Kilas Balik Kehadiran A400M Atlas di Indonesia, Ternyata Sudah Mampir Sejak Oktober 2011

0

MYLESAT.COM – Dua pesawat tentu tidak cukup. Karena itu, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyetujui LoI (Letter of Intent) untuk pembelian empat Airbus A400M Atlas tambahan untuk masa mendatang.

Baca Juga: 

Diberitakan sebelumnya bahwa TNI AU dipastikan akan menjadi operator kedua pesawat angkut Airbus A400M Atlas di kawasan Asia Tenggara. Penantian yang tidak sia-sia bagi Airbus, setelah beberapa kali singgah di Indonesia untuk mempromosikan A400M.

A400M Atlas milik AU Inggris di Lanud Halim Perdanakusuma pada 12 November 2019. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Airbus sendiri sudah memperkenalkan A400M secara langsung di Indonesia sejak 2011. Butuh waktu 10 tahun bagi Airbus untuk bersabar hingga akhirnya keputusan membeli diperoleh

Dalam catatan mylesat.com, sudah beberapa kali memang A400M mendarat khususnya di Lanud Halim Perdanakusuma.

Untuk kesekian kalinya terendus langsung pada 22 September 2017. Ketika itu Panglima TUDM Tan Sri Dato Sri Haji Affendi bin Buang beserta rombongan, tiba di Jakarta untuk menghadiri penutupan Latihan Bersama Elang Malindo ke-26 Tahun 2017 di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.

Terlihat A400M dan Rafale Perancis, parkir di Terminal Selatan Halim Perdanakusuma pada Agustus 2018. Perancis mengirim Satgas Pegasus 2018 sebagai bagian dari promosi. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Panglima TUDM mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, untuk kemudian bersama-sama KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto berangkat ke Lanud Adisutjipto di Yogyakarta menggunakan pesawat Boeing B737 TNI AU. Sementara A400M TUDM menunggu di Lanud Halim.

Saat akan kembali ke Kualalumpur dengan pesawat A400M tail number M54-04, Jenderal Affendi secara spontan mengajak KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto untuk melongok ke dalam A400M.

“TNI AU harus memiliki pesawat ini,” ujar Panglima TUDM yang penerbang MiG-29 Fulcrum ini berpromosi kepada Marsekal Tjahjanto Hadi.

Memang Airbus Defence & Space sejak lama menjadikan TNI AU sebagai potential buyer. Tidak heran jika Airbus beberapa kali membawa A400M mendarat di Halim.

Mungkin 2 atau 3 tahun lagi, kedua putra dewa ini yaitu Hercules dan Atlas akan menjadi tulang punggung angkutan udara TNI. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu beberapa kali menyatakan keinginannya untuk membeli A400M. Bahkan pada awal 2017 diberitakan, pemerintah Indonesia dikabarkan telah sepakat membeli lima unit A400M senilai 2 miliar dolar AS atau setara Rp 26 triliun.

“Indonesia berencana membeli pesawat jenis A400 dari Eropa namun jumlahnya tidak banyak. Saat ini kita belum butuh beli dalam jumlah banyak,” ujar Ryamizard Ryacudu kepada Reuters.

A400M Atlas mendarat untuk pertama kalinya di Indonesia pada 4 Oktober 2011. Pesawat singgah beberapa hari di Jakarta untuk mengadakan demonstrasi dan joy flight.

Kedatangan A400M di Indonesia hanya selang dua tahun setelah penerbangan perdananya pada 11 Desember 2009 di Seville. Setahun kemudian, 8 April 2010, pesawat kedua sukses diterbangkan. Berlanjut pada Juli 2010, giliran pesawat ketiga.

KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto dan Panglima TUDM Jenderal Affendi di kokpit A400M TUDM. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Setelah kedatangan pertama di Indonesia tahun 2011, Airbus kembali membawa A400M ke Halim pada 18 April 2012.

Pesawat A400M milik AU Inggris itu dibawa ke Jakarta untuk memeriahkan peresmian kesepakatan kerjasama strategis jangka panjang antara Airbus Military dan PT Dirgantara Indonesia

Lama menghilang, kehadiran Atlas di Lanud Halim Perdanakusuma kembali terlihat pada 24 Agustus 2018.

A400M milik Angkatan Udara Perancis itu mendarat di Terminal Selatan Halim sebagai pesawat pendukung, untuk tiga jet tempur Rafale yang tengah mengadakan tur promosi dunia.

Hanya selang sebulan kemudian, terjadi gempa bumi disusul tsunami di Palu, Sulawesi Tengah pada 29 September 2018. Gempa yang menelan korban jiwa lebih 2.000 ini melahirkan simpati internasional. Bantuan pun berdatangan dari berbagai negara.

Flight Lieutenant Dave Corlett menjelaskan kecanggihan kokpit A400M Atlas milik AU Inggris di Lanud Halim Perdanakusuma pada 12 November 2019. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Malaysia kembali mengirimkan A400M dari Pangkalan Subang. Pesawat ini terlihat di Lanud Halim pada Oktober 2018.

Terakhir pada 12 November 2019, Airbus kembali memboyong A400M ke Halim. Kedatangan pesawat milik Angkatan Udara Inggris ini diliput secara luas oleh media nasional.

Saat itu bereda rumor bahwa Airbus A400M akan dimiliki oleh pihak sipil dengan menggunakan izin usaha angkutan udara (AOC) Pelita Air, namun pesawat akan diawaki oleh personel TNI AU.

Airbus A400M secara resmi menyematkan nama Atlas untuk pesawat angkut turboprop produksinya pada Juli 2021 saat berlangsungnya Farnborough International Airshow.

Wakil KSAU Marsdya TNI Fahru Zaini, melihat A400M Atlas milik AU Inggris di Lanud Halim Perdanakusuma pada 12 November 2019. Foto: beny adrian/ mylesat.com

Pemilihan nama ini disetujui secara akumulasi oleh tujuh negara negara Eropa yang berpartisipasi dalam proyek bersama ini.

Atlas merupakan nama salah satu dewa dalam mitologi Yunani. Atlas memiliki kekuatan besar sehingga dipercaya zaman itu, bumi berada di pundak Atlas.

Baca Juga: 

Jika kontrak pembelian dua pesawat dilanjutkan dengan tambahan empat unit lagi, maka TNI AU akan menjadi operator terbesar A400M di Asia. Selain Indonesia, empat pesawat ini telah dioperasikan oleh AU Malaysia dan dua lagi dipesan oleh Kazakhstan.

A400M Atlas milik AU Inggris di Lanud Halim Perdanakusuma pada 12 November 2019. Foto: beny adrian/ mylesat.com

A400M Atlas mampu lepas landas dengan berat maksimum (MTOW) hingga 141.000 kg. Memang kalah dari  Boeing C-17 Globemaster III yang jauh lebih besar yaitu 265.350 kg. Namun sangat tidak sebanding dengan C-130J Super Hercules yang hanya 74.393 kg.

Dari sini terlihat, Airbus berusaha mengisi ceruk pasar dengan menghadirkan platform yang memiliki kemampuan di antara kedua pendahulunya itu.

Kita tunggu kedatangan Airbus A400M Atlas di tanah air.

Share.

About Author

Being a journalist since 1996 specifically in the field of aviation and military

Leave A Reply