Prediksi Pentagon: Kapal Selam China Akan Tumbuh Jadi 80 Unit pada 2035

0

MYLESAT.COM – Seiring China dengan cepat memperbesar armada kapal selam, negara-negara di kawasan Asia-Pasifik mengimbanginya dengan berlomba memperkuat armada helikopter peperangan antikapal selam (ASW) dan pesawat patroli maritim (MPA).

Hari ini dunia dikagetkan dengan beredarnya foto kapal selam baru yang diluncurkan di Shanghai. Kapal selam ini menarik perhatian karena memiliki sail (menara atau superstruktur yang menjulang dari bagian tengah lambung) yang berukuran sangat kecil dibandingkan desain kapal selam umumnya. Meski demikian, masih terlihat adanya tonjolan kecil pada bagian atas struktur tersebut.

Kehadiran foto ini mengindikasikan telah terjadinya evolusi desain kapal selam dengan mulai meninggalkan sail konvensional, menandai langkah baru dalam evolusi armada kapal selam China yang semakin modern, canggih, dan berkemampuan tinggi.

Sementara Laporan tahunan Departemen Pertahanan Amerika Serikat kepada Kongres tahun 2024 seperti dikutip FlightGlobal, menyebutkan bahwa Beijing memiliki sekitar 59 kapal selam aktif, yang terdiri atas 47 kapal selam serang konvensional, 6 kapal selam serang bertenaga nuklir (SSN), dan 6 kapal selam nuklir pembawa rudal balistik (SSBN).

Meskipun laporan tahun 2025 tidak lagi mencantumkan jumlah armada kapal selam secara rinci, laporan tersebut menegaskan bahwa kapasitas industri galangan kapal China yang sangat besar memungkinkan produksi kapal selam dalam jumlah besar dan waktu yang relatif singkat.

Pentagon memperkirakan armada bawah laut Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN) akan tumbuh menjadi sekitar 80 kapal selam pada tahun 2035.

Sekutu China yang juga dikenal tidak mudah diprediksi, Korea Utara, turut memperkuat armada kapal selamnya, kemungkinan dengan dukungan teknologi dari Rusia.

Pyongyang ditengarai saat ini tengah mengembangkan kapal selam berukuran besar yang dilengkapi 5 hingga 10 tabung peluncur vertikal untuk rudal balistik. Selain itu, Korea Utara juga menargetkan untuk memiliki kapal selam serang nuklir (SSN) pada dekade 2030-an.

Dalam skenario konflik besar di kawasan Asia-Pasifik, kapal selam China dipandang sebagai ancaman serius terhadap jalur-jalur pelayaran yang menjadi urat nadi ekonomi negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan. Ancaman inilah yang mendorong peningkatan besar-besaran kemampuan peperangan antikapal selam berbasis udara.

Korea Selatan, yang berhadapan dengan Korea Utara dan dikelilingi laut di kedua sisinya, sangat memahami ancaman yang ditimbulkan kapal selam. Angkatan Laut Korea Selatan baru-baru ini mengoperasikan helikopter peperangan laut Sikorsky MH-60R Seahawk, dengan jumlah armada yang akan berkembang menjadi 12 unit.

Tak lama setelah pengumuman masuknya helikopter tersebut ke dalam dinas operasional, Amerika Serikat juga menyetujui penjualan tambahan 24 MH-60R kepada Seoul. Kehadiran MH-60R melengkapi armada Korea Selatan yang telah memiliki enam pesawat patroli maritim Boeing P-8A Poseidon. Selain itu, Seoul juga berencana menambah enam pesawat patroli maritim lainnya.

Singapura, yang hampir sepenuhnya bergantung pada keamanan jalur perdagangan laut internasional, pada Januari lalu memperoleh persetujuan untuk membeli empat P-8A Poseidon, yang akan secara signifikan memperluas jangkauan operasi antikapal selamnya.

Pada Februari, negara kota tersebut juga mengumumkan akan melengkapi armada P-8A dengan tiga pesawat pengawasan maritim Gulfstream G550 Maritime Surveillance Aircraft.

Selandia Baru juga telah memperoleh persetujuan Amerika Serikat untuk membeli lima MH-60R Seahawk. Helikopter ini merupakan peningkatan kemampuan yang signifikan dibandingkan armada Kaman SH-2G(I) Super Seasprite yang selama ini digunakan.

Sementara Australia telah menerima unit ke-14 sekaligus unit terakhir dari armada P-8A Poseidon. Australia juga telah membangun fasilitas Deep Maintenance and Modification untuk mendukung modernisasi armada tersebut ke konfigurasi terbaru Increment 3 Block 2 milik Angkatan Laut AS, yang secara signifikan meningkatkan kemampuan pesawat dalam mendeteksi dan memburu kapal selam.

Di Jepang, Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) sedang melakukan modernisasi helikopter SH-60K menjadi standar yang lebih canggih, yaitu SH-60L. Sementara itu, pesawat patroli maritim Kawasaki P-1 terus berlatih secara rutin bersama Amerika Serikat dan negara-negara sekutu lainnya.

Militer di kawasan juga mulai melirik potensi pesawat nirawak (UAV) untuk mendukung misi peperangan antikapal selam. Baru-baru ini, General Atomics bersama Angkatan Laut AS berhasil memvalidasi peningkatan kemampuan ASW pada drone MQ-9B SeaGuardian.

Platform ini mampu membawa hingga 80 sonobuoy serta teknologi Multi-static Active Coherent, yang meningkatkan kemampuan pengawasan maritim dan deteksi target bawah laut.

Namun, kemajuan China dalam pengembangan sistem nirawak serta kendaraan bawah laut nirawak (Uncrewed Underwater Vehicles/UUV) menghadirkan tantangan baru bagi peperangan antikapal selam berbasis udara yang selama ini lebih difokuskan untuk menghadapi kapal selam berawak berukuran besar.

Seperti halnya penggunaan rudal udara-ke-udara berharga mahal untuk menembak jatuh drone murah yang dianggap tidak ekonomis, angkatan laut di berbagai negara juga mulai menyadari bahwa penggunaan torpedo udara yang mahal untuk menghancurkan UUV berbiaya rendah bukanlah solusi yang berkelanjutan.

Jika roket BAE Systems APKWS (Advanced Precision Kill Weapon System) terbukti menjadi solusi murah dan efektif untuk menghadapi drone udara, pertanyaan berikutnya adalah: senjata apa yang akan menjadi solusi ekonomis untuk menghadapi ancaman bawah laut berbiaya rendah?

Dalam perkembangan lain, Rolls-Royce memperoleh pendanaan dari Angkatan Udara Amerika Serikat untuk pengembangan mesin jet Orpheus, yang dirancang sebagai penggerak pesawat nirawak generasi mendatang.

Di bidang persenjataan, Amerika Serikat juga telah menyetujui penjualan rudal jelajah AGM-158 Joint Air-to-Surface Standoff Missile Extended Range (JASSM-ER) kepada Denmark untuk dipersenjatai pada armada Lockheed Martin F-35A. Sementara itu, rudal udara-ke-udara MBDA Mica NG berhasil diuji tembak dari pesawat tempur Dassault Rafale yang sedang terbang pada kecepatan supersonik.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply