Selamat Jalan Peltu (Pur) Rabino, Penembak Mahir Kopassus saat Operasi Woyla di Bangkok

0

MYLESAT.COM – Keluarga besar Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berduka. Salah seorang putra terbaiknya yang sudah purnawirawan, yaitu Peltu (Pur) Rabino, meninggal pada 19 Februari 2021 pukul 07.30 Wib di Perumahan Kopassus Kedayu, Tapos, Depok, Jawa Barat. Menurut informasi, penembak mahir Grup 1 Kopassus ini meninggal karena serangan jantung.

Salah satu pengabdian terbaik yang pernah dilakukan almarhumn Rabino adalah, ditugaskan sebagai penembak mahir dalam misi pembebasan pesawat DC-9 Woyla Garuda Indonesia yang dibajak pada 28 Maret 1981 di Bangkok.

Peristiwa ini kemudian menjadi dasar pembentukan satuan khusus Sat-81 Gultor Kopassus, dimana Rabino bergabung di satuan elite ini

Baca Juga: 

Almarhum termasuk salah satu dari 30 prajurit Kopassus yang menjadi tim inti pembebasan sandera tersebut.

Almarhum wafat dalam usia 73 tahun dan meninggalkan istri Siti Monikah dengan empat putra-putri yaitu Murtiningsih, Subekti, Kuntoro, dan Indra Henawan.

Peltu (Pur) Rabino dengan NRP 385689, lahir di Semarang pada 15 Agustur 1948. Rabino mengikuti pendidikan komando Kopassandha (nama sebelum Kopassus) pada Agustus 1966.

“Almarhum satu angkatan dengan saya,” aku Mayor (Pur) Hermintoyo. Sebelum pensiun, Rabino tercatat sebagai bintara tinggi (bati) Kopassus.

Ketika itu Juli 1966, dibuka pendaftaran menjadi prajurit ABRI. Hermintoyo mendaftar di Ajendam VIII Brawidjaja. Mereka yang masuk saat itu dinamakan Tamtama Angkatan 66.

Namun Hermintoyo tidak diterima. Dalam keadaan putus asa, ia menerima angket untuk menjadi prajurit RPKAD.

Angket ini berbunyi kurang lebih seperti ini: “Berhubung lamaran saudara masuk Bintara tidak diterima, saudara dimasukkan ke Tamtama RPKAD”.

September 1966, calon prajurit muda RPKAD ini mengikuti seleksi di Bandung. Lagi-lagi Hermintoyo kecewa, tidak diterima karena gagal melewati satu tahap seleksi yaitu renang.

Ia kemudian ditawari mengikuti pendidikan tamtama di Kodam VI Siliwangi. Sementara Rabino lolos dan mengikuti pendidikan komando prajurit Kopassandha.

Peltu (Pur) Rabino dengan Bintang Sakti di dada. Foto: Dok. mylesat.com

Terhitung 1 Februari 1967, Hermintoyo dilantik menjadi anggota ABRI dan memperoleh pangkat prajurit dua (Prada). Kemudian ia menjadi anggota organik di Brigif 12 Raider/ Guntur di Cianjur.

Hermintoyo akhirnya berkesempatan menjadi prajurit baret merah setelah penugasan di Kalimantan Barat. Ia bergabung dengan Kopassandha pada Juli 1971.

Menurut Hermintoyo, Rabino adalah pribadi yang supel dan sedikit santai. Saat Operasi Seroja, Hermintoyo diterjunkan bersama Nanggala V pada 7 Desember 1975 di Dili. “Saya tidak tahu almarhum, karena beliau di Kartosuro, kemungkinan ikut Tim Susi atau Umi,” ungkapnya.

Dari banyak pengalaman operasi itu, Peltu (Pur) Rabino dianugerahi tanda Jasa tertinggi yaitu Bintang Sakti. Selain juga menerima Bintang Kartika Eka Paksi Nararya dan Satya Lencana Kesetiaan 8, 16, dan 24 tahun.

Almarhum dimakamkan TPU Mohdar Tapos tanpa upacara militer.

Menurut rekan-rekan Hermintoyo di WAG purnawirawan Kopassus, sesuatu yang langka di zaman sekarang masih ada yang tidak butuh upacara militer dan dimakamkan di taman makam pahlawan (TMP).

Padahal pemegang Bintang Sakti berhak dimakamkan di TMP.

“Saya bangga terhadap almarhum Rabino, penembak mahir yang pernah saya miliki di Denpur 13 Grup 1 Parako. Terimakasih kepada keluarga yang dengan rela hati memutuskan memakamkan di TPU Mohdar Tapos,” tulis Kolonel (Pur) Frase Andaria, komandannya semasa berdinas.

Rekannya sesama penembak mahir di Satuan 81, yaitu Peltu (Pur) Suwondo turut mendoakan yang terbaik untuk rekannya Rabino.

Selamat jalan Peltu (Pur) Rabino. Pengabdianmu telah selesai, Ibu Pertiwi menerima mu dengan senyum.

Old soldiers never die, they just fade away.

Share.

About Author

Leave A Reply