MYLESAT.COM – Setelah menyiapkan dalam dua minggu, tim khusus PT Dirgantara Indonesia yang dipimpin Captain Esther Gayatri Saleh, berhasil menerbangkan kembali (first flight) pesawat CN235-110 TUDB 501 Angkatan Udara Brunei (RBAF) setelah tiga tahun disimpan di hanggar.
Pencapaian yang luar biasa hari ini, Kamis (8/10) di tengah situasi muram pandemi Covid-19, seperti segalon air di padang pasir yang gersang.
Baca Juga:
- Aktifkan Kembali CN235, PT Dirgantara Indonesia Kirim Capt Esther dan Tim Teknis ke Brunei Darussalam
- Apresiasi Tinggi Panglima AU Brunei, Capt. Esther dan Tim PTDI Dijamu Makan Siang oleh Brigjen Sharif
Seperti mylesat.com beritakan sebelumnya, PT DI mengirimkan tim kecil ke Brunei yang terdiri dari Capt. Esther Gayatri Saleh, Ir. Nurcholis (flight test engineer), kopilot Kapten (L) Anjun, Adrianus (mekanik), Andi (mekanik), dan Saprawi (mekanik).
“First flight after 3 years in storage success, thanks God,” tulis Capt Esther kepada mylesat.com pagi ini. Sepertinya pesan pendek ini langsung dikirimkan Esther tak lama setelah menyelesaikan penerbangan yang sangat penting ini bagi Brunei.
Termasuk pertaruhan bagi PTDI sebagai pabrikan untuk menghidupkan kembali pesawat yang dioperasikan klien.
Pesawat lepas landas dari Bandar Seri Begawan pagi ini pukul 08.15 waktu setempat.
Pesawat diterbangkan oleh kru yang terdiri dari PIC Capt. Esther Gayatri Saleh, Kopilot Kapten (L) Anjun, Ir Nurcholis (FTE), dan Kapten Adieb sebagai pilot observer dari Angkatan Udara Brunei.
Dalam penerbangan perdana ini, CN235-200 TUDB 501 Serial No. 33 ini melaksanakan pengujian di ketinggian 8.000 kaki selama 1 jam 45 menit. “Altitude 8.000 due to weather,” jelas Esther.
Penerbangan harus dilakukan setelah pesawat menjalani pemeliharaan. Dalam penerbangan seperti ini, tim akan memeriksa semua parameter yang disyaratkan guna menentukan bahwa pesawat unserviceable untuk dioperasikan kembali.
Besok pagi penerbangan lanjutan akan kembali dilaksanakan di Brunei.
Kedatangan tim khusus PTDI di Brunei adalah sebagai hasil kerja sama teknis untuk memenuhi permintaan Angkatan Udara Brunei (RBAF) yang ingin menghidupkan kembali pesawat CN235-110.
Menurut Esther sebelumnya, pihak RBAF sangat menghargai respon cepat PTDI mengirimkan ahlinya ke Brunei di tengah pandemi Covid-19.
Karena itulah sebagai bentuk terima kasihnya, pada Senin pagi kemarin, Panglima Angkatan Udara Brunei Brigjen Sharif mengundang tamu khususnya ini untuk makan siang bersama.
Pesawat CN235-110 ini terakhir diterbangkan tahun 2017. Setelah diperiksa oleh tim PTDI, mengagumkan sekali karena kondisi pesawat sangat terawat dan bersih.
“Mereka bagus maintain kebersihan, angkat jempol, pesawat ini sudah 23 tahun dibeli tahun 1997 tapi kondisinya masih baik,” puji Esther.