Aktifkan Kembali CN235, PT Dirgantara Indonesia Kirim Capt Esther dan Tim Teknis ke Brunei Darussalam

0

MYLESAT.COM – Terlihat di akun Instagram @esthergayatri yang merupakan Chief Test Pilot PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tengah berada di Brunei Darussalam. Captain Esther Gayatri Saleh dan tim PTDI terlihat bersama personel Angkatan Udara Brunei serta satu-satunya pesawat CN235-110 yang dimiliki Brunei.

Baca Juga: 

Mencari tahu informasi ini, mylesat.com berusaha menghubungi Capt. Esther dan segera mendapat respon.

“kami lg memperbaiki pesawat CN235 RBAF utk bisa terbang lg, dan juga mau ada flight training di sini utk pilot mereka yg baru, rencana juga ferry flight k bandung,” balas Esther dari Brunei.

Selalu penuh semangat berbagi informasi positif, Esther mengatakan bahwa kehadirannya dan tim PTDI di Brunei merupakan bagian dari pelayanan kepada pelanggan. “This is our services to our customer supaya mereka bisa terbang lagi,” jelas Esther.

Menariknya dari penjelasan Capt. Esther, pesawat CN235 yang dibeli Angkatan Udara Brunei (RBAF) tahun 1997 ini sudah cukup lama tidak diterbangkan. Bukan karena rusak atau mengalami insiden, tapi ya tidak terbang saja.

Ngak ada yg malfunction, ini hidupkan (pesawat) dari storage,” aku Esther. Angkatan Udara Brunei ingin mendapatkan kepastian bahwa pesawat dalam kondisi layak terbang, sehingga butuh kehadiran pihak pabrik untuk menginspeksinya.

Kebetulan sekali Brunei butuh penerbang baru untuk mengoperasikan CN235, sehingga program latihan menjadi bagian dari kerja sama ini.

Menurut Esther, pesawat ini terakhir diterbangkan tahun 2017. Setelah diperiksa oleh tim PTDI, mengagumkan sekali karena kondisi pesawat sangat terawat dan bersih. “Mereka bagus maintain kebersihan, angkat jempol, pesawat ini sudah 23 tahun dibeli tahun 1997 tapi kondisinya masih baik,” puji Esther.

Sesuai prosedur, Esther dan tim teknis melakukan sejumlah pengecekan. Kemudian melaksanakan ground run engine. “Makanya kami di sini untuk optimalkan pesawat ini bisa in service again,” katanya.

Dalam beberapa hari ke depan, tim PTDI akan melaksanakan maintenance flight test sebelum pesawat diyakinkan siap digunakan untuk pilot training. Rencananya usai training, pesawat akan diterbangkan ke Bandung untuk menjalani sejumlah penyempurnaan yang diinginkan RBAF.

Esther berharap dengan kehadirannya di Brunei ini bisa membawa angin segar untuk meyakinkan negara kecil kaya minyak itu mau membeli tambahan pesawat CN235.

Apalagi jika bicara keamanan maritim, Brunei langsung berhadapan dengan Laut China Selatan yang penuh konflik kepentingan. Adalah wajar jika Brunei juga mengoperasikan pesawat patroli maritim seperti CN235MPA.

Pun Esther berharap bisa berbagi kabar baik di tengah pandemi Covid-19 ini.

Esther berbagi cerita soal kedatangannya di Brunei di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu ia dan tim harus melewati standar pemeriksaan kesehatan yang ketat sesuai protokol kesehatan.

“Saya dalam satu minggu di sini sudah dua kali swab test dan negatif semua,” jelasnya.

Tidak hanya itu, protokol kesehatan yang dijalankan betul-betul ketat dan luar biasa.

Seperti soal karantina, mereka melakukannya di kamar hotel dengan aturan tidak boleh keluar kamar. Mereka hanya boleh keluar kamar jika memang harus ke hanggar untuk bekerja, sehingga perjalanan mereka hanya point to point.

Itupun, kata Esther, dengan pengawalan yang ketat.

Saking ketatnya social distancing yang diterapkan, semua kebutuhan bersifat pribadi harus mereka lakukan sendiri. Sekalipun di hotel. Seperti mencuci pakaian dan membersihkan kamar, dikerjakan sendiri.

Urusan makan setali tiga uang.

Makanan dikirim tiga kali sehari, dengan penyajian di dalam kantong yang dibungkus plastik sehingga tidak ada interaksi sama sekali dengan petugas kamar.

Menurut Esther, penularan Covid-19 di Brunei sangatlah kecil dan bahkan nyaris tidak ada. “Di Brunei hampir setiap hari tidak ada kasus, hanya waktu itu satu kasus dari warga Brunei yang sekolah di India,” ungkapnya.

Disiplin warga juga sangat tinggi dalam mematuhi protokol kesehatan, sehingga penyebaran virus bisa ditekan ke titik terendah. Warga juga dengan sukarela menjalani Swab test.

Dengan kondisi yang begitu terkontrol, jangan heran penggunaan masker di Brunei tidak menjadi keharusan di tempat keramaian seperti mall.

Di akhir pembicaraan ini, Capt Esther Gayatri Saleh mengatakan bahwa dia sangat menikmati setiap tahap pekerjaan yang dijalaninya.

I am most happy to do it because at the end of the day we must know that we serve our customer, and customer satisfaction is should be our goal,” tulisnya.

Berarti Mbak kerja rangkap dong, tanya mylesat.com?

“Kita harus ada spirit melayani, walaupun test pilot kita harus dengan sadar tahu panggilan pelayanan kita,” tutur Esther.

Semoga sukses dan membawa kabar baik ya Capt.

Share.

About Author

Leave A Reply