MYLESAT.COM – Kapten Pnb Deny Taufik Prianda, S.Tr.(Han) dari Skadron Udara 3, Lanud Iswahjudi, Magetan, berhasil menyelesaikan International Flight Safety Officer Course (FSOC) di Kirtland AFB, Albuquerque, New Mexico, Amerika Serikat.
Keberhasilan ini sebagai bentuk komitmen TNI Angkatan Udara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui partisipasi dalam berbagai program pendidikan dan pelatihan bertaraf internasional.
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Air Force Safety Center (AFSEC) ini berlangsung selama 45 hari, mulai 29 April hingga 12 Juni 2026, dan diikuti oleh 17 peserta dari 12 negara.
Flight Safety Officer Course (FSOC) adalah pendidikan yang dirancang untuk menyiapkan perwira keselamatan terbang yang mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keselamatan operasi penerbangan.

Kapten Pnb Deny Taufik Prianda berama siswa lainnya di laboratorium lapangan. Foto: Dispenau
Melalui pendidikan ini, peserta tidak hanya mempelajari aspek teknis penerbangan, tetapi juga dibekali cara berpikir yang sistematis dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan berbagai potensi bahaya.
Mereka diajarkan untuk memahami bahwa kecelakaan penerbangan hampir tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal. Sebaliknya, kecelakaan biasanya merupakan hasil dari rangkaian faktor yang saling berkaitan, mulai dari manusia, peralatan, prosedur, lingkungan, hingga pengambilan keputusan di tingkat organisasi.
Materi utama yang dipelajari berkisar pada human factors, Safety Management System (SMS), investigasi kecelakaan dan insiden penerbangan, serta Safety Program Management.
Peserta dibekali kemampuan melakukan penyelidikan secara profesional, mulai dari pengumpulan bukti, analisis data, wawancara saksi, hingga penyusunan laporan dan rekomendasi keselamatan. Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan memahami mengapa suatu kejadian dapat terjadi dan bagaimana mencegahnya terulang di masa depan.
Karena itu, pelatihan seperti ini tidak melulu berlangsung di dalam kelas. Pada satu waktu, siswa akan dibawa ke simulator crash site (laboratorium lapangan) yang lengkap dengan kondisi pesawat setelah jatuh. Data-data yang ada akan dianalisa untuk memberikan rekomendasi. Seperti kondisi baling-baling, roda pendarat, tail boom, kanopi, dan sebagainya, yang menjadi bahan analisa bagi investigator.
Pendidikan atau kursus seperti ini memungkinkan seorang awak pesawat (pilot), juga memahami aspek keselamatan dan keamanan terbang. Sehingga bila kelak ditugaskan di Kelaikan dan Keselamatan Terbang, ia sudah memiliki bekal yang cukup. Bagi TNI AU diharapkan semakin memperkuat budaya keselamatan terbang dan kerja di lingkungan TNI AU.