Diresmikan Panglima TNI, Hanya 10 Hari Memindahkan dan Merakit Kembali N250 dari Bandung ke Muspusdirla

0

MYLESAT.COM – Desain dan pembuatan pesawat turboprop N250 Gatot Koco pernah membuat dunia takjub dan mungkin gempar karena keberhasilan Indonesia ini. Namun hari ini, Rabu (26/8) Indonesia kembali dibikin geger karena dalam waktu 10 hari, pesawat N250 berhasil dipindahkan, dipajang dan diresmikan oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusirla) Yogyakarta.

Kekaguman itu dilontarkan sendiri oleh Direktur Umum dan SDM PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Sukat Wikanto saat memberikan sambutan.

Pesawat N250 Prototype Aircraft PA-01 Gatot Koco yang semula teronggok membisu di PTDI, dilepasi beberapa bagiannya alias dismantling di Bandung pada 14 Agustus 2020. Kemudian dibawa melalui jalan darat ke Yogyakarta dan selesai dirakit serta dicat ulang seperti aslinya pada 25 Agustus.

“Dalam waktu 10 hari selesai, ini kejutan bagi kami, karena dalam laporan kami kepada Kemenku minimal diperlukan waktu 1 bulan dan selambat-lambatnya 3 bulan. Ini luar biasa. Membanggakan kami,” ujar Sukat.

Pesawat N250 Gatot Koco dibawa melalui jalan darat dari Bandung ke Yogyakarta, menempuh jarak 560 km. Pesawat ini dirakit di Muspusdirla atas kerja sama PTDI, Depohar 10, Muspurdila, dan Skatek 043.

Proses pemindahan dan perakitan ulang pesawat N250 yang diprakarsai Panglima TNI ini, dipimpin oleh Kadispenau Marsma TNI Fajar Adriyanto.

Pada sore ini telah dilaksanakan penandatangan prasati oleh Panglima TNI dilanjutkan penandatanganan naskah berita acara dari Dirut PTDI dan KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

Rencana pemindahan N250 dari Bandung ini disampaikan Marsekal Hadi saat menerima koleksi pesawat Nu-200 Sikumbang dari PTDI untuk Muspusdirla pada 17 Oktober 2017.

“Saat itu saya sampaikan untuk merealisasikan penyerahan pesawat kembanggan Bangsa Indonesia N250 ke Muspusdirla,” ujar Hadi.

Menurut Panglima TNI, N250 adalah bukti kehebatan dan kecintaan anak bangsa kepada negaranya. Serta kecintaan kepada kemajuan ilmu pengetahuan teknologi.

Dijelaskan Hadi, N250 adalah sebuah maha karya yang telah membuat seluruh rakyat Indonesia bangga. Sejak penerbangan perdana 10 Agustus 1995, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, kebanggaan itu masih bergaung hingga hari ini.

“Kita semua pernah menjadi saksi kehebatan pesawat ini yang diprakarasai Bapak Teknologi Indonesia Prof. BJ Habibie,” kata Hadi.

Salah satu kehebatan N250 adalah dalam hal teknologi yang sudah menggunakan fly by wire. Kala itu dianggap beyond, tidak banyak industri kedirgantaraan dunia menguasainya.

Ditambahkan Marsekal Hadi, dengan semangat yang sama pula, menempatkan N250 Gatot Koco di Muspusdirla adalah bertujuan untuk mengabadikan buah karya terbaik anak bangsa dalam pengembangan teknologi penerbangan.

Sementara Direktur Umum dan SDM PTDI Sukat Wikanto menyampaikan bahwa N250 PA-01 registrasi PK-XNG yang terbang perdana 10 Agustus 1995, telah menjalani uji terbang namun belum sampai memperoleh sertifikasi. Hal yang sangat fundamental adalah keberhasilan terbang keliling dunia dalam rangka mengikuti Paris Airshow.

Namun demikian, ungkapnya, krisis moneter 1998 telah menghancurkan rencana besar ini melalui LoI IMF yang memaksa Indonesia menghentikan seluruh kegiatan terkait PA-01 dan PA-02 Krincing Wesi.

“Tidak memperoleh izin terbang dan seluruh aktivitas pengujian dihentikan,” ujarnya.

Sejatinya PTDI akan membuat empat prototipe. Yaitu PA-01, 02, 03, dan 41. Hanya saja PA-03 dan 04 belum selesai terakit sehingga belum mengalami uji terbang.

Ditambahkan oleh pilot uji N250 yaitu Kris Sukardjono yang diundang hadir, N250 memang pesawat canggih di zamannya.

Fly by wire yang dipakai PA-01 paling canggih karena langsung pakai 3 akses, kompetitor belum pakai saat itu,” akunya.

Menurut Kris, PA-01 telah melampaui lebih dari 600 jam terbang.

PA-01 digunakan sebagai development prove concept, sedangkan PA-02 sebagai flight concept, PA-03 untuk menguji sistem, dan PA-04 untuk pengujian interior.

“Keuntungan fly by wire itu kontrol pesawat jadi smooth karena adanya harmonisasi sistem kendali sehingga lebih halus, kalau mobil seperti power steering,” ujarnya memberikan contoh.

Share.

About Author

Leave A Reply