Saat Persiapan Tembakan Keempat, Praka Mohammad Sugeng Prajurit Satbravo 90 Korpasgat Tertembak Hingga Gugur

0

MYLESAT.COM – Kisah gugurnya Praka Mohammad Sugeng pernah diangkat mylesat.com pada 6 November 2023 dengan judul “Praka Mohammad Sugeng, Prajurit Terbaik Satbravo 90 yang Namanya Disematkan di Lapangan Tembak Kopasgat”. Prajurit terbaik ini gugur dalam kontak tembak dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Jayapura, Papua pada 30 Mei 2023.

Baca Juga: 

Praka Mohammad Sugeng, Prajurit Terbaik Satbravo 90 yang Namanya Disematkan di Lapangan Tembak Kopasgat

Praka Mohammad Sugeng tercatat sebagai anggota Satgassus Tricakti. Kontak terjadi tak lama setelah pasukan yang diangkut menggunakan helikopter ke sebuah bukti gundul di Kampung Nogoloit, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Satgassus Tricakti di bawah kendali Koopssus TNI.

Dikutip dari buku “35 Tahun Satbravo 90 Korpasgat Spesialis Anti Lawan Bajak Udara” (2025), kisah ini diungkap dengan lebih lengkap dan heroik.

Cover buku “35 Tahun Satbravo 90 Korpasgat Spesialis Anti Lawan Bajak Udara”. Foto: beny adrian

Letda Pas Hadi Mulyono yang saat itu menjadi Dantim, menuturkan awal kejadian setelah mereka mendapat perintah dari Dansatgas untuk melaksanakan penyerbuan di wilayah Bukit Cakra. Helikopter berangkat sekitar pukul 09.00 dari Timika dan 45 menit kemudian tiba di Bukit Cakra. Dukungan logistik diturunkan beserta pasukan.

Satu jam setelah mendarat dan menunggu rekan yang turun mengambil dukungan logistik yang jatuh ke jurang, seluruh pasukan standby sambil memasang pengamanan. Tak lama kemudian rekan mereka yang mengambil logistik kembali dan pasukan persiapan ke bukit sebelah. Di saat itulah terjadi kontak tembak.

Satu tembakan mengenai Dantim Letda Inf Aviadi Rahmat Khatamsyah Putra saat sedang berdiri yang membuatnya gugur. Tembakan kedua mengenai Wadantim Candrasa. Karena tembakan berawal dari bawah dan bukit yang dikuasai gundul, pasukan berlindung di lereng sambil mengarahkan anggota yang menyeberangi lereng sebelah.

Di saat itu masih terjadi kontak dan karena posisi senjata ke atas (posisi berlindung di lereng), pasukan tidak bisa membalas tembakan. Praka Sugeng yang saat itu posisinya sedikit di bawah dan satu-satunya yang membawa GLM, oleh Letda Hadi Mulyono diperintahkan naik untuk memberikan tembakan balasan.

Posisi mereka saat itu bersaf menghadap ke atas yang dimulai dari kiri Praka Sugeng, rekan dari Kopassus, dan Letda Hadi.

Praka Sugeng segera merapat. Senjata disiapkan dan amunisi dimasukkan ke peluncur, Praka Sugeng siap mengokang untuk mengirimkan tembakan. Tembakan balasan dilakukan Praka Sugeng disertai lontaran granat dari GLM.

Namun pada saat mempersiapkan tembakan keempat, sebuah tembakan dari arah kiri mengenai Praka Sugeng tepat di bagian helm. Keberanian Praka Sugeng menahan gerakan musuh dibayar mahal dengan nyawanya. “Saat terkena tembakan almarhum langsung gugur,” ujar Letda Hadi.

Melihat situasi yang tidak kondusif, Hadi langsung meminta bantuan ke Timika untuk evakuasi karena dua rekan lainnya sudah lebih dulu tertembak. Karena tembakan belum berhenti maka evakuasi tidak bisa langsung dilakukan.

Menjelang pukul 14.00, dua helikopter Bell-412 Penerbad (Penerbangan Angkatan Darat) lepas landas dari Timika. Setibanya di lokasi, satu heli melakukan straffing sebagai air cover dan escort untuk mencegah serangan susulan yang dapat mengganggu proses evakuasi.

Pada pukul 15.15, di bawah bayangan tembakan, Bell-412 bisa tiba di titik pendaratan untuk mengevakuasi dua personel yang gugur dan dua personel luka tembak. Dantim Chandraca-3 Letda Inf Aviadi dinyatakan gugur oleh dokter saat di heli.

Praka Mohammad Sugeng (paling kanan) saat latihan free fall. Foto: Satbravo 90

Pada pukul 16.15, sisa personel Chandraca-3 dan Tri Cakti-7 beserta 10 personel perbantuan, setelah mengecek dan mengamankan perlengkapan kemudian melanjutkan pergerakan menuju Check Point 3 (CP-3).

Menurut Letda Hadi, kejadian ini sekaligus menjadi catatan dalam sejarah Satgas Tri Cakti. “Kita orang terakhir yang datang dan kontak tembak pertama. Makanya tim kita disebut ‘Sejarah Tri Cakti’, karena kita Satgas Tri Cakti pertama dan terakhir. Tujuan awalnya pembebasan sandera Capt. Philips (pilot Susi Air) namun beralih tugas menjadi Satgas Evakuasi,” kata Letda Hadi.

Saat itu SatgasTri Cakti-7 membawa persenjataan berupa senapan HK416 kaliber 5,56mm, pelontar granat (GLM), sniper, dan granat nanas. Anggota Satbravo yang terlibat dalam Satgas saat itu adalah Letda Hadi Mulyono, Sersan Tanjung, Sersan Gede, Kopda Riza Saiful, dan Praka Sugeng.

Praka Mohammad Sugeng berasal dari Detasemen 902 Aksis Khusus (Aksus) Satbravo 90 Korpasgat. Pemegang NRP 542985 ini lahir di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada 5 Mei 1993 dari pasangan Sujarwo dan Siti Muawanah. Dari pernikahananya dengan Anisa Nofiana pada 13 Maret 2021, almarhum dikaruniai seorang putra.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Jombang, Praka Mohammad Sugeng memutuskan menjadi prajurit TNI AU. Ia dilantik menjadi prajurit pada 2014.

Setelah itu secara bertahap menjalani sejumlah pendidikan untuk membentuk jati dirinya sebagai prajurit pasukan khusus TNI AU.

Di mulai dari Dikmata A-66, Sarta Paskhas A-43, Para Dasar A-176, Pendidikan Komando A-39, Pendidikan Kontra Teror Bravo A-12, Senban Lintas Datar, Terjun Bebas Tempur, Komunikasi dan Elektronik, serta Susjurlata Paskhas A-50.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply