2 Tahun Kedepan, RSAU Esnawan Akan Jadi Pusat Layanan Cuci Darah Terbesar di Indonesia

“Saya ingin rumah sakit itu bau roti, tidak bau karbol, tatanan bagus, bersih, dan ada suara organ, kemudian perawatnya senyum, tidak ada yang ngemut inten. Ini yang harus segera dilaksanakan,” ucap Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang hadir dalam kapasitasnya sebagai KSAU di depan tamu dan undangan di Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Ngemut inten adalah istilah Hadi untuk seseorang yang selalu terlihat cemberut.

Harapan itu disampaikan KSAU saat mendampingi Ketua Umum PIA Ardhya Garini Nanny Hadi Tjahjanto, melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Hemodialisa di RSAU dr. Esnawan.

Pada saat bersamaan, KSAU meninjau ruang IGD (instalasi gawat darurat) yang telah selesai direnovasi. Selain itu Ketum PIA juga meresmikan selesainya renovasi gedung utama serta ruang perawatan VIP Cendrawasih dan Dirgantara.

Dalam sambutannya, KSAU menyampaikan harapannya berdasarkan logika berpikir sederhana. Menurutnya, perasaan senang dan gembira merupakan sebuah “obat” yang dibutuhkan untuk membuat orang sehat.

KSAU dan Ibu Nanny Hadi Tjahjanto meninjau ruang IGD yang sudah direnovasi. Foto: beny adrian

Contoh paling gampang dibeberkan KSAU dari orang tuanya yang meski sakit, tapi selalu gembira jika diajak jalan-jalan ke mall yang bersih dan wangi.

Hadi berkali-kali menekankan pentingnya rumah sakit tampil lebih kekinian, berkelas, dan tidak mainstream bau karbol. Dari pengalaman pribadinya, Hadi pernah melihat anak seorang prajurit yang tengah berobat di rumah sakit, buang air kecil dipojokan.

Begitu juga dengan perawat, Hadi meminta harus lebih banyak senyum dan melayani pasien dengan baik. Karena dengan senyum dan sikap yang ramah, sudah langsung memberikan efek psikologis kepada pasien.

Akumulasi pengalaman inilah yang membuat KSAU meminta kepada dinas kesehatan TNI AU untuk mewujudkan rumah sakit TNI AU di seluruh Indonesia, lebih nyaman dan wangi. “Saya ingin menyejahterakan prajurit dan purnawirawan,” tegas Hadi.

Pembangunan gedung Hemodialisa dilakukan RSAU untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya yang harus menjalani cuci darah. “Kami selama ini sering menolak pasien cuci darah, karena fasilitasnya memang tidak memadai,” ujar Kepala RSAU dr. Esnawan Antaraiksa, Kolonel Dr. Mukti Berlian.

KSAU meninjau ruang dekontaminasi didampingi Kepala RSAU dr. Esnawan. Foto: beny adrian

Hemodialisa adalah proses pembersihan darah bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialisis waktu singkat.

Sebagai tahap awal pembangunan, peletakan batu pertama dilakukan oleh KSAU dan Ketum PIA Ardhya Garini Nanny Hadi Tjahjanto.

Menurut Dr. Mukti, gedung Hemodialisa yang pembangunannya akan dimulai awal tahun depan, akan dilengkapi dengan 150 mesin cuci darah. Pada saatnya kelak sudah beroperasi, RSAU dr. Esnawan akan menjadi rumah sakit yang mengoperasikan mesin cuci darah terbanyak di Indonesia.

Saat ini RS Pelni di Petamburan yang mengoperasikan 100 mesin cuci darah, merupakan rumah sakit dengan mesin cuci darah terbanyak di indonesia.

Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry, Indonesia membutuhkan 6.000 unit mesin dialisis agar dapat melayani 90.000 pasien gagal ginjal. Saat ini di Indonesia baru tersedia 4.000 mesin dialisis, sementara jumlah pasien gagal ginjal diperkirakan bertambah 18.000 kasus per tahun.

“Kami harapkan dua tahun ke depan, gedung Hemodialisa sudah bisa digunakan,” kata Dr. Mukti.

Selain menyampaikan rencana pembangunan gedung Hemodialisa, kepala RSAU juga menjabarkan master plan renovasi RSAU secara keseluruhan yang memakan waktu sekitar lima tahun.

Ke depannya RSAU akan dibuat lebih green, mudah diakses, bersahabat dengan pasien, dan memiliki fasilitas lebih lengkap. Bahkan Kolonel Mukti menyampaikan harapannya bahwa nantinya tidak akan ada lagi fasilitas Kelas 3 di RSAU.

Semua ruangan akan dilengkapi pendingin ruangan dan televisi, sehingga pasien benar-benar dibuat nyaman saat dirawat.

Saat ini RSAU dr. Esnawan baru memiliki 200 tempat tidur. Jika merujuk kepada master plan ini, jumlah tempat tidur yang akan disiapkan akan menjadi 500 buah. “Ini program untuk menyejahterakan anggota dan memberikan jaminan kesehatan buat anggota,” aku Kolonel Mukti.

Ketum PIA Ardhya Garini menyaksikan penandatangan MoU antara pihak RSAU dengan White Sky Aviation. Foto: beny adrian

Sesuai arahan KSAU dalam sambutannya, RSAU dr. Esnawan kedepannya diharapkan bisa memberikan pelayanan maksimal kepada prajurit dan keluarganya, purnawirawan TNI AU, dan masyarakat sekitar.

Arahan inipun rupanya sudah sejalan dengan desain bangunan yang sengaja menempatkan poliklinik di bagian depan. “Poliklinik akan ditempatkan di depan supaya bapak-bapak purnawirawan tidak harus jalan jauh,” tutur Dr. Mukti.

Untuk rencana renovasi RSAU dr. Esnawan ini, dibutuhkan lahan antara 5.000 sampai 7.000 meter persegi. Karena sejalan dengan visi dan misi Marsekal Hadi dalam hal kesejahteraan dan kesehatan prajuit dan keluarganya, KSAU pun mempersilahkan pihak RSAU untuk memilih lahan yang masih tersedia di sekitar RSAU saat ini.

Tidak berhenti sampai di situ, pada kesempatan itu juga KSAU langsung mengamanatkan anggaran sebesar Rp 50 miliar untuk renovasi bangunan RSAU dr. Esnawan.

Disampaikan juga bahwa RSAU dr. Esnawan Antariksa menjalin kerjasama dengan Universitas Gunadarma yang menjadikan RSAU dr. Esnawan sebagai rumah sakit pendidikan utama.

Seperti diketahui, Universitas Gunadarma termasuk di antara lima universitas yang mengajukan pendirian fakultas kedokteran.

“Saya ingin prajurit TNI apabila berobat, mendapatkan pelayanan yang sama, karena penyakit tidak kenal pangkat. Saya minta prajurit dilayani dengan baik tanpa kecuali, utamakan (yang berpangkat) prajurit,” ucap KSAU tegas.

Penekanan KSAU dibenarkan Kolonel Mukti, dengan membeberkan sebuah kasus saat seorang bintara harus dirawat namun kamar yang tersedia hanya untuk kolonel. Kepada stafnya, Mukti memerintahkan untuk tidak menolak pasien jika alasannya hanya ketersediaan ruangan.

“Jadi pasiennya saya masukkan ke ruang rawat kolonel, bahkan kalau perlu kamar Jatayu (ruang rawat untuk marsekal) pun nggak apa-apa. Yang penting jangan sampai menolak pasien,” akunya yang membuat hadirin tertawa.

Usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Hemodialisa, Ketua Umum PIA Ardhya Garini Nanny Hadi Tjahjanto meresmikan gedung TPA (Tempat Penitipan Anak) Angkasa Antariksa Daycare yang berada di bagian belakang RSAU dr. Esnawan.

Pendirian TPA ini merupakan bagian dari komitmen Ketum PIA dalam hal pendidikan dan kesehatan. Nanny selalu mendesak setiap komandan lanud dan kepala rumah sakit di lingkungan TNI AU untuk memperhatikan kualitas sekolah Angkasa serta kesehatan prajurit dan keluarganya.

“TPA Angkasa ini bertujuan agar karyawati RSAU dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, karena anak-anaknya yang masih balita berada di tempat yang baik,” ucap Nanny.

Nanny menyampaikan keprihatinannya karena mengetahui bahwa di RSAU ini awalnya terdapat TPA yang seperti ‘gudang’.

“Saya sedih mendengarnya, semoga dengan TPA ini anak-anak tidak seperti ‘digudangkan’, melainkan mendapat tempat yang semestinya untuk kesehatan dan pertumbuhan mereka,” tutur Ketum PIA.

Foto bersama Ketum PIA Ardhya Garini dengan sesepuh RSAU dr. Esnawan. Foto: beny adrian

Seperti disampaikan Nanny, saat ini sudah berdiri tiga TPA di lingkungan TNI AU, yaitu di Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara Hardjolukito Yogyakarta, Mabes TNI AU, dan RSAU dr. Esnawan.

Di akhir penandatangan prasasti pembangunan TPA Angkasa Antariksa oleh Ketum PIA Ardhya Garini, dibuat pula kesepakatan di antara RSAU dr. Esnawan dengan perusahaan penyewaan pesawat PT White Sky Aviation.

Nota kesepahaman diteken dalam hal penggunaan helikoter untuk keperluan evakuasi medis udara.

 

Teks: beny adrian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s