade ilmu pengetahuan yang dilaksanakan Yasarini (Yayasan Ardhya Garini) untuk pertama kalinya. FESA diikuti oleh seluruh Sekolah Angkasa dari tingkat SD, SMP, dan SMA yang berada di bawah naungan Yasarini.

Tidak hanya diikuti oleh siswa, festival ini juga melibatkan guru dan kepala sekolah.

Selama FESA, dilaksanakan sejumlah kegiatan. Mulai dari kompetisi AMSO (Angkasa Mathematic & Science Olympiad), pemilihan kepala sekolah dan guru berprestasi Sekolah Angkasa 2017, seminar, dan rakor yang diikuti 137 kepala sekolah dan 85 guru dari utusan Sekolah Angkasa.

Total 540 siswa SD, SMP, dan SMA Sekolah Angkasa dari seluruh Indonesia, mengikuti FESA 2017. “Semua sudah melalui babak penyisihan sejak Oktober lalu, mereka ini para finalis untuk bersaing di tingkat pusat,” ujar Nanny Hadi Tjahjanto selaku Ketua Umum PIA Ardhya Garini.

Ke-540 siswa ini terpilih dari 14.000 siswa yang mengikuti tahap seleksi sejak 9 Oktober di sekolah masing-masing. Sementara untuk kepala sekolah dan guru berprestasi, menghasilkan 96 finalis kepala sekolah dari 141 kepala sekolah. Sementara untuk guru, terpilih 85 finalis dari 282 guru.

Untuk AMSO sendiri akan memperlombakan sejumlah mata pelajaran. Untuk tingkat SD, melombakan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam; untuk SMP melombakan Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial; untuk SMA melombakan Matematika, Fisika, Geografi, dan Ekonomi.

Nanny berharap, standar Sekolah Angkasa akan segera direalisasikan. Foto: beny adrian

AMSO diadakan untuk membentuk generasi emas Sekolah Angkasa yang selalu berusaha mengembangkan daya nalar, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.

Pada saatnya nanti mereka akan tumbuh menjadi generasi yang berkepribadian kokoh, kompetitif, dan mandiri.

Tidak hanya berlomba di tingkat pusat, anak-anak peserta AMSO ini akan diajak menghadiri puncak acara HUT PIA Ardhya Garini yang akan dilaksanakan di Mall Kota Kasablanka.

Di mata Nanny, penting melibatkan anak-anak berbaur bersama pejabat TNI AU sebagai upaya menanamkan rasa percaya diri pada setiap siswa bahwa meraih sukses bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.

“Anak-anak saya ajak supaya mereka termotivasi melihat bapak-bapak yang sudah jadi jenderal, agar mereka berpikir bahwa mereka juga bisa seperti bapak-bapak ini,” kata Nanny.

Yasarini sebagai kepanjangan tangan PIA Ardhya Garini, adalah lembaga sosial berbadan hukum yang bergerak di bidang pendidikan untuk mengelola sekolah-sekolah Angkasa yang berada di lingkungan TNI AU.

Keterlibatan PIA Ardhya Garini di bidang pendidikan dirintis sejak 1962, ketika untuk pertama kali SD Angkasa didirikan di Lanud Adisutjipto dan Halim Perdanakusuma.

Di balik pelaksanaan FESA yang rencananya akan digelar setiap tahun ini, sesungguhnya ada sasaran lebih besar yang ingin dicapai Yasarini yaitu terciptanya standar baku pendidikan Sekolah Angkasa yang berada di seluruh pangkalan udara TNI AU.

Keinginan ini sejalan dengan Musyawarah Luar biasa (MUSLUB) Yasarini pada Mei 2017, yang memberikan amanat kepada pengurus untuk menetapkan standar yang sama bagi seluruh Sekolah Angkasa di seluruh Satuan TNI AU.

Penetapan standar ini bertujuan agar Sekolah Angkasa semakin berkualitas dalam menyiapkan generasi emas bangsa Indonesia. Penetapan standar berarti menetapkan sebuah acuan mutu proses pendidikan di lingkungan Sekolah Angkasa.

“Kami dari Yasarini berusaha meningkatkan kualitas pendidikan anak dan mutu pendidikan di Sekolah Angkasa. Untuk itu kami bekerjasama dengan Diknas (Pendidikan Nasional) dan lembaga pendidikan berkompeten guna menstandarkan mutu pendidikan di Sekolah Angkasa,” urai Nanny.

Mutu pendidikan yang ingin dicapai, pun tetap diselaraskan dengan kedinasan dalam rangka mendukung TNI AU. Selama ini, menurut Nanny, urusan sekolah kerap menjadi persoalan bagi personel yang ditugaskan di Lanud-lanud terdepan.

Yasarini akan melaksanakan FESA setiap tahun. Ketum PIA Ardhya Garini (ketiga dari kiri) usai pembukaan FESA. Foto: beny adrian

Sehingga dengan tercapainya standar pendidikan yang sama di seluruh Sekolah Angkasa dimanapun letaknya, Nanny berharap tidak ada lagi rasa kecil hati atau ragu bagi personel TNI AU yang ditempatkan di wilayah terluar.

“Dengan mutu pendidikan yang standar, anggota TNI AU tidak perlu lagi gusar memikirkan pendidikan anak-anaknya. Nantinya, Sekolah Angkasa dimanapun akan sama standarnya sehingga anggota TNI AU tidak akan ragu menerima tugas dimanapun,” jelas Nanny berharap konsep ini akan terealisasi secepatnya.

Seperti disampaikan KSAU dalam sambutannya, sikap bijak orang tua dan guru akan sangat berpengaruh terhadap masa depan anak-anak.

“Bagaimana kita bisa melihat ’emas’ itu di diri anak-anak kita, kita harus tahu dimana bakat anak-anak kita. Orang tua dan guru tidak boleh memarahi mereka, sebaliknya harus mengarahkan mereka,” urai KSAU berpesan di hadapan para guru dan kepala sekolah.

Ditambahkan KSAU, dengan bimbingan yang baik dari orang tua dan guru, seorang anak akan menemukan passion-nya, kegemarannya.

Pada akhirnya dengan kondisi nyaman yang mereka rasakan, seorang anak akan menjalani masa-masa pendidikan dengan senang hati, dan otomatis akan menunjukkan prestasi terbaiknya.

 

Teks: beny adrian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s